Editor
BANDUNG, KOMPAS.com — Menjaga hafalan Al-Qur'an saat masih berada di lingkungan pesantren mungkin menjadi hal yang lazim. Namun, tantangan berbeda muncul ketika seorang penghafal Al-Qur'an memasuki dunia perkuliahan yang dipenuhi tugas akademik, organisasi, hingga berbagai aktivitas di luar kampus.
Situasi itulah yang dialami Fattah Fadhila Abulkhair, lulusan Program Studi Bahasa dan Sastra Arab UIN Sunan Gunung Djati Bandung asal Bekasi.
Di tengah padatnya aktivitas, ia berhasil mempertahankan hafalan 30 juz hingga akhirnya dinobatkan sebagai Lulusan Berprestasi Tahfidz 30 Juz sekaligus memperoleh beasiswa penuh jenjang magister.
Baca juga: Keutamaan Membaca Surat Al-Ikhlas: Setara Sepertiga Al-Quran hingga Dibangunkan Rumah di Surga
Perjalanan Fattah menjadi penghafal Al-Qur'an dimulai sejak duduk di kelas 1 SMP ketika menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Darul Qur'an Mulia, Bogor.
Sekitar empat setengah tahun kemudian, tepatnya saat kelas 2 SMA, ia berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz.
Waktu yang tersisa selama di pesantren dimanfaatkannya untuk memperkuat hafalan melalui murajaah secara rutin.
Kecintaannya terhadap Al-Qur'an tumbuh sejak kecil dari kebiasaan mendengarkan murattal para imam Masjidil Haram. Salah satu qari yang paling menginspirasinya adalah Syekh Muhammad Thaha.
"Saya sangat senang mendengarkan murattal para syekh. Dari situlah muncul keinginan untuk bisa menghafal Al-Qur'an. Sampai sekarang membaca dan murajaah menjadi aktivitas yang saya nikmati," tutur Fattah dikutip dari laman UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Selasa (4/8/2026).
Baca juga: Mengapa Membaca Al-Quran Harus dengan Tajwid dan Tartil? Ini Penjelasannya
Memasuki bangku kuliah, tantangan menjaga hafalan semakin besar. Jadwal perkuliahan, organisasi, hingga berbagai kegiatan pengabdian masyarakat membuatnya harus lebih disiplin mengatur waktu.
Fattah membiasakan murajaah setiap pagi dan setelah Magrib. Baginya, dua waktu tersebut menjadi momen yang sulit diganggu oleh aktivitas lain.
Selama tiga tahun menjadi pengurus Ma'had Al-Jami'ah UIN Sunan Gunung Djati Bandung, ia membimbing sekitar 500 mahasantri dalam program tahfidz.
Pengalaman itu justru memperkuat hubungannya dengan Al-Qur'an.
Pada tahun terakhir kuliah, ia kembali mendapat amanah sebagai imam tetap Masjid Baitul Mu'min, Antapani Kidul, Kota Bandung.
"Menjadi imam membantu saya terus mengulang hafalan karena setiap hari membaca ayat-ayat Al-Qur'an di depan jamaah," katanya.
Selain aktif di kampus melalui Himpunan Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Arab, Fattah juga terlibat sebagai relawan dakwah di Masjid Salman ITB dan Daarut Tauhiid Bandung.
Konsistensinya menjaga hafalan membawanya meraih sejumlah prestasi pada ajang Musabaqah Hifzhil Qur'an (MHQ), di antaranya Juara 1 MHQ 5 Juz di Ma'had Darul Arqam Ciparay, Juara 1 MHQ 5 Juz di Medina Insan Qur'ani, serta Juara Harapan 1 MHQ 10 Juz tingkat Jawa Barat dalam Festival Qur'an UPTQ UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Meski demikian, Fattah mengaku tidak pernah menjadikan perlombaan sebagai tujuan utama.
"Setiap perlombaan menjadi pengalaman untuk menguji kualitas hafalan sekaligus melatih mental. Dari sana saya belajar bahwa menjaga konsistensi jauh lebih penting daripada sekadar mengejar prestasi," ujarnya.
Ia pun tidak menyangka ketika diumumkan sebagai Lulusan Berprestasi Tahfidz 30 Juz sekaligus menerima beasiswa penuh untuk melanjutkan studi Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir di UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
"Saya sangat bersyukur. Pencapaian ini menjadi penyemangat untuk terus belajar dan mengembangkan diri di jenjang berikutnya," ungkapnya.
Bagi Fattah, penghargaan bukanlah pengalaman yang paling berkesan.
Justru selama membimbing ratusan mahasantri, ia merasakan bahwa ilmu menjadi lebih bermakna ketika dibagikan kepada orang lain.
"Selama tiga tahun membimbing mahasantri, saya bertemu begitu banyak orang. Sampai sekarang ketika berjalan di kampus selalu ada yang menyapa. Itu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi saya," ungkap dia.
Menjelang akhir perbincangan, Fattah berpesan agar mahasiswa tidak menjauh dari Al-Qur'an meski disibukkan dengan kuliah dan organisasi.
"Bagi teman-teman yang memiliki hafalan Al-Qur'an, baik 30 juz, 15 juz, 10 juz, bahkan baru satu atau beberapa surah, jangan pernah berhenti murajaah dan mengaji," kata dia.
"Sesibuk apa pun kuliah atau organisasi, Al-Qur'an tetap harus menjadi bagian dari kehidupan. Al-Qur'an akan menjadi kompas terbaik ketika kita sedang bingung, lelah, atau dihadapkan pada berbagai persoalan hidup," pungkas dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang