Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Benarkah Bulan Safar Membawa Malapetaka? Ini Penjelasan Islam dan Dalil Haditsnya

Kompas.com, 24 Juli 2026, 20:12 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber Antara

KOMPAS.com - Bulan Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah yang kerap dikaitkan dengan berbagai mitos, termasuk anggapan sebagai bulan pembawa kesialan atau malapetaka.

Keyakinan tersebut masih bertahan di sebagian masyarakat dan memengaruhi pandangan terhadap aktivitas tertentu, seperti menikah, bepergian, hingga memulai usaha.

Padahal, Islam memiliki penjelasan yang tegas mengenai mitos bulan Safar beserta dalil yang menjadi landasannya.

Baca juga: Benarkah Bulan Safar Membawa Kesialan? Ini Penjelasan Hadits dan Ulama

Pemahaman yang benar penting agar umat Islam tidak terjebak pada keyakinan yang bertentangan dengan akidah.

Asal-usul Mitos Bulan Safar

Anggapan bahwa bulan Safar membawa malapetaka berasal dari tradisi masyarakat Arab pada masa jahiliyah.

Baca juga: Khutbah Jumat 24 Juli 2026: Bulan Safar, Bulan Sial bagi yang Maksiat, Berkah bagi yang Taat

Saat itu, mereka meyakini Safar sebagai bulan yang identik dengan kesialan, kemalangan, dan berbagai musibah.

Keyakinan tersebut kemudian diwariskan secara turun-temurun hingga memengaruhi sebagian masyarakat Muslim.

Dampaknya, muncul anggapan bahwa bulan Safar bukan waktu yang baik untuk menikah, melakukan perjalanan jauh, atau memulai usaha, meskipun tidak ada dalil sahih yang mendukung kepercayaan tersebut.

Di Indonesia, khususnya pada masyarakat yang dipengaruhi tradisi Jawa, berkembang pula kepercayaan tentang Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan, yakni Rabu terakhir di bulan Safar yang diyakini sebagai hari turunnya berbagai bala.

Kepercayaan itu mendorong sebagian masyarakat melaksanakan amalan tertentu, seperti doa bersama, dzikir, atau sholat sunnah sebagai bentuk ikhtiar yang ditujukan kepada Allah SWT.

Benarkah Bulan Safar Membawa Malapetaka?

Dalam ajaran Islam, bulan Safar bukanlah bulan pembawa kesialan. Anggapan bahwa Safar identik dengan musibah tidak memiliki dasar dalam Al-Qur'an maupun hadis sahih.

Rasulullah SAW justru datang untuk menghapus berbagai keyakinan yang berasal dari tradisi jahiliyah, termasuk anggapan bahwa bulan tertentu membawa sial.

Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah SWT, bukan karena pengaruh waktu, bulan, atau pertanda tertentu.

Memahami ajaran ini akan memperkuat keyakinan seorang Muslim agar tidak mudah terpengaruh oleh mitos yang dapat merusak kemurnian akidah.

Hadits tentang Bulan Safar

Dalam salah satu hadis riwayat Jabir RA, Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا عَدْوَى وَلَا غُولَ وَلَا صَفَرَ

Artinya: “Dari Jabir, Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidak ada penyakit yang menular tanpa izin Allah, tidak ada hantu bergentayangan, dan tidak ada shafar (penyakit perut) yang terjadi dengan sendirinya.’” (HR Muslim, no. 4120)

Dalam hadis lain yang juga masyhur, Rasulullah SAW bersabda:

"La ‘adwa, wa la thiyarata, wa la hammah, wa la shafara."

Artinya: "Tidak ada penularan penyakit tanpa izin Allah, tidak ada thiyarah (kesialan karena pertanda buruk), tidak ada hamah (burung pembawa sial), dan tidak ada bulan Safar." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut menegaskan bahwa Rasulullah SAW menolak keyakinan yang mengaitkan bulan Safar dengan kesialan.

Islam menghapus berbagai bentuk takhayul yang berkembang pada masa jahiliyah dan mengajarkan agar umat hanya bergantung kepada Allah SWT.

Mengapa Mitos Safar Masih Bertahan?

Dalam catatan sejarah, masyarakat Arab sebelum Islam tidak hanya menganggap Safar sebagai bulan sial, tetapi juga meyakini bahwa Safar merupakan penyakit yang menyerang bagian perut.

Mengutip penjelasan dalam buku Mengenal Nama Bulan dan Kalender Hijriah, masyarakat Arab jahiliyah juga percaya bahwa Safar adalah angin panas yang masuk ke dalam tubuh dan menyebabkan penyakit.

Setelah Islam datang, keyakinan tersebut diluruskan melalui sabda Rasulullah SAW yang menegaskan bahwa segala penyakit maupun musibah hanya terjadi atas izin Allah SWT.

Meski demikian, hingga kini masih ada sebagian masyarakat yang memandang bulan Safar sebagai waktu yang kurang baik untuk melakukan aktivitas tertentu.

Pandangan tersebut bertentangan dengan ajaran Nabi SAW karena mengaitkan suatu waktu dengan kesialan tanpa dasar syariat.

Sikap Muslim dalam Menyikapi Bulan Safar

Islam mengajarkan agar setiap Muslim tidak menjadikan bulan Safar sebagai alasan untuk merasa takut atau menunda berbagai urusan karena khawatir tertimpa musibah.

Seluruh waktu dalam Islam pada hakikatnya adalah ciptaan Allah SWT dan tidak memiliki kekuatan membawa manfaat maupun mudarat dengan sendirinya.

Karena itu, seorang Muslim dianjurkan memperkuat tawakal, memperbanyak doa, dan tetap berikhtiar dalam menjalani kehidupan tanpa dipengaruhi mitos yang tidak memiliki landasan syariat.

Dengan memahami hadis-hadis tentang bulan Safar secara benar, umat Islam dapat menjaga kemurnian akidah dan terhindar dari keyakinan yang mengarah pada takhayul maupun syirik.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Benarkah Bulan Safar Membawa Malapetaka? Ini Penjelasan Islam dan Dalil Haditsnya
Benarkah Bulan Safar Membawa Malapetaka? Ini Penjelasan Islam dan Dalil Haditsnya
Aktual
Hukum Minum Alkohol Sedikit dalam Islam, Apakah Tetap Haram Meski Tidak Mabuk?
Hukum Minum Alkohol Sedikit dalam Islam, Apakah Tetap Haram Meski Tidak Mabuk?
Aktual
Apa Itu Istidraj? Pengertian, Dalil, Ciri-Ciri, dan Cara Menghindarinya dalam Islam
Apa Itu Istidraj? Pengertian, Dalil, Ciri-Ciri, dan Cara Menghindarinya dalam Islam
Aktual
Bacaan La Haula Wala Quwwata Illa Billah: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Bacaan La Haula Wala Quwwata Illa Billah: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
Bacaan Doa Kamilin Setelah Sholat Tarawih: Arab, Latin, Arti, dan Keutamaannya
Bacaan Doa Kamilin Setelah Sholat Tarawih: Arab, Latin, Arti, dan Keutamaannya
Doa dan Niat
Presiden Dijadwalkan Buka Kongres Umat Islam Indonesia VIII Hari Ini, MUI Himpun 87 Ormas Bahas Masa Depan Bangsa
Presiden Dijadwalkan Buka Kongres Umat Islam Indonesia VIII Hari Ini, MUI Himpun 87 Ormas Bahas Masa Depan Bangsa
Aktual
Wasekjen PBNU soal Kuota Hangus: Jangan Ambil Hak Pelanggan Secara Batil
Wasekjen PBNU soal Kuota Hangus: Jangan Ambil Hak Pelanggan Secara Batil
Aktual
Menlu RI dan Negara Muslim Kecam Keras Eskalasi Israel di Al-Aqsa
Menlu RI dan Negara Muslim Kecam Keras Eskalasi Israel di Al-Aqsa
Aktual
Khutbah Jumat 24 Juli 2026: Memuliakan Anak dalam Islam
Khutbah Jumat 24 Juli 2026: Memuliakan Anak dalam Islam
Aktual
Danantara Syariah dan Pentingnya Ekonomi Berjamaah
Danantara Syariah dan Pentingnya Ekonomi Berjamaah
Aktual
Khutbah Jumat 24 Juli 2026: Jangan Percaya Bulan Safar Membawa Sial, Gantungkan Takdir Hanya kepada Allah SWT
Khutbah Jumat 24 Juli 2026: Jangan Percaya Bulan Safar Membawa Sial, Gantungkan Takdir Hanya kepada Allah SWT
Aktual
Hukum Membelakangi Mimbar Saat Khutbah Jumat, Apakah Shalat Tetap Sah?
Hukum Membelakangi Mimbar Saat Khutbah Jumat, Apakah Shalat Tetap Sah?
Aktual
Hukum Tajwid Lengkap: Jenis, Pengertian, dan Contoh Bacaan
Hukum Tajwid Lengkap: Jenis, Pengertian, dan Contoh Bacaan
Aktual
Bolehkah Azan dan Iqamah Dilakukan Orang yang Berbeda? Ini Penjelasan Ulama
Bolehkah Azan dan Iqamah Dilakukan Orang yang Berbeda? Ini Penjelasan Ulama
Aktual
Khutbah Jumat 24 Juli 2026: Amalan Rutin untuk Lebih Dekat dengan Rasulullah SAW
Khutbah Jumat 24 Juli 2026: Amalan Rutin untuk Lebih Dekat dengan Rasulullah SAW
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar