Editor
KOMPAS.com - Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon terus menunjukkan langkah progresif dalam membangun wawasan global para santrinya. Selama tujuh bulan terakhir, sejak November 2025 hingga Mei 2026, sebanyak 300 santri telah diberangkatkan ke China dalam program study tour internasional yang dilaksanakan dalam lima gelombang.
Program tersebut diikuti para santri dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SMP IT, SMA Unggulan Bertaraf Internasional, SMK Broadcast, Madrasah Aliyah Unggulan Bertaraf Internasional, hingga SMP Unggulan.
Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia, KH Imam Jazuli Lc MA, mengatakan bahwa program ini bertujuan membuka cakrawala berpikir para santri terhadap perkembangan dunia internasional, khususnya negara-negara yang berhasil membangun kemajuan di berbagai bidang.
Baca juga: Pesantren Rasa Korporasi: BIMA Melejit dengan 3 Kampus, 5.000 Santri, hingga Jaringan 16 Negara
“Kalau Indonesia ingin maju, maka belajarlah dari negara yang sudah maju. Tidak ada negara yang ujug-ujug maju kecuali setelah belajar dari negara lain yang lebih maju. Inilah yang saya sebut sebagai hukum peradaban,” ujar Kiai Imam Jazuli saat melepas keberangkatan santri, dalam keterangan tertulis, Selasa (2/6/2026).
Menurutnya, China menjadi salah satu negara yang layak dipelajari karena mampu bangkit dari berbagai tantangan sejarah hingga menjelma sebagai kekuatan dunia dalam bidang teknologi, pendidikan, ekonomi, industri, fashion, hingga arsitektur.
Melalui program tersebut, para santri tidak hanya diajak berwisata internasional, tetapi juga belajar langsung tentang budaya inovasi, disiplin, serta kerja keras yang menjadi fondasi kemajuan sebuah bangsa.
Selama berada di China, Macau, dan Hong Kong, para santri mengunjungi berbagai destinasi edukatif dan pusat keunggulan modern. Di Hong Kong, rombongan diajak mengunjungi Kowloon Mosque and Islamic Centre yang menjadi salah satu masjid tertua dan terbesar di wilayah tersebut.
Mereka juga menyambangi Avenue of Stars yang menampilkan jejak para tokoh perfilman legendaris Hong Kong.
Sementara di Shenzhen, para santri diajak melihat langsung Shenzhen Industrial Park yang dikenal sebagai pusat inovasi teknologi dan ekosistem industri digital China.
Tak hanya itu, mereka juga mengunjungi Shenzhen Zhongshuge Bookstore, toko buku ikonik dengan desain arsitektur futuristik yang mendunia.
Untuk agenda company visit, para santri berkesempatan mengunjungi Rixin Cosmetic di Zhongshan, salah satu perusahaan kosmetik besar di China yang produknya telah dipasarkan ke berbagai negara.
Menurut panitia, pengalaman tersebut memberi dampak besar terhadap pola pikir dan cita-cita para santri. Banyak di antara mereka kini tertarik melanjutkan pendidikan tinggi di China.
Tahun ini, sebanyak 64 lulusan Bina Insan Mulia berhasil diterima di 15 kampus di China melalui jalur beasiswa. Bahkan, untuk tahun 2027 sudah ada 128 santri yang mendaftar untuk melanjutkan studi ke Negeri Tirai Bambu.
Beberapa kampus tujuan para santri antara lain Zhejiang University, Beijing Institute of Technology, Sichuan University, Jiangsu University, hingga National Chi Nan University.
Baca juga: Ponpes Bina Insan Mulia Bongkar Rahasia Ledakan Jumlah Santri, KH Imam Jazuli Soroti Kekuatan Medsos
Kiai Imam Jazuli menilai kampus-kampus di China memiliki kekuatan besar dalam pengembangan STEM atau science, technology, engineering, dan mathematics, serta keterhubungan yang kuat dengan kebutuhan industri dan pembangunan nasional.
“Karena saya ingin santri-santri saya berperan di sejumlah posisi strategis pembangunan Indonesia, maka mereka saya dorong dan saya fasilitasi untuk menimba ilmu di China sebagai pusat kemajuan hari ini,” pungkasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang