KOMPAS.com - Surah Al-Ma’un mengingatkan umat Islam bahwa keberagamaan tidak cukup ditunjukkan melalui ibadah ritual. Kepedulian terhadap anak yatim, perhatian kepada orang miskin, serta kesediaan membantu sesama juga menjadi bagian penting dari ajaran Islam.
Surah ke-107 dalam Al-Qur’an ini terdiri dari tujuh ayat yang menghubungkan perilaku sosial dengan kualitas keimanan. Pesannya relevan dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika seseorang rajin beribadah, tetapi mengabaikan kesulitan orang-orang di sekitarnya.
Surah Al-Ma’un dikenal sebagai surah yang menyoroti perilaku orang yang mendustakan agama. Al-Qur’an tidak hanya menggambarkan persoalan keyakinan, tetapi juga menunjukkan perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai agama, seperti menghardik anak yatim dan tidak mendorong pemberian makan kepada orang miskin.
Baca juga: Dudung Sampaikan Pesan Prabowo ke Santri: Setialah kepada Merah Putih
Dalam tafsir Surat Al-Ma'un, menjelaskan bahwa tindakan menghardik anak yatim mencerminkan sikap tidak peduli terhadap orang yang kehilangan tumpuan hidup. Sementara itu, tidak menganjurkan pemberian makan kepada orang miskin menunjukkan lemahnya dorongan untuk membantu mereka yang membutuhkan.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ma’un ayat 1–3:
اَرَءَيْتَ الَّذِيْ يُكَذِّبُ بِالدِّيْنِۗ ١
فَذٰلِكَ الَّذِيْ يَدُعُّ الْيَتِيْمَۙ ٢
وَلَا يَحُضُّ عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِۗ ٣
Ara’aitalladzī yukadzdzibu bid-dīn. Fa dzālikalladzī yadu‘‘ul-yatīm. Wa lā yaḥuḍḍu ‘alā ṭa‘āmil-miskīn.
Baca juga: Hari Santri 2026: Dari Intuisi dan Mimpi, Menag Ungkap Ilmu Pesantren
Artinya: “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan untuk memberi makan orang miskin.” (QS Al-Ma’un: 1–3).
Ayat-ayat tersebut memperlihatkan bahwa kepedulian sosial bukan perkara tambahan yang terpisah dari agama. Sikap terhadap kelompok rentan menjadi salah satu tanda yang diperhatikan Al-Qur’an ketika menggambarkan pendusta agama.
Surah Al-Ma’un kemudian memberikan peringatan kepada orang-orang yang melaksanakan salat, tetapi lalai terhadap salatnya dan berbuat riya. Allah berfirman dalam ayat 4–6:
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ ٤
الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ ٥
الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَۙ ٦
Fa wailul lil-muṣallīn. Alladzīna hum ‘an ṣalātihim sāhūn. Alladzīna hum yurā’ūn.
Baca juga: Raja Charles Kutip Hadis Nabi SAW saat Jamuan Kenegaraan Sultan Oman
Artinya: “Maka celakalah orang-orang yang melaksanakan salat, (yaitu) yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat riya.” (QS Al-Ma’un: 4–6).
Peringatan ini bukan berarti setiap orang yang sesekali kehilangan konsentrasi dalam salat otomatis termasuk golongan tersebut. Ayat berikutnya menjelaskan karakter yang tercela, yakni kelalaian terhadap salat dan kecenderungan mempertontonkan ibadah demi memperoleh perhatian atau pujian manusia.
Pesannya, ibadah perlu dijalankan dengan kesadaran dan keikhlasan. Salat bukan sekadar gerakan rutin atau sarana membangun citra diri, melainkan bentuk penghambaan yang semestinya mendorong seseorang memperbaiki perilakunya.
Baca juga: Makna di Balik Zikir 33 Kali Setelah Sholat Fardhu
Allah menutup surah ini dengan firman-Nya:
وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُوْنَࣖ ٧
Wa yamna‘ūnal-mā‘ūn.
Artinya: “Dan enggan (memberi) bantuan.” (QS Al-Ma’un: 7).
Kata al-ma’un berkaitan dengan bantuan atau barang berguna yang dapat dimanfaatkan orang lain. Dalam penjelasan tafsir yang dibahas Muhammadiyah, ayat ini mengandung kritik terhadap orang yang menahan bantuan dan tidak menunjukkan kebaikan kepada sesamanya.
Baca juga: Khutbah Jumat 23 Oktober: Merusak Bumi, Mengkhianati Amanah Allah
Bantuan tidak selalu berupa uang dalam jumlah besar. Meminjamkan barang yang dibutuhkan, menyediakan makanan, membantu tetangga yang kesulitan, atau mendukung kegiatan sosial merupakan contoh kepedulian yang bisa diwujudkan sesuai kemampuan.
Rasulullah SAW juga menekankan pentingnya merawat anak yatim. Dalam hadis yang diriwayatkan Sahl bin Sa’d, beliau bersabda:
أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا
Anā wa kāfilul-yatīmi fil-jannati hakadzā.
Artinya: “Aku dan orang yang mengasuh anak yatim akan berada di surga seperti ini.” Rasulullah kemudian mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengahnya. (HR Sahih al-Bukhari, nomor 6005).
Baca juga: Kemenhaj Jajaki Museum Haji Indonesia, Telusuri Arsip hingga Belanda
Hadis tersebut menunjukkan keutamaan mengasuh anak yatim. Kepedulian dapat diwujudkan melalui pendampingan, pemenuhan kebutuhan, dan perlindungan terhadap hak mereka, bukan sekadar memberikan bantuan sesaat.
Surah Al-Ma’un mengajak umat Islam mengevaluasi hubungan antara ibadah dan perilaku sosial. Membaca surah ini semestinya mendorong tindakan nyata: menjaga salat, menghindari riya, tidak merendahkan orang yang lemah, serta ringan membantu sesama. Dengan begitu, nilai ibadah hadir dalam kehidupan, bukan berhenti pada ritual.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.