Editor
KOMPAS.com - Bulan Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah yang kerap dikaitkan dengan berbagai mitos, termasuk anggapan sebagai bulan pembawa kesialan atau malapetaka.
Keyakinan tersebut masih bertahan di sebagian masyarakat dan memengaruhi pandangan terhadap aktivitas tertentu, seperti menikah, bepergian, hingga memulai usaha.
Padahal, Islam memiliki penjelasan yang tegas mengenai mitos bulan Safar beserta dalil yang menjadi landasannya.
Baca juga: Benarkah Bulan Safar Membawa Kesialan? Ini Penjelasan Hadits dan Ulama
Pemahaman yang benar penting agar umat Islam tidak terjebak pada keyakinan yang bertentangan dengan akidah.
Anggapan bahwa bulan Safar membawa malapetaka berasal dari tradisi masyarakat Arab pada masa jahiliyah.
Baca juga: Khutbah Jumat 24 Juli 2026: Bulan Safar, Bulan Sial bagi yang Maksiat, Berkah bagi yang Taat
Saat itu, mereka meyakini Safar sebagai bulan yang identik dengan kesialan, kemalangan, dan berbagai musibah.
Keyakinan tersebut kemudian diwariskan secara turun-temurun hingga memengaruhi sebagian masyarakat Muslim.
Dampaknya, muncul anggapan bahwa bulan Safar bukan waktu yang baik untuk menikah, melakukan perjalanan jauh, atau memulai usaha, meskipun tidak ada dalil sahih yang mendukung kepercayaan tersebut.
Di Indonesia, khususnya pada masyarakat yang dipengaruhi tradisi Jawa, berkembang pula kepercayaan tentang Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan, yakni Rabu terakhir di bulan Safar yang diyakini sebagai hari turunnya berbagai bala.
Kepercayaan itu mendorong sebagian masyarakat melaksanakan amalan tertentu, seperti doa bersama, dzikir, atau sholat sunnah sebagai bentuk ikhtiar yang ditujukan kepada Allah SWT.
Dalam ajaran Islam, bulan Safar bukanlah bulan pembawa kesialan. Anggapan bahwa Safar identik dengan musibah tidak memiliki dasar dalam Al-Qur'an maupun hadis sahih.
Rasulullah SAW justru datang untuk menghapus berbagai keyakinan yang berasal dari tradisi jahiliyah, termasuk anggapan bahwa bulan tertentu membawa sial.
Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah SWT, bukan karena pengaruh waktu, bulan, atau pertanda tertentu.
Memahami ajaran ini akan memperkuat keyakinan seorang Muslim agar tidak mudah terpengaruh oleh mitos yang dapat merusak kemurnian akidah.
Dalam salah satu hadis riwayat Jabir RA, Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا عَدْوَى وَلَا غُولَ وَلَا صَفَرَ
Artinya: “Dari Jabir, Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidak ada penyakit yang menular tanpa izin Allah, tidak ada hantu bergentayangan, dan tidak ada shafar (penyakit perut) yang terjadi dengan sendirinya.’” (HR Muslim, no. 4120)
Dalam hadis lain yang juga masyhur, Rasulullah SAW bersabda:
"La ‘adwa, wa la thiyarata, wa la hammah, wa la shafara."
Artinya: "Tidak ada penularan penyakit tanpa izin Allah, tidak ada thiyarah (kesialan karena pertanda buruk), tidak ada hamah (burung pembawa sial), dan tidak ada bulan Safar." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis tersebut menegaskan bahwa Rasulullah SAW menolak keyakinan yang mengaitkan bulan Safar dengan kesialan.
Islam menghapus berbagai bentuk takhayul yang berkembang pada masa jahiliyah dan mengajarkan agar umat hanya bergantung kepada Allah SWT.
Dalam catatan sejarah, masyarakat Arab sebelum Islam tidak hanya menganggap Safar sebagai bulan sial, tetapi juga meyakini bahwa Safar merupakan penyakit yang menyerang bagian perut.
Mengutip penjelasan dalam buku Mengenal Nama Bulan dan Kalender Hijriah, masyarakat Arab jahiliyah juga percaya bahwa Safar adalah angin panas yang masuk ke dalam tubuh dan menyebabkan penyakit.
Setelah Islam datang, keyakinan tersebut diluruskan melalui sabda Rasulullah SAW yang menegaskan bahwa segala penyakit maupun musibah hanya terjadi atas izin Allah SWT.
Meski demikian, hingga kini masih ada sebagian masyarakat yang memandang bulan Safar sebagai waktu yang kurang baik untuk melakukan aktivitas tertentu.
Pandangan tersebut bertentangan dengan ajaran Nabi SAW karena mengaitkan suatu waktu dengan kesialan tanpa dasar syariat.
Islam mengajarkan agar setiap Muslim tidak menjadikan bulan Safar sebagai alasan untuk merasa takut atau menunda berbagai urusan karena khawatir tertimpa musibah.
Seluruh waktu dalam Islam pada hakikatnya adalah ciptaan Allah SWT dan tidak memiliki kekuatan membawa manfaat maupun mudarat dengan sendirinya.
Karena itu, seorang Muslim dianjurkan memperkuat tawakal, memperbanyak doa, dan tetap berikhtiar dalam menjalani kehidupan tanpa dipengaruhi mitos yang tidak memiliki landasan syariat.
Dengan memahami hadis-hadis tentang bulan Safar secara benar, umat Islam dapat menjaga kemurnian akidah dan terhindar dari keyakinan yang mengarah pada takhayul maupun syirik.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang