Editor
KOMPAS.com – Praktik pesugihan masih menjadi fenomena yang dipercaya sebagian masyarakat Indonesia. Beragam cerita tentang Nyi Blorong, tuyul, hingga tumbal manusia kerap muncul dan dipercaya sebagai jalan pintas untuk memperoleh kekayaan.
Namun, Pengasuh Lembaga Pengembangan Dakwah Al Bahjah, Buya Yahya, menegaskan bahwa seluruh bentuk pesugihan yang melibatkan jin, setan, atau makhluk gaib merupakan perbuatan yang diharamkan dalam Islam karena termasuk kesyirikan.
Dalam salah satu kajian yang diunggah di kanal Al Bahjah TV, Buya Yahya menjelaskan bahwa seorang Muslim tidak boleh menggantungkan harapan rezekinya kepada selain Allah SWT.
"Itu adalah kesyirikan. Hukumnya haram dan masuk kepada syirik," tegas Buya Yahya saat menjawab pertanyaan jamaah mengenai praktik pesugihan.
Baca juga: Benarkah Setan Tertawa Saat Kita Menguap? Ini Penjelasan Ulama & Hadis
Menurut Buya Yahya, Islam mengajarkan bahwa seluruh rezeki berasal dari Allah SWT. Karena itu, mencari kekayaan melalui bantuan jin, setan, atau ritual tertentu merupakan bentuk penyimpangan akidah.
Ia mencontohkan masih adanya masyarakat yang percaya seseorang bisa menjadi kaya karena memelihara Nyi Blorong, tuyul, atau melakukan perjanjian dengan makhluk gaib.
Padahal, menurutnya, keyakinan tersebut tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam.
"Mana ada Nyi Blorong seperti yang diceritakan orang. Itu khayalan yang berkembang di tengah masyarakat," ujarnya.
Buya Yahya menilai cerita-cerita mistis semacam itu justru menjauhkan seseorang dari tauhid karena membuat manusia menggantungkan harapan kepada selain Allah SWT.
Salah satu pertanyaan yang dijawab Buya Yahya berasal dari seorang jamaah yang mengaku kakaknya diyakini menjadi tumbal pesugihan tetangganya.
Menanggapi hal tersebut, Buya Yahya meminta masyarakat tidak mudah mempercayai isu bahwa seseorang meninggal karena dijadikan tumbal pesugihan.
Menurutnya, apabila benar ada seseorang yang dibunuh demi kepentingan tertentu, maka korban tersebut adalah orang yang dizalimi, bukan budak setan sebagaimana banyak digambarkan dalam cerita horor.
"Kalau memang ada orang menjadikan orang lain tumbal, yang berdosa adalah pelakunya. Korban yang dizalimi tidak menjadi budak iblis," jelasnya.
Ia menambahkan, orang yang wafat dalam keadaan beriman akan mendapatkan balasan sesuai amalnya di sisi Allah SWT, bukan diperbudak oleh makhluk gaib.
Buya Yahya juga menyoroti kebiasaan sebagian masyarakat yang mudah menuduh tetangganya memelihara tuyul atau Nyi Blorong ketika melihat seseorang mendadak memiliki kekayaan.
Menurutnya, tuduhan seperti itu sering kali berawal dari rasa iri dan dengki.
"Karena tidak senang melihat tetangganya kaya, langsung dikatakan punya tuyul atau punya Nyi Blorong. Itu berasal dari hasad," katanya.
Ia mengingatkan bahwa menuduh seseorang tanpa bukti merupakan dosa dan termasuk prasangka buruk yang dilarang dalam Islam.
Buya Yahya menegaskan bahwa Islam mengakui keberadaan jin sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an. Namun, keberadaan jin tidak boleh dijadikan alasan untuk mempercayai berbagai praktik pesugihan ataupun ritual mencari kekayaan.
Menurutnya, setan justru berusaha menyesatkan manusia dengan menanamkan keyakinan bahwa kekayaan dapat diperoleh melalui jalan-jalan mistis.
"Kalau Anda ikut mempercayai cerita-cerita seperti itu, Anda sedang masuk ke wilayah permainan iblis," ujarnya.
Buya Yahya mengingatkan bahwa Islam telah mengajarkan jalan yang jelas dalam memperoleh rezeki, yaitu melalui kerja keras, usaha yang halal, doa, dan tawakal kepada Allah SWT.
Jalan pintas berupa pesugihan tidak hanya bertentangan dengan syariat, tetapi juga dapat merusak akidah seseorang.
Karena itu, ia mengajak umat Islam untuk memperkuat keimanan dan tidak mudah percaya pada berbagai mitos yang berkembang di masyarakat.
Baca juga: Mengenal Nama-nama Setan Beserta Tugasnya
"Jangan mudah menuduh orang punya pesugihan, tuyul, atau Nyi Blorong. Itu hanya melahirkan prasangka buruk. Pegang teguh iman dan yakinlah bahwa rezeki datang dari Allah SWT," pesan Buya Yahya.
Bagi seorang Muslim, rezeki bukan hanya diukur dari banyaknya harta, tetapi juga keberkahan yang Allah SWT berikan. Sebab, harta yang diperoleh melalui jalan halal akan membawa ketenangan, sedangkan kekayaan yang dicari melalui kesyirikan justru menjadi sebab kerugian di dunia dan akhirat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang