Editor
KOMPAS.com - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan bahwa serangan di Jalur Gaza masih terus berlangsung sepanjang akhir pekan.
Serangan udara, tembakan kapal perang, artileri, hingga tembakan senjata api dilaporkan menghantam kawasan permukiman di berbagai wilayah Gaza.
Di tengah situasi keamanan yang memburuk, krisis bahan bakar juga semakin mengganggu berbagai layanan kemanusiaan.
Baca juga: Tanpa Rudal, Iran Akan Bernasib Sama seperti Gaza
PBB menyatakan kondisi tersebut memperberat upaya penyaluran bantuan bagi warga sipil yang terdampak konflik.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan atau Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA) menyatakan bahwa berbagai insiden serangan terjadi di seluruh kegubernuran di Gaza sepanjang akhir pekan.
Baca juga: AS-Iran Damai, Israel Tetap Ogah Tarik Pasukan dari Lebanon hingga Gaza
Mitra keamanan dan keselamatan PBB melaporkan bahwa serangan terutama terjadi di wilayah sebelah barat dari kawasan yang disebut "Garis Kuning" (Yellow Line).
OCHA mengaku sangat prihatin terhadap laporan tersebut, terutama karena warga sipil termasuk di antara korban yang tewas akibat serangan.
Menurut OCHA, perlintasan Kerem Shalom atau Karem Abu Salem saat ini masih menjadi satu-satunya jalur yang tersedia untuk masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Pos pemeriksaan Israel yang dibangun pada awal Juni di Gaza selatan disebut tidak lagi menyebabkan keterlambatan besar bagi konvoi bantuan yang menuju perlintasan tersebut.
Sepanjang akhir pekan hingga Senin pagi waktu setempat, PBB berhasil mengumpulkan sejumlah pengiriman bantuan melalui perlintasan itu.
Bantuan yang masuk meliputi makanan, selimut, perlengkapan pendidikan, barang hiburan untuk anak-anak, perlengkapan kebersihan, hingga bahan bakar.
Meski demikian, OCHA menyebut para mitra kemanusiaan terus mendesak adanya penambahan titik perlintasan serta pencabutan pembatasan terhadap berbagai barang yang sulit mendapatkan persetujuan untuk masuk ke Gaza.
OCHA menyatakan pasokan bahan bakar di Gaza masih sangat terbatas.
Selain tidak adanya pembebasan pajak pertambahan nilai (PPN) di Israel, mitra kemanusiaan juga sebagian besar bergantung pada satu pemasok dari Mesir yang tidak selalu mampu memenuhi kebutuhan di lapangan.
Di sisi lain, otoritas Israel hanya mengizinkan impor bahan bakar dari Mesir maupun Israel selama jam operasional yang terbatas di perlintasan Kerem Shalom atau Karem Abu Salem.
"Akibatnya, pada pekan kedua Juni, mitra-mitra kemanusiaan di wilayah Gaza terpaksa memprioritaskan alokasi bahan bakar untuk layanan penyelamatan nyawa dan menangguhkannya untuk layanan yang kurang krusial," menurut OCHA.
OCHA juga menyebut bahwa ketika bahan bakar tersedia, generator di lapangan sering kali tidak dapat dioperasikan karena kekurangan oli pelumas.
Di sisi lain, memperoleh persetujuan dari Israel untuk memasukkan kebutuhan tersebut juga dinilai sangat sulit.
Selain di Gaza, OCHA menyatakan tingkat kekerasan di Tepi Barat masih berada pada level yang mengkhawatirkan.
Pada Minggu (21/6/2026), pasukan Israel dilaporkan menembak dan menewaskan seorang anak laki-laki serta seorang pria yang diduga menjadi bagian dari kelompok yang membakar ban dan melemparkan bom molotov ke arah permukiman di Hebron.
Dalam konteks penegakan hukum di Tepi Barat, OCHA menegaskan bahwa penggunaan kekuatan mematikan hanya boleh dilakukan sebagai upaya terakhir. PBB juga menekankan bahwa para pelaku serangan yang melanggar hukum harus dimintai pertanggungjawaban.
OCHA turut memperingatkan adanya berbagai kendala yang terus menghambat akses kemanusiaan dan distribusi bantuan di Tepi Barat, termasuk di Yerusalem Timur.
Selama periode Januari hingga Mei tahun ini, para mitra kemanusiaan mencatat sedikitnya 230 insiden terkait pos pemeriksaan, penutupan jalan, dan berbagai hambatan lainnya.
Kondisi tersebut menyebabkan keterlambatan dalam penyaluran bantuan kemanusiaan dan, dalam sejumlah kasus, memaksa pembatalan misi kemanusiaan.
OCHA juga menyebut pembatasan terhadap Badan Bantuan PBB untuk Pengungsi Palestina di Kawasan Timur Tengah (UNRWA) dan berbagai organisasi nonpemerintah masih berlaku, baik di Gaza maupun Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang