Editor
KOMPAS.com — Kerusakan hutan tidak hanya menghilangkan pepohonan, tetapi juga mengancam kehidupan satwa. Hewan kehilangan tempat berlindung, sumber makanan, serta ruang untuk berkembang biak.
Nabil Fithran, santri Pondok Pesantren Al-Anwar 3 sekaligus alumni Pondok Kebon Jambu Al-Islamy, Babakan, Ciwaringin, Cirebon, menjelaskan bahwa Islam mengajarkan penghormatan terhadap kehidupan hewan.
Menurut Nabil dikutip dari NU Online, hewan merupakan makhluk ciptaan Allah SWT yang tidak boleh diperlakukan secara zalim.
Penghormatan terhadap kehidupan mereka juga perlu diwujudkan dengan menjaga habitatnya.
Baca juga: Surah Al-Baqarah Ayat 205 dan Larangan Membakar Hutan hingga Merusak Lingkungan
Ia mengingatkan, pembakaran dan penggundulan hutan dapat membuat satwa kehilangan ruang hidup. Dampaknya tidak hanya berupa kerusakan lingkungan, tetapi juga ancaman terhadap keberlangsungan hidup hewan.
Nabil menjelaskan, salah satu dasar penghormatan terhadap kehidupan hewan terdapat dalam surah Al-An’am ayat 38.
Ayat tersebut menyebut hewan di bumi dan burung yang terbang sebagai umat seperti manusia.
وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا طٰۤىِٕرٍ يَّطِيْرُ بِجَنَاحَيْهِ اِلَّآ اُمَمٌ اَمْثَالُكُمْ ۗمَا فَرَّطْنَا فِى الْكِتٰبِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ يُحْشَرُوْنَ
Artinya, “Tidak ada seekor hewan pun (yang berada) di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam kitab, kemudian kepada Tuhannya mereka dikumpulkan.” (QS Al-An’am: 38).
Merujuk penjelasan Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, jilid VI, halaman 419–420, Nabil mengatakan bahwa hewan dan manusia sama-sama merupakan makhluk ciptaan Allah yang memperoleh rezeki serta berada dalam ketetapan dan keadilan-Nya.
Menurutnya, penjelasan tersebut menjadi pengingat agar manusia tidak memperlakukan hewan secara sewenang-wenang.
Kasih sayang dan keadilan, lanjut Nabil, perlu diwujudkan pula dalam cara manusia memperlakukan makhluk hidup lainnya.
Hal itu termasuk menghindari tindakan yang menyakiti atau membunuh hewan secara sembarangan.
Baca juga: Mengapa Islam Mengajarkan Menjaga Lingkungan? Ini Dalilnya
Nabil juga mengangkat kisah Nabi Sulaiman dan kawanan semut sebagai pelajaran tentang penghormatan terhadap kehidupan makhluk kecil.
Kisah tersebut terdapat dalam surah An-Naml ayat 18–19:
حَتّٰىٓ اِذَآ اَتَوْا عَلٰى وَادِ النَّمْلِۙ قَالَتْ نَمْلَةٌ يّٰٓاَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوْا مَسٰكِنَكُمْۚ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمٰنُ وَجُنُوْدُهٗۙ وَهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ
Artinya, “Hingga ketika sampai di lembah semut, seekor semut berkata, ‘Wahai para semut, masuklah ke dalam sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadarinya.’” (QS An-Naml: 18).
فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّنْ قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَدْخِلْنِيْ بِرَحْمَتِكَ فِيْ عِبَادِكَ الصّٰلِحِيْنَ
Artinya, “Dia (Sulaiman) tersenyum seraya tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dia berdoa, ‘Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku (ilham dan kemampuan) untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan untuk tetap mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai. (Aku memohon pula) masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.’” (QS An-Naml: 19).
Dalam ayat tersebut, seekor semut memperingatkan koloninya agar masuk ke sarang sehingga tidak terinjak oleh Nabi Sulaiman dan pasukannya. Nabi Sulaiman memahami perkataan itu, kemudian tersenyum dan memanjatkan doa kepada Allah SWT.
Nabil turut merujuk Tafsir Muqatil bin Sulaiman, jilid III, halaman 299–300, yang mengisahkan Nabi Sulaiman bersama pasukannya menghentikan langkah untuk memberi kesempatan kepada semut-semut masuk ke sarang.
Menurut Nabil, kisah tersebut memperlihatkan kepedulian terhadap makhluk lain tanpa memandang ukuran maupun kekuatannya. Semut yang kecil sekalipun memiliki kehidupan yang patut dihargai.
Ia menilai, kekuasaan dan kekuatan semestinya disertai kemampuan untuk melindungi kehidupan makhluk lain.
Nabil mengatakan, penghormatan terhadap kehidupan hewan perlu diwujudkan melalui tindakan nyata, termasuk menjaga hutan sebagai habitat berbagai jenis satwa.
Pembakaran hutan dan eksploitasi habitat secara berlebihan dapat menghilangkan sumber makanan serta tempat berlindung hewan. Satwa pun berisiko mati akibat kebakaran atau kesulitan memperoleh makanan.
Menurutnya, manusia perlu menahan diri dari tindakan yang merusak ruang hidup hewan dan mengancam keberlangsungan ekosistem.
Pelajaran dari ayat Al-Qur’an dan kisah Nabi Sulaiman tersebut, kata Nabil, menjadi pengingat bahwa kehidupan hewan patut dihormati. Menjaga habitat merupakan bagian dari upaya melindungi kehidupan mereka.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.