Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PBNU Tolak Tuduhan Zionisme, Gus Yahya: NU Konsisten Bela Kemerdekaan Palestina

Kompas.com, 4 Juni 2026, 06:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya akhirnya buka suara terkait berbagai tuduhan yang mengaitkan dirinya dan PBNU dengan Zionisme.

Ia menegaskan bahwa sikap PBNU terhadap Palestina tidak pernah berubah dan tetap konsisten mendukung kemerdekaan serta kedaulatan rakyat Palestina.

"Saya tegaskan: sikap saya dan PBNU terhadap Palestina tidak berubah. NU tetap mendukung hak rakyat Palestina untuk merdeka, berdaulat, dan hidup bermartabat. NU menolak penjajahan, kekerasan brutal, genosida, dan penindasan terhadap rakyat Palestina," kata Gus Yahya dalam keterangannya, Rabu (3/6/2026).

Baca juga: PBNU Bantah Tuduhan Penyimpangan Rekening, Siap Audit Terbuka

Ia menegaskan bahwa PBNU secara konsisten menyuarakan hak Palestina untuk memiliki negara yang merdeka dan berdaulat.

Menurut dia, organisasi yang dipimpinnya juga mengutuk tindakan brutal pemerintah Israel di Gaza yang telah menimbulkan korban kemanusiaan dalam jumlah besar.

"NU konsisten menyuarakan hak Palestina untuk memiliki negara merdeka dan berdaulat, serta mengutuk tindakan brutal pemerintah Israel di Gaza sebagai tindakan genocidal yang harus dihentikan komunitas internasional," ujarnya.

Baca juga: Dari Papua hingga Palestina, NU Care-LAZISNU Perluas Distribusi Kurban

Gus Yahya juga membantah tudingan yang menyebut langkah diplomasi dan dialog yang dilakukan PBNU dengan berbagai pihak internasional sebagai bentuk dukungan terhadap Israel atau agenda Zionisme.

Menurut dia, tuduhan tersebut muncul karena adanya kesalahpahaman terhadap pendekatan diplomasi yang selama ini ditempuh Nahdlatul Ulama dalam berbagai forum internasional.

"PBNU percaya bahwa perjuangan Palestina membutuhkan banyak jalur, doa, bantuan kemanusiaan, advokasi politik, diplomasi internasional, dan engagement dengan berbagai pihak," jelas Gus Yahya.

Ia menegaskan bahwa dialog dengan pihak yang memiliki pandangan berbeda tidak dapat diartikan sebagai bentuk dukungan terhadap pandangan atau kebijakan mereka.

"Engagement bukan endorsement. Dialog bukan pembenaran. Bertemu pihak-pihak yang berbeda bukan berarti tunduk pada agenda mereka," tegasnya.

Menurut Gus Yahya, tradisi keilmuan dan kebijaksanaan yang selama ini dipegang Nahdlatul Ulama justru mengajarkan pentingnya berbicara dengan berbagai pihak demi mencegah kerusakan yang lebih besar dan membuka jalan bagi kemaslahatan.

"Dalam tradisi NU, hikmah menuntut keberanian berbicara kepada siapa pun demi mencegah mafsadah yang lebih besar dan membuka jalan kemaslahatan," ucapnya.

Selain soal diplomasi, Gus Yahya juga menanggapi tuduhan yang mengaitkan forum Religion of Twenty (R20) dengan agenda Zionisme internasional. Menurut dia, tuduhan tersebut sama sekali tidak memiliki dasar.

Ia menjelaskan bahwa R20 merupakan forum tokoh agama dunia yang digagas PBNU untuk menghadirkan nilai-nilai agama dalam percakapan global terkait perdamaian, kemanusiaan, dan masa depan peradaban dunia.

"R20 bukan forum Zionisme. R20 adalah ikhtiar NU membawa nilai agama ke meja percakapan global: perdamaian, martabat manusia, penghormatan antarbangsa, dan pencegahan politisasi identitas keagamaan," ungkap Gus Yahya.

Baca juga: 195.326 Jemaah Haji Indonesia Bayar Dam, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Ia mengingatkan bahwa forum tersebut lahir pada masa Presidensi G20 Indonesia dan diselenggarakan sebagai wadah dialog lintas agama serta lintas bangsa untuk memperkuat komitmen bersama terhadap perdamaian dunia.

"NU mendirikan R20 untuk menyediakan platform global bagi para pemimpin agama lintas iman dan bangsa agar menyuarakan nilai-nilai peradaban bersama," ujarnya.

Gus Yahya juga menolak anggapan bahwa PBNU bersikap lunak terhadap Israel. Menurut dia, rekam jejak organisasi selama ini menunjukkan keberpihakan yang jelas kepada rakyat Palestina, baik melalui pernyataan politik maupun aksi kemanusiaan.

Ia menyebut NU Care-LAZISNU bersama sejumlah badan otonom Nahdlatul Ulama telah menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi warga Palestina yang terdampak konflik.

"Komitmen NU untuk Palestina bukan hanya pernyataan. NU Care-LAZISNU dan badan otonom NU telah menyalurkan bantuan kemanusiaan," katanya.

Karena itu, Gus Yahya menilai tuduhan bahwa PBNU berpihak kepada Zionisme atau mendukung penindasan terhadap rakyat Palestina bertentangan dengan fakta dan aktivitas kemanusiaan yang selama ini dilakukan organisasi tersebut.

"Maka tuduhan bahwa PBNU lunak terhadap penindasan Israel atau berpihak kepada Zionisme jelas bertentangan dengan sikap, pernyataan, dan kerja kemanusiaan yang telah dilakukan," tegasnya.

Dalam klarifikasinya, Gus Yahya juga memaparkan garis sikap resmi PBNU terkait konflik Palestina-Israel.

Ia menegaskan bahwa organisasi tersebut mendukung kemerdekaan dan kedaulatan Palestina, mengutuk kekerasan brutal di Gaza, menolak kolonialisme dan apartheid, serta mendukung perdamaian yang adil berdasarkan hukum internasional.

"PBNU harus menyatakan garis sikap dengan terang, mendukung kemerdekaan dan kedaulatan Palestina, mengutuk kekerasan brutal dan tindakan genocidal di Gaza, menolak kolonialisme, apartheid, dan penindasan," ungkapnya.

Baca juga: Gus Yahya: Pemimpin Baru NU Masa Depan Harus Paham Isu Global

Di sisi lain, PBNU juga menolak segala bentuk kebencian berbasis identitas, termasuk antisemitisme dan Islamofobia.

"PBNU menolak antisemitisme sebagai kebencian rasial-keagamaan. PBNU juga menolak Islamofobia dan semua bentuk kebencian berbasis identitas," kata Gus Yahya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa PBNU akan tetap membuka ruang dialog dan engagement strategis dengan berbagai pihak selama hal itu ditujukan untuk kemaslahatan serta tidak mengorbankan prinsip-prinsip yang selama ini dipegang organisasi.

"Kami mendukung diplomasi, hukum internasional, dan perdamaian yang adil. Kami juga tetap membuka engagement strategis sepanjang diarahkan untuk kemaslahatan dan tidak mengorbankan prinsip," ujar Gus Yahya.

Ia berharap warga Nahdlatul Ulama dapat melihat persoalan tersebut secara jernih dan tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang berupaya mengaitkan PBNU dengan agenda Zionisme tanpa dasar yang jelas.

Menurutnya, sikap Nahdlatul Ulama terhadap Palestina selama ini sudah sangat terang, yakni mendukung kemerdekaan rakyat Palestina, menolak penjajahan, serta memperjuangkan perdamaian yang adil bagi seluruh pihak.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Paspor Hilang di Jeddah, Petugas Haji Gerak Cepat Selamatkan Emak Ijah
Paspor Hilang di Jeddah, Petugas Haji Gerak Cepat Selamatkan Emak Ijah
Aktual
Kisah-kisah Anak Berbakti di Haji 2026: Demi Ibu, Gushendra Latihan Jalan 3 Km Per Hari
Kisah-kisah Anak Berbakti di Haji 2026: Demi Ibu, Gushendra Latihan Jalan 3 Km Per Hari
Aktual
Wajah Baru Pesantren Abad 21: Padukan Al-Qur'an dan Sains Modern
Wajah Baru Pesantren Abad 21: Padukan Al-Qur'an dan Sains Modern
Aktual
Hamzah Sahal: Demokrasi di NU Memang Bising, tapi Itu Normal
Hamzah Sahal: Demokrasi di NU Memang Bising, tapi Itu Normal
Aktual
Aisyiyah Dorong Dakwah Kemanusiaan lewat Pendidikan, Kesehatan dan Aksi Sosial
Aisyiyah Dorong Dakwah Kemanusiaan lewat Pendidikan, Kesehatan dan Aksi Sosial
Aktual
Jemaah Haji Lebak Meninggal karena Jatuh di Tempat Wudhu Makkah
Jemaah Haji Lebak Meninggal karena Jatuh di Tempat Wudhu Makkah
Aktual
Jelang Muktamar, Hamzah Sahal Optimistis Masa Depan NU Semakin Kuat
Jelang Muktamar, Hamzah Sahal Optimistis Masa Depan NU Semakin Kuat
Aktual
Warisan Gus Dur untuk Gen Z, Hamzah Sahal Soroti Dua Nilai Penting
Warisan Gus Dur untuk Gen Z, Hamzah Sahal Soroti Dua Nilai Penting
Aktual
PBNU Tolak Tuduhan Zionisme, Gus Yahya: NU Konsisten Bela Kemerdekaan Palestina
PBNU Tolak Tuduhan Zionisme, Gus Yahya: NU Konsisten Bela Kemerdekaan Palestina
Aktual
Tak Ada Riwayat Sakit, Jemaah Haji Jember Meninggal dalam Tidur di Mekkah
Tak Ada Riwayat Sakit, Jemaah Haji Jember Meninggal dalam Tidur di Mekkah
Aktual
Daging Dam Jamaah Haji Indonesia Disalurkan ke Palestina untuk Warga Gaza, Dikirim via Mesir
Daging Dam Jamaah Haji Indonesia Disalurkan ke Palestina untuk Warga Gaza, Dikirim via Mesir
Aktual
Sejumlah Penerbangan Jemaah Haji Indonesia Delay di Jeddah, PPIH Minta Maskapai Penuhi Hak Jamaah
Sejumlah Penerbangan Jemaah Haji Indonesia Delay di Jeddah, PPIH Minta Maskapai Penuhi Hak Jamaah
Aktual
Petugas Masih Temukan Jemaah Haji Langgar Aturan Bagasi, Bawa Koper Berlebih hingga Simpan Zamzam
Petugas Masih Temukan Jemaah Haji Langgar Aturan Bagasi, Bawa Koper Berlebih hingga Simpan Zamzam
Aktual
Wamenkes Sebut Skrining Ketat dan Active Case Finding Kunci Jaga Kesehatan Jamaah Haji
Wamenkes Sebut Skrining Ketat dan Active Case Finding Kunci Jaga Kesehatan Jamaah Haji
Aktual
Wamenhaj Tegur Garuda Indonesia Usai Pesawat Jamaah Haji Delay Berjam-jam di Jeddah
Wamenhaj Tegur Garuda Indonesia Usai Pesawat Jamaah Haji Delay Berjam-jam di Jeddah
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com