MADINAH, KOMPAS.com - Ketika melangkahkan kaki ke luar dari gerbang timur Masjid Nabawi, jemaah akan dihadapkan pada sebuah area luas. Tempat ini adalah Pemakaman Baqi atau yang disebut Jannatul Baqi.
Bagi peziarah yang sedang singgah di Kota Madinah, jangan melewatkan berkunjung ke kompleks pemakaman tertua dan paling bersejarah ini. Pemakaman ini menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi sekitar 10 ribu sahabat Nabi.
Di sinilah terbaring jasad Khalifah Utsman bin Affan, para syuhada, hingga keluarga terdekat Nabi Muhammad SAW, termasuk putri beliau Fatimah Azzahra dan istri-istri sang Rasul.
Baca juga: Maqam Ibrahim Bukan Makam, Ini Sejarah Batu Jejak Nabi Ibrahim
Berbeda jauh dengan pemakaman modern, pusara di Baqi menampilkan pemandangan yang sangat bersahaja.
Tidak ada nisan megah apalagi pahatan nama yang mencolok, hanya ada gundukan tanah yang ditandai dengan sebongkah batu.
Baca juga: Sensasi Berkuda di Gurun Madinah: Wisata Spiritual Jemaah Indonesia
Bagi yang ingin berkunjung, akses utamanya sangat mudah ditemukan karena berada tepat di dekat Gate 365 Masjid Nabawi. Kendati demikian, otoritas setempat menerapkan regulasi yang sangat disiplin.
Area dalam pemakaman ini hanya boleh dimasuki oleh peziarah laki-laki, sementara jemaah wanita tidak diperkenankan untuk masuk.
Waktu kunjungannya pun dibatasi. Gerbang Baqi tidak terbuka sepanjang hari, melainkan hanya beroperasi pada dua waktu khusus, yaitu sesaat setelah selesainya ibadah salat Subuh dan salat Asar.
Peziarah dilarang membawa atau membentangkan spanduk tulisan apa pun. Selain itu, dilarang berlama-lama berdoa di satu tempat karena mengganggu kelancaran.
Antusiasme jemaah yang datang tampak sangat tinggi. Antrean panjang tak terhindarkan, membuat petugas keamanan (askar) harus bergerak cepat memecah kerumunan.
Saat pengunjung melewati pintu masuk, mereka langsung dipandu ke dalam beberapa kelompok secara sigap. Ada yang diarahkan untuk berbelok ke lajur kanan, ada pula yang ke kiri.
Proses napak tilas di dalam area makam berlangsung cukup singkat, yakni sekitar 30 menit. Selama waktu tersebut, peziarah wajib terus berjalan dan dilarang berhenti atau berdiam diri di satu titik.
Selain mematuhi aturan petugas, ada adab-adab spiritual yang harus dijaga selama berada di Baqi. Ustaz Agususanto, selaku petugas pembimbing ibadah haji Indonesia 2026, mengingatkan peziarah untuk meluruskan niat sejak awal.
Dia mengingatkan bahwa ziarah dilakukan bukan untuk melakukan kesyirikan. "Kita mengambil ibarah atau kebaikan bahwa mengingat mati adalah sesuatu yang disunahkan dianjurkan oleh Rasulullah SAW," ujar Ustaz Agus.
Di dalam area pemakaman, peziarah harus bisa menahan diri, dilarang mengangkat suara tinggi, berteriak, hingga asyik mengambil foto maupun video. "Karena termasuk yang dilarang petugas kemaanan di Baqi," katanya.
Ustaz Agus pun memberikan anjuran praktis tentang bagaimana sebaiknya jemaah memaksimalkan ziarah mereka di tengah keterbatasan waktu dan ketatnya aturan.
"Jadi kita saat masuk berjalan pelan-pelan, sambil terus membaca shalawat kepada Rasulullah, dan membacakan allahumaghfirlahu warkhamhu wa'afiihi wa'fuanhu sambil terus berjalan mengitari Baqi dan keluar dengan tertib, tidak perlu berdesak-desakan, dan tidak ada foto grup," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang