Editor
KOMPAS.com - Peluang Kabupaten Cirebon menjadi tuan rumah Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 semakin terbuka setelah tim Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melakukan survei terhadap tiga pondok pesantren yang diusulkan sebagai lokasi penyelenggaraan.
Dari hasil peninjauan sementara, Pondok Pesantren Buntet dinilai telah memenuhi sejumlah persyaratan penting untuk mendukung pelaksanaan forum tertinggi organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.
Meski demikian, PBNU menegaskan bahwa penilaian tersebut belum menjadi keputusan final karena seluruh hasil survei masih akan dibahas oleh panitia pusat sebelum menetapkan tuan rumah Muktamar NU ke-35.
Baca juga: 32 PWNU Dukung Jakarta Jadi Lokasi Muktamar NU ke-35, Ini Alasannya
Survei ini menjadi bagian dari proses verifikasi PBNU untuk memastikan kesiapan lokasi dari berbagai aspek, mulai dari fasilitas persidangan, akses transportasi, akomodasi, hingga mobilitas ribuan peserta yang akan menghadiri muktamar.
Tim Steering Committee (SC) dan Organizing Committee (OC) PBNU melakukan survei lapangan ke tiga pesantren di Kabupaten Cirebon, yakni Pondok Pesantren Buntet, Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin, dan Pondok Pesantren Kempek pada Sabtu (4/7/2026).
Baca juga: Jelang Muktamar NU 2026, Gus Rijal Klaim Mayoritas PWNU Ingin Perubahan Total Kepengurusan PBNU
Melalui keterangan tertulis yang disampaikan Minggu (5/7/2026), Katib Syuriyah PBNU, KH Abu Yazid Al-Busthami menjelaskan bahwa survei dilakukan untuk melihat secara langsung kesiapan masing-masing lokasi.
Peninjauan meliputi fasilitas persidangan, akses transportasi, akomodasi, hingga kelancaran mobilitas peserta dan tamu yang akan hadir dalam Muktamar NU ke-35.
Menurutnya, agenda lima tahunan NU tersebut diperkirakan akan diikuti sekitar 5.000 hingga 6.000 peserta resmi.
Selain peserta resmi, ribuan warga Nahdliyin dari berbagai daerah juga diperkirakan akan memadati lokasi penyelenggaraan.
"Karena itu, kami melakukan survei untuk memastikan kesiapan lokasi, baik dari sisi transportasi, akomodasi, maupun akses pendukung lainnya," ujar Abu Yazid.
Abu Yazid menegaskan bahwa hasil survei belum menjadi dasar penetapan lokasi penyelenggaraan Muktamar NU ke-35.
Seluruh hasil peninjauan akan disampaikan kepada panitia pusat untuk dibahas lebih lanjut sebelum diputuskan lokasi yang akan menjadi tuan rumah.
"Kami tidak menentukan satu lokasi. Di Cirebon ada tiga pesantren yang disurvei. Tugas kami menyampaikan hasil survei apa adanya," ucapnya.
Meski demikian, berdasarkan hasil peninjauan sementara, Pondok Pesantren Buntet dinilai telah memenuhi sejumlah persyaratan yang dibutuhkan.
"Untuk sementara Pondok Pesantren Buntet ini cukup memenuhi persyaratan untuk menjadi tuan rumah Muktamar," jelas dia.
Abu Yazid kembali mengingatkan bahwa keputusan akhir tetap akan ditentukan melalui rapat tim SC dan OC PBNU setelah seluruh hasil survei dievaluasi secara menyeluruh.
Saat melakukan survei di Pondok Pesantren Buntet, tim PBNU meninjau sejumlah fasilitas yang diproyeksikan mendukung pelaksanaan kegiatan berskala nasional tersebut.
Salah satu fasilitas yang menjadi perhatian ialah gedung berkapasitas besar yang dapat digunakan sebagai lokasi sidang pleno.
"Untuk pelaksanaan pleno sudah tersedia gedung yang cukup besar. Jika diperlukan kapasitas lebih, tersedia lapangan yang telah beberapa kali digunakan untuk kegiatan besar, bahkan pernah menjadi lokasi kunjungan Wakil Presiden," katanya.
Selain gedung sidang, tim juga melihat berbagai sarana lain yang dapat menunjang kebutuhan penyelenggaraan Muktamar NU ke-35.
Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Cirebon, KH Wawan Arwani, menyatakan seluruh elemen NU di Kabupaten Cirebon siap apabila dipercaya menjadi tuan rumah Muktamar NU ke-35.
Menurutnya, Kabupaten Cirebon memiliki tiga pesantren yang dapat menjadi alternatif lokasi penyelenggaraan.
"Kami PCNU Kabupaten Cirebon siap apabila Muktamar dilaksanakan di Kabupaten Cirebon. Di sini ada tiga pesantren yang menjadi alternatif lokasi, yakni Buntet, Kempek, dan Babakan Ciwaringin," ujar Wawan.
Ia mengatakan seluruh unsur NU di Kabupaten Cirebon siap bergotong royong demi menyukseskan agenda lima tahunan tersebut.
"Insya Allah semuanya siap. Untuk NU, apa yang tidak siap," ucapnya.
Optimisme juga disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Buntet, KH Fahad Ahmad Sadat.
Menurut Fahad, hasil kunjungan tim survei PBNU memberikan sinyal positif terhadap kesiapan pesantren yang dipimpinnya.
Ia menjelaskan tim PBNU telah meninjau berbagai fasilitas penting, mulai dari masjid, ruang rapat, Graha Mbah Muqayyim, hingga sejumlah area yang diproyeksikan menjadi lokasi sidang pleno, pembukaan, dan akomodasi peserta.
"Alhamdulillah, hasil kunjungan tim survei PBNU memberikan penilaian positif terhadap kesiapan kami. Secara sarana dan prasarana serta dukungan pesantren, Insya Allah kami siap menjadi salah satu lokasi penyelenggaraan Muktamar," jelas Fahad.
Survei di tiga pesantren tersebut merupakan bagian dari proses verifikasi PBNU sebelum menetapkan lokasi penyelenggaraan Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35.
Keputusan akhir mengenai tuan rumah akan ditentukan oleh panitia pusat berdasarkan hasil evaluasi menyeluruh terhadap seluruh aspek yang telah disurvei.
Adapun survei dipimpin langsung oleh Katib Syuriyah PBNU KH Abu Yazid Al-Busthami bersama Ketua PBNU KH Ahmad Fahrurrozi, Wakil Sekretaris Jenderal PBNU H Amir Ma'ruf, Bendahara PBNU H Nuruzzaman, serta staf PBNU Hj Qonitatul Ulya.
Kegiatan tersebut turut didampingi Ketua PWNU Jawa Barat KH Juhadi Muhammad dan Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Cirebon KH Wawan Arwani.
Artikel ini telah tayang di TribunCirebon.com dengan judul "PBNU Survei Tiga Pesantren di Cirebon, Buntet Pesantren Kandidat Kuat Tuan Rumah Muktamar NU".
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang