Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Warisan Abbasiyah: Hujan Lebat Hidupkan Kolam 1.300 Tahun di Arab Saudi

Kompas.com, 21 April 2026, 13:00 WIB
Add on Google
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Hujan yang mengguyur wilayah utara Arab Saudi baru-baru ini menghadirkan pemandangan langka, sebuah kolam kuno peninggalan peradaban Islam kembali terisi air hingga mendekati penuh.

Dilansir dari Saudi Press Agency, kolam itu adalah Kolam Al-Jumaimiyah, sebuah struktur bersejarah yang telah berdiri lebih dari 1.300 tahun sejak era Dinasti Abbasiyah.

Fenomena ini bukan sekadar peristiwa alam, melainkan juga membuka kembali perhatian pada kecanggihan teknologi air dalam peradaban Islam klasik yang kerap terlupakan.

Baca juga: Sejarah Raja Persia: Dari Cyrus hingga Revolusi Islam Iran 1979

Jejak Peradaban di Tengah Gurun

Di tengah lanskap gurun yang keras, kehadiran air selalu menjadi penentu kehidupan. Pada masa lalu, jalur-jalur perdagangan dan ziarah membutuhkan sistem penampungan air yang andal untuk menopang perjalanan panjang.

Kolam Al-Jumaimiyah dibangun sebagai bagian dari jaringan infrastruktur air untuk para pelancong yang melintasi wilayah Hijaz menuju Irak.

Dalam buku A History of the Arab Peoples karya Albert Hourani dijelaskan bahwa pada masa Abbasiyah, pembangunan fasilitas publik seperti sumur, waduk, dan kanal air menjadi prioritas untuk mendukung mobilitas ekonomi dan keagamaan.

Kolam ini menjadi bukti nyata bagaimana kebutuhan spiritual, seperti perjalanan haji—beririsan dengan inovasi teknologi pada masa itu.

Bagian dari Jalur Zubaida yang Legendaris

Kolam Al-Jumaimiyah tidak berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari jaringan besar yang dikenal sebagai Jalur Zubaida, salah satu rute haji paling penting dalam sejarah Islam.

Jalur ini dinamai dari Zubaida binti Ja'far, sosok perempuan berpengaruh yang dikenal karena kontribusinya dalam pembangunan infrastruktur bagi jemaah haji.

Dalam literatur klasik seperti Tarikh Baghdad, disebutkan bahwa Zubaida menginisiasi pembangunan sumur, waduk, dan tempat peristirahatan di sepanjang jalur tersebut, sehingga perjalanan haji menjadi lebih aman dan terjamin.

Setiap titik pemberhentian di jalur ini biasanya berjarak sekitar 50 kilometer, jarak yang disesuaikan dengan kemampuan perjalanan kafilah unta.

Baca juga: Harun al-Rasyid: Kekuasaan, Ilmu, dan Wajah Ganda Sebuah Peradaban

Desain Canggih yang Melampaui Zamannya

Secara arsitektural, Kolam Al-Jumaimiyah menunjukkan tingkat perencanaan yang sangat matang.

Struktur ini dibangun di dalam cekungan alami berbentuk melingkar untuk memaksimalkan penampungan air hujan.

Kolam ini memiliki luas sekitar 30 meter persegi dengan kedalaman lebih dari 6 meter. Dua lapisan dinding mengelilinginya, dinding dalam sejajar permukaan tanah, sementara dinding luar lebih tinggi untuk mencegah limpasan air.

Sebanyak 13 anak tangga di sisi timur memungkinkan akses langsung ke dasar kolam. Di bagian luar, struktur diperkuat dengan penyangga silindris yang berfungsi menjaga kestabilan bangunan.

Dalam buku Islamic Science and Engineering karya Donald R. Hill dijelaskan bahwa teknik pengelolaan air pada masa Islam klasik telah memanfaatkan prinsip hidrologi alami, termasuk pengendalian aliran banjir dan penyimpanan air jangka panjang.

Kemampuan kolam ini menyimpan air hingga berbulan-bulan, bahkan mencapai satu tahun dalam kondisi tertentu, menjadi bukti nyata kecanggihan tersebut.

Hujan yang Menghidupkan Kembali Sejarah

Peristiwa terisinya kembali kolam ini setelah hujan lebat menjadi momen yang jarang terjadi. Dalam kondisi normal, wilayah utara Arab Saudi dikenal sebagai kawasan kering dengan curah hujan yang sangat terbatas.

Namun kali ini, intensitas hujan yang cukup tinggi membuat aliran air dari lembah sekitar kembali mengisi kolam hingga tingkat yang hampir penuh.

Fenomena ini tidak hanya menarik perhatian masyarakat lokal, tetapi juga para peneliti dan pemerhati sejarah yang melihatnya sebagai “kebangkitan” simbolik dari warisan peradaban masa lalu.

Baca juga: Mengintip AlUla, Oasis Gurun Warisan Dunia UNESCO yang Menyimpan Jejak Peradaban Arab Kuno

Warisan Lingkungan dan Spiritual

Lebih dari sekadar bangunan, Kolam Al-Jumaimiyah mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dan lingkungan gurun.

Ia menunjukkan bagaimana keterbatasan sumber daya dapat diatasi melalui inovasi dan pemahaman terhadap alam.

Dalam konteks spiritual, keberadaan kolam ini juga memiliki makna mendalam. Ia menjadi bagian dari perjalanan panjang para peziarah menuju Tanah Suci, sebuah perjalanan yang tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik, tetapi juga ketahanan iman.

Sebagaimana dijelaskan dalam buku The Hajj: Pilgrimage in Islam karya F.E. Peters, infrastruktur seperti jalur Zubaida memainkan peran penting dalam membentuk pengalaman haji sebagai perjalanan kolektif umat Islam lintas wilayah dan budaya.

Mengingat Kembali Kecerdasan Peradaban Islam

Terisinya kembali kolam kuno ini seolah menjadi pengingat bahwa peradaban Islam di masa lalu tidak hanya unggul dalam bidang keagamaan, tetapi juga dalam sains dan teknologi.

Di tengah tantangan perubahan iklim dan krisis air global saat ini, warisan seperti Kolam Al-Jumaimiyah justru relevan untuk dikaji ulang.

Ia mengajarkan bahwa solusi berkelanjutan sering kali sudah pernah ditemukan, hanya saja terlupakan oleh zaman.

Kini, ketika air kembali mengisi kolam itu setelah berabad-abad, ia tidak hanya membawa kehidupan, tetapi juga menghidupkan kembali cerita tentang kecerdasan, ketekunan, dan visi jauh ke depan dari peradaban yang pernah berjaya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Warga dan Jemaah Haji di Arab Saudi Bisa Melihat Hujan Meteor Lyrid dengan Mata Telanjang
Warga dan Jemaah Haji di Arab Saudi Bisa Melihat Hujan Meteor Lyrid dengan Mata Telanjang
Aktual
Tradisi Peusijuek Antar Jemaah Haji Asal Aceh besar Sebelum Berangkat ke Tanah Suci
Tradisi Peusijuek Antar Jemaah Haji Asal Aceh besar Sebelum Berangkat ke Tanah Suci
Aktual
Kumpulan Doa Haji dan Umrah Lengkap: Arab, Latin, Arti Sesuai Sunnah
Kumpulan Doa Haji dan Umrah Lengkap: Arab, Latin, Arti Sesuai Sunnah
Aktual
Jemaah Haji Jawa Tengah Mulai Masuk Embarkasi, Dilayani Bertahap Lewat 96 Kloter
Jemaah Haji Jawa Tengah Mulai Masuk Embarkasi, Dilayani Bertahap Lewat 96 Kloter
Aktual
Calon Haji Embarkasi Lombok Meninggal Sebelum Berangkat, Kuota Haji NTB Dipastikan Tetap Penuh
Calon Haji Embarkasi Lombok Meninggal Sebelum Berangkat, Kuota Haji NTB Dipastikan Tetap Penuh
Aktual
Mengintip Menu Jemaah Haji di Dapur Katering Madinah, Tempe Jadi Andalan
Mengintip Menu Jemaah Haji di Dapur Katering Madinah, Tempe Jadi Andalan
Aktual
Faid ar-Rahman, Kitab Tafsir Karya Kyai Sholeh Darat yang Disebut Mempengaruhi Pemikiran RA Kartini
Faid ar-Rahman, Kitab Tafsir Karya Kyai Sholeh Darat yang Disebut Mempengaruhi Pemikiran RA Kartini
Aktual
Promosi Haji Palsu Merebak, Arab Saudi Ingatkan Bahaya Biro Ilegal
Promosi Haji Palsu Merebak, Arab Saudi Ingatkan Bahaya Biro Ilegal
Aktual
Kisah Siti Hajar, Keteguhan Perempuan dalam Ujian Keimanan
Kisah Siti Hajar, Keteguhan Perempuan dalam Ujian Keimanan
Aktual
Sosok KH Sholeh Darat, Ulama yang jadi Guru Spiritual RA Kartini
Sosok KH Sholeh Darat, Ulama yang jadi Guru Spiritual RA Kartini
Aktual
7 Amalan Subuh Pembuka Rezeki, Lengkap Doa Arab dan Artinya
7 Amalan Subuh Pembuka Rezeki, Lengkap Doa Arab dan Artinya
Doa dan Niat
Kartini Bukan Sekadar Simbol, Ini Peran Nyatanya bagi Muslimah Kini
Kartini Bukan Sekadar Simbol, Ini Peran Nyatanya bagi Muslimah Kini
Aktual
Jejak Spiritual RA Kartini dan Kegelisahannya Saat Jadi Santriwati KH Sholeh Darat
Jejak Spiritual RA Kartini dan Kegelisahannya Saat Jadi Santriwati KH Sholeh Darat
Aktual
9–11 Jam di Pesawat saat Haji, Ini yang Boleh dan Dilarang Jemaah
9–11 Jam di Pesawat saat Haji, Ini yang Boleh dan Dilarang Jemaah
Aktual
Suasana Masjidil Haram dan Masid Nabawi Jelang Kedatangan Jemaah Haji 2026
Suasana Masjidil Haram dan Masid Nabawi Jelang Kedatangan Jemaah Haji 2026
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com