KOMPAS.com - Dalam ajaran Islam, kehidupan manusia tidak berakhir ketika meninggal dunia.
Setelah kematian, manusia memasuki alam barzakh, yang dalam hadis dijelaskan sebagai tempat berlangsungnya pertanyaan kepada orang yang telah meninggal.
Riwayat dari Al-Bara’ bin Azib dalam Sunan Abi Dawud menjelaskan tiga pertanyaan yang diajukan kepada seseorang di alam kubur, yakni tentang Tuhan, agama, dan nabi.
Pertanyaan tersebut menjadi pengingat bagi umat Islam untuk memahami dan menjalankan keyakinannya selama hidup di dunia.
Dalam Sunan Abi Dawud nomor 4753, Al-Bara’ bin Azib menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah menghadiri pemakaman seorang laki-laki dari kaum Ansar.
Dalam kesempatan itu, Rasulullah menjelaskan peristiwa yang dialami seseorang setelah dimakamkan, termasuk kedatangan dua malaikat yang mengajukan pertanyaan.
Baca juga: Terjebak Mendung Tanpa Tempat Berteduh, Bolehkah Berdoa agar Hujan Ditunda?
Berikut petikan hadis tentang tiga pertanyaan tersebut:
مَنْ رَبُّكَ وَمَا دِينُكَ وَمَنْ نَبِيُّكَ
Man rabbuka, wa mā dīnuka, wa man nabiyyuka?
Artinya: “Siapa Tuhanmu, apa agamamu, dan siapa nabimu?” (HR Abu Dawud, nomor 4753).
Hadis tersebut menjadi salah satu rujukan pembahasan pertanyaan di alam kubur. Pertanyaan Munkar dan Nakir termasuk perkara gaib yang diimani umat Islam berdasarkan dalil agama.
Pertanyaan pertama adalah Man rabbuka? yang berarti “Siapa Tuhanmu?”
Dalam riwayat Sunan Abi Dawud nomor 4753, orang beriman menjawab:
رَبِّيَ اللَّهُ
Rabbiyallāh.
Artinya: “Tuhanku adalah Allah.”
Jawaban ini menunjukkan pengakuan terhadap Allah sebagai Tuhan.
Keimanan tersebut bukan sekadar pengetahuan atau ucapan, melainkan keyakinan yang semestinya tercermin dalam cara seseorang menjalani kehidupan, beribadah, dan mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Baca juga: Memaknai Sumpah Pemuda, Kuasai Teknologi Tanpa Meninggalkan Adab
Karena itu, pertanyaan ini dapat menjadi bahan introspeksi selama hidup. Seorang Muslim perlu membangun hubungan dengan Allah melalui ibadah dan ketaatan, bukan hanya mengingat-Nya ketika menghadapi kesulitan.
Pertanyaan kedua adalah Mā dīnuka? yang berarti “Apa agamamu?”
Dalam riwayat yang sama, orang beriman menjawab:
دِينِيَ الْإِسْلَامُ
Dīniyal-Islām.
Artinya: “Agamaku adalah Islam.”
Baca juga: Lupa Menambah Rakaat Shalat, Apa yang Harus Dilakukan?
Jawaban tersebut menegaskan identitas keimanan seseorang.
Islam tidak hanya berkaitan dengan pengakuan sebagai Muslim, tetapi juga menjadi pedoman dalam beribadah, berperilaku, dan berhubungan dengan sesama manusia.
Dalam kehidupan sehari-hari, seorang Muslim dapat menghayati ajaran agama melalui pelaksanaan kewajiban, kejujuran, amanah, serta kepedulian terhadap orang lain.
Amalan tersebut bukan jaminan bahwa seseorang dapat memastikan jawabannya kelak, tetapi merupakan bagian dari usaha menjalani keyakinan secara sungguh-sungguh.
Pertanyaan ketiga adalah Man nabiyyuka? yang berarti “Siapa nabimu?”
Dalam riwayat Sunan Abi Dawud nomor 4753, pertanyaan ini juga dijelaskan melalui ungkapan tentang sosok yang diutus kepada manusia. Jawaban orang beriman:
هُوَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Huwa Rasūlullāhi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.
Artinya: “Dia adalah Rasulullah SAW.”
Baca juga: Jenguk Gus Yaqut, Ketum GP Ansor: Bukan Intervensi, Beri Dukungan Moral
Jawaban itu berkaitan dengan pengakuan terhadap Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah.
Bagi umat Islam, keimanan kepada Rasulullah juga berkaitan dengan menerima ajaran yang dibawanya dan menjadikan keteladanannya sebagai pedoman.
Mengikuti Rasulullah dapat diwujudkan melalui pelaksanaan ajaran Islam, menjaga akhlak, dan memperlakukan sesama dengan baik.
Dengan demikian, kecintaan kepada Nabi tidak berhenti pada ucapan, tetapi juga tampak dalam perilaku sehari-hari.
Allah SWT berfirman dalam Surah Ibrahim ayat 27:
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ
Yutsabbitullāhul-ladzīna āmanū bil-qaulits-tsābiti fil-ḥayātid-dunyā wa fil-ākhirah, wa yuḍillullāhuẓ-ẓālimīn, wa yaf‘alullāhu mā yasyā’.
Baca juga: Pahala Sedekah Bisa Gugur, Waspadai Tiga Perilaku Ini
Artinya: “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS Ibrahim: 27).
Ayat ini dikaitkan dengan keteguhan orang beriman ketika menghadapi pertanyaan di alam kubur.
Pesannya, keimanan perlu dipelihara selama hidup melalui keyakinan dan ketaatan kepada Allah.
Pembahasan tentang Munkar dan Nakir mengingatkan umat Islam bahwa kehidupan dunia bersifat sementara.
Namun, manusia tidak dapat memastikan keadaan dirinya di alam barzakh hanya berdasarkan penilaian pribadi terhadap amal yang telah dilakukan.
Karena itu, persiapan yang dapat dilakukan ialah menjaga akidah, menunaikan kewajiban agama, memperbaiki akhlak, serta bertobat ketika melakukan kesalahan.
Pemahaman tentang alam kubur seharusnya mendorong introspeksi dan perbaikan diri, bukan sekadar menimbulkan ketakutan.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.