Editor
JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengibaratkan ekonomi syariah Indonesia sebagai raksasa tidur yang memiliki potensi besar, tetapi belum tergarap secara maksimal.
Menurutnya, besarnya populasi Muslim serta jaringan masjid di berbagai daerah menjadi modal untuk mengembangkan ekonomi syariah dan memperkuat ekonomi masyarakat.
“Kalau kita hitung dari potensi-potensi keumatan yang kita miliki, pertama adalah potensi umat. Sekitar 250 juta umat Islam di Indonesia ini adalah pasar yang luar biasa. Kedua, Semua sumber kehidupan yang membuat kita bertahan hidup ada di dalam negeri kita sendiri,” ujar Nasaruddin dikutip dari laman Kemenag, Sabtu (31/10/2026).
Baca juga: Menag Sebut Kampus di Italia dan Vatikan Ingin Belajar Keberagaman Indonesia
Ia menilai kekayaan sumber pangan, hasil laut, dan sumber daya alam menjadi modal Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global.
Potensi usaha berbasis masjid
Nasaruddin secara khusus menyoroti peluang pengembangan ekonomi melalui masjid.
Menurutnya, jaringan masjid yang dikelola secara profesional dapat menjadi penggerak ekonomi masyarakat melalui unit usaha, seperti minimarket, serta pengelolaan wakaf produktif.
Keuntungan dari kegiatan usaha tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan masjid dan kesejahteraan jemaah.
“Kalau semua masjid itu punya usaha atau minimarket sendiri, keuntungannya dapat kembali untuk kemakmuran masjid dan jamaah. Kekuatan ekonomi umat, khususnya kaum ibu dan pedagang kecil, sangat besar jika kita fasilitasi dengan akses permodalan syariah,” lanjutnya.
Selain pengembangan usaha, Nasaruddin menekankan pentingnya kesiapan sumber daya manusia untuk mendukung pertumbuhan ekonomi syariah.
Ia berpesan agar perguruan tinggi dan fakultas ekonomi Islam mencetak lulusan yang tidak hanya memahami teori fikih muamalah, tetapi juga memiliki keterampilan teknis yang sesuai dengan kebutuhan industri perbankan syariah dan pasar global.
Baca juga: Hadiri Forum di Italia, Menag Dorong Bahasa Agama Jadi Instrumen Diplomasi Global
Direktur Zakat dan Wakaf Badan Pengelola Masjid Istiqlal, Budi Utomo, mengatakan bahwa forum dan pameran tersebut merupakan bagian dari upaya menjadikan Istiqlal sebagai pusat ekosistem ekonomi syariah nasional.
Kegiatan itu melibatkan kantor wilayah Kementerian Agama, perguruan tinggi Islam, perbankan, dan perusahaan swasta.
“Kegiatan ini merupakan upaya kami menerjemahkan ide Imam Besar Istiqlal untuk menghadirkan Istiqlal sebagai pusat kegiatan pengembangan ekonomi syariah, sekaligus merangkum sinergi luar biasa mulai dari Kanwil Kemenag, perguruan tinggi Islam, perbankan, hingga perusahaan swasta,” ungkap Budi.
Ia menyebut pameran tersebut diikuti 46 stan dan mengusung visi “Istiqlal Ecotourism dalam Green Economy”.
Melalui kegiatan itu, Budi berharap dapat muncul model pengembangan ekowisata berbasis masjid.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.