Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

61 Pesantren NU di Purworejo Belajar Ubah Sampah Jadi Sumber Ekonomi

Kompas.com, 18 Mei 2026, 09:24 WIB
Bayu Apriliano,
Khairina

Tim Redaksi

PURWOREJO, KOMPAS.com- Persoalan sampah di lingkungan pondok pesantren kini mulai menjadi perhatian serius kalangan pesantren Nahdlatul Ulama (NU) di Kabupaten Purworejo.

Melalui kegiatan Sarasehan Pengurus Pondok Pesantren se-Kabupaten Purworejo bertema “Revolusi Sampah Pesantren, Dari Masalah Jadi Berkah”, para pengasuh dan pengurus pondok diajak mengubah cara pandang terhadap sampah.

Pengurus pesantren dibekali pengetahuan mulai dari persoalan lingkungan menjadi sumber keberkahan dan nilai ekonomi.

Baca juga: Mudik Lebaran 2026 Jangan Tinggalkan Sampah! MUI Ingatkan Bahaya Dampak Lingkungan

Kegiatan yang digelar oleh Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PCNU Purworejo itu berlangsung di gedung SMK Nurussalaf yang berada di kompleks Pondok Pesantren Nurussalaf Kemiri, Ahad (17/5/2026).

Sebanyak 61 perwakilan pondok pesantren NU dari berbagai wilayah di Kabupaten Purworejo mengikuti kegiatan tersebut.

Ketua RMI PCNU Purworejo, KHR M Amir Kilal, mengatakan persoalan sampah di lingkungan pesantren saat ini menjadi pekerjaan rumah yang cukup besar dan perlu segera ditangani secara serius.

“Tema ini kami angkat karena persoalan sampah di pondok pesantren memang menjadi PR besar. Harapannya, para pengurus tidak hanya memahami teori, tetapi juga bisa langsung mempraktikkan pengelolaan sampah di pondok masing-masing,” kata Amir Kilal dalam keterangan resminya pada Senin (18/5/2026).

Hal senada disampaikan Ketua PCNU Kabupaten Purworejo, KH M Haekal. Ia mengapresiasi langkah RMI PCNU Purworejo yang menghadirkan sarasehan tentang pengelolaan sampah pesantren.

Menurutnya, persoalan sampah di Kabupaten Purworejo yang mencapai ratusan ton per hari harus menjadi perhatian bersama, termasuk kalangan pesantren sebagai bagian dari masyarakat.

“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini. Pesantren juga bagian dari masyarakat Purworejo, sehingga penting untuk ikut berperan dalam pengelolaan sampah. Semoga ilmu dari para narasumber bisa diterapkan di pondok masing-masing,” ujarnya.

Baca juga: MUI Tegaskan Fatwa Haram Buang Sampah ke Sungai dan Laut

Dalam kegiatan tersebut, Dinas Lingkungan Hidup dan Perikanan (DLHP) Kabupaten Purworejo turut memaparkan konsep Eco-Pesantren sebagai upaya membangun kemandirian lingkungan berbasis nilai-nilai religius.

Perwakilan DLHP Purworejo, Suci Indriasari, menjelaskan bahwa konsep Eco-Pesantren tidak hanya bertujuan menciptakan lingkungan pesantren yang bersih dan sehat, tetapi juga menjadi model pendidikan lingkungan berbasis Islam yang memiliki nilai ekonomi dan ekologi.

Menurutnya, sebagian besar sampah di lingkungan pesantren berasal dari limbah organik dengan persentase mencapai 55 hingga 70 persen. Sampah tersebut dapat dimanfaatkan menjadi pupuk, biogas, maupun budidaya maggot.

Sementara itu, sampah anorganik seperti botol plastik, kaleng aluminium, dan kertas dapat dikelola melalui Bank Sampah Asrama (BSA) sehingga memiliki nilai ekonomi.

“Konsep ini menjadi jalan bagi pesantren untuk mengaplikasikan aksi peduli lingkungan hidup sekaligus aktualisasi keberkahan atas kerja yang dilakukan secara sungguh-sungguh,” kata Suci.

Baca juga: Arab Saudi Ubah Sampah Jamaah Jadi Energi Bersih di Tanah Suci

Materi berikutnya disampaikan Direktur Krapyak Peduli Sampah (KPS), Andika Muhammad Nuur.

Ia membagikan pengalaman pengelolaan sampah di Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum Yogyakarta yang berhasil mengubah persoalan sampah menjadi sumber ekonomi pesantren.

Andika menjelaskan, gerakan tersebut berawal dari persoalan penumpukan sampah di Kota Yogyakarta. Dari situ, para santri mulai bergerak melalui slogan “Pilah, Olah, Berkah”.

Salah satu inovasi yang diterapkan yakni pemilahan sampah hingga 36 kategori berbeda. Jumlah tersebut disebut melampaui sistem pemilahan sampah di sejumlah negara maju seperti Jepang dan Swedia.

Berkat sistem tersebut, volume sampah harian di pesantren yang sebelumnya mencapai dua ton berhasil ditekan menjadi hanya sekitar 100 kilogram per hari.

“Dulu sampah dianggap kotor dan tidak berguna. Sekarang sampah itu investasi,” ujar Andika.

Ia menyebut, sebelumnya pesantren harus mengeluarkan biaya hingga Rp 30 juta per bulan untuk membuang sampah. Namun kini, pesantren justru mampu memperoleh pendapatan hingga Rp 20 juta per bulan dari hasil pengelolaan sampah.

Selain membahas pengelolaan sampah, kegiatan tersebut juga diisi sosialisasi Digdaya Pesantren NU oleh Sekretaris RMI PCNU Purworejo, Muhammad Syukri Abadi.

Melalui program Digdaya Pesantren x Portal Pesantren NU, pesantren-pesantren NU didorong memiliki identitas digital resmi yang memuat profil, lokasi, hingga sistem pendaftaran santri secara daring.

“Ini bukan sekadar pendataan pesantren, tetapi cara agar pesantren NU lebih terlihat, lebih terhubung, dan lebih berdaya di era digital,” kata Syukri.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar