Editor
KOMPAS.com - Mantan juru bicara Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Sastro Al Ngatawi, mendorong Nahdlatul Ulama (NU) memperkuat kiprahnya di tingkat internasional.
Menurutnya, penguatan peran global NU sejalan dengan upaya para pendiri organisasi dalam mengenalkan gagasan keislaman khas Nusantara ke dunia.
Baca juga: Drone Show Muktamar ke-35 NU Jombang Tampilkan Wajah Pendiri NU
Sastro menilai internasionalisasi gagasan Islam Nusantara merupakan bagian dari khittah perjuangan NU yang telah dirintis sejak organisasi tersebut didirikan.
Salah satu jejak penting dari upaya tersebut, menurutnya, terlihat melalui pembentukan Komite Hijaz oleh KH Hasyim Asy'ari dan KH Abdul Wahab Hasbullah.
"Komite Hijaz itu kan sebetulnya internasionalisasi terhadap gagasan-gagasan tradisi pemikiran Islam yang ada di Nusantara," ujar Sastro di sela-sela Muktamar ke-35 NU di Jombang, Jawa Timur, Sabtu (29/8/2026), seperti dilansir dari Tribunnews.
Baca juga: Agenda Penting Muktamar NU Malam Ini, Pemilihan Rais Aam dan Ketum PBNU
Menurut Sastro, terdapat dua tujuan utama dari internasionalisasi gagasan NU. Pertama, memperkenalkan kepada masyarakat dunia bahwa terdapat corak Islam yang tidak hanya identik dengan karakter Timur Tengah, simbolik, formal, maupun koersif.
"Tetapi ada wajah Islam yang lain, yaitu Islam NU yang ada di Nusantara," kata Sastro.
Tujuan kedua adalah memperluas kemaslahatan yang dihasilkan NU. Dengan jangkauan yang semakin luas, gagasan dan gerakan NU dinilai dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat di berbagai negara.
Sastro melihat peluang bagi NU untuk memperkuat kiprah internasional semakin terbuka seiring dengan kondisi geopolitik dunia yang tengah mengalami penataan ulang.
Momentum tersebut dinilai dapat dimanfaatkan NU untuk mengambil peran lebih besar dalam berbagai persoalan global.
Ia juga mendorong NU agar lebih aktif merespons konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia.
Menurut Sastro, sejumlah persoalan yang terjadi di Indonesia memiliki keterkaitan dengan dinamika konflik internasional.
"Apa yang terjadi di Indonesia saat ini itu kan sebetulnya resonansi dari konflik global," ujarnya.
Karena itu, Sastro menilai NU perlu melihat persoalan global sebagai bagian dari hulu masalah.
Sementara di tingkat nasional, peran kiai kampung, pesantren, serta struktur NU dari tingkat pusat hingga ranting perlu diperkuat untuk menangani dampak persoalan tersebut di tingkat masyarakat.
Menurut Sastro, pembagian peran itu membutuhkan sosok pemimpin yang tidak hanya mampu membangun dan menata sistem organisasi secara nasional, tetapi juga memiliki kapasitas untuk membawa kepentingan NU ke ruang global.
"Pemimpin ke depan saya pikir harus satu, memiliki kapabilitas leadership untuk melakukan penataan sistem pada level nasional. Dan memiliki kapabilitas untuk mengartikulasikan dan berkontestasi dalam masyarakat global internasional," jelasnya.
Sastro menilai sejumlah langkah Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya telah memberikan kontribusi terhadap peningkatan peran NU di tingkat internasional.
Ia mencontohkan sejumlah agenda global yang digalang Gus Yahya, termasuk Religion Twenty (R20) dan Fikih Peradaban.
Menurutnya, agenda tersebut turut meningkatkan perhatian masyarakat internasional terhadap NU.
"Kalau dari segi itu, iya saya melihat. Karena beberapa isu-isu internasional yang beliau galang terus itu, mulai dari R20, Fikih Peradaban, dan lain sebagainya, itu cukup membuat atensi dunia makin tertarik padanya," ujarnya.
Sastro memahami bahwa pembagian peran dalam organisasi dapat membuat Ketua Umum PBNU tidak selalu menjadi figur yang paling dikenal hingga tingkat akar rumput. Namun, menurutnya, kondisi tersebut tidak otomatis menunjukkan lemahnya kepemimpinan.
Sebaliknya, keadaan tersebut dapat mencerminkan adanya pembagian tugas dalam organisasi. Ketua umum tidak harus menjadi satu-satunya figur yang tampil dalam seluruh aktivitas NU.
"Makanya kalau orang NU ditanya, siapa Ketua PBNU? Banyak yang tidak tahu. Karena Ketua PBNU memang tidak harus tahu semuanya," katanya.
Ia menilai pola tersebut justru memperlihatkan pentingnya kepemimpinan yang berjalan secara kolektif, kolegial, dan sistemik. Dengan model tersebut, berbagai pekerjaan organisasi dapat dijalankan oleh banyak unsur dan tidak terpusat pada satu tokoh.
"Itulah yang disebut dengan kepemimpinan yang sistemik, kolektif, kolegial, dan sistemik. Sehingga yang menonjol, yang terkenal, yang bermain tidak hanya satu individu saja," ujar Sastro.
Mengenai konflik Gaza dan persoalan Palestina, Sastro menilai NU memiliki ruang untuk memainkan peran yang lebih besar.
Namun, ia menekankan pentingnya jaringan internasional sebagai modal untuk memperkuat posisi NU dalam isu tersebut.
"Kita itu bisa berperan, satu kan kalau punya network yang baik. Kalau kita nggak punya network juga nggak akan bisa berperan," katanya.
Selain membangun jaringan, menurut Sastro, NU perlu memiliki posisi yang cukup kuat sehingga diperhitungkan oleh berbagai pihak yang terlibat dalam percaturan konflik global.
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul "Mantan Jubir Gus Dur: NU Harus Perkuat Peran Global di Tengah Konflik Dunia".
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT