Editor
KOMPAS.com – Mantan Wakil Presiden Ke-13 RI, Prof Dr KH Ma'ruf Amin, menyatakan dukungannya terhadap gerakan transformasi pesantren yang digagas Pengasuh Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2, KH Imam Jazuli.
Dukungan tersebut disampaikan saat menjadi keynote speaker pada Workshop Pengasuh Pesantren Se-Indonesia Angkatan ke-5 yang diikuti sekitar 400 pengasuh pesantren dari Banten, DKI Jakarta, dan Lampung.
Kegiatan yang berlangsung di Joglo Agung Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2, Sabtu (4/7/2026), mengangkat tema transformasi pesantren sebagai upaya memperkuat daya saing lembaga pendidikan Islam menghadapi perubahan zaman.
Dalam sambutannya, KH Ma'ruf Amin mengapresiasi langkah KH Imam Jazuli yang menargetkan pelatihan bagi 5.000 kiai dari berbagai daerah di Indonesia.
"Workshop yang mengangkat tema transformasi pesantren ini sebetulnya menjadi langkah konkret dari realisasi pemikiran para kiai pesantren zaman dulu (at-tafkir al-ma'hadi). Karena itu, saya mengapresiasi langkah Kiai Imam Jazuli untuk meneruskan tradisi yang baik ini," ungkap KH Ma'ruf Amin dalam keterangan tertulis, Senin (6/7/2026).
Baca juga: Peluang Cirebon Jadi Lokasi Muktamar NU ke-35 Menguat, Pesantren Buntet Dinilai Penuhi Syarat
Menurutnya, pesantren tidak lagi cukup hanya mencetak ulama yang mendalami ilmu agama (al-mutafaqqihun), tetapi juga harus melahirkan generasi pemimpin yang mampu membangun peradaban melalui penguasaan sains dan teknologi.
"Karena itu, saya mengajak masyarakat kiai untuk menerapkan cara berpikir yang terbuka terhadap kemajuan ilmu pengetahuan. Saya sendiri bekerja sama dengan kampus di China untuk pengembangan sains dan teknologi," tegasnya.
Sementara itu, KH Imam Jazuli mengajak para pengasuh pesantren untuk memiliki keberanian melakukan transformasi agar tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat.
"Bukan perubahan yang membuat suatu lembaga itu mati, tetapi cara kita dalam memberikan respons itulah yang akan menentukan hidup dan matinya lembaga," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa dunia pendidikan, termasuk pesantren, kini menghadapi era disrupsi digital yang mengubah perilaku dan harapan masyarakat.
"Itulah yang disebut disrupsi digital atau perubahan yang mengacaukan tatanan lama. Disrupsi menghasilkan pilihan informasi yang berlimpah. Disrupsi mendorong perubahan ekspektasi dan harapan masyarakat sehingga ketika kita gagal merespons perubahan, sudah jelas kita ditinggalkan dan dimarjinalkan zaman," jelas KH Imam Jazuli.
Menurutnya, menurunnya jumlah santri di sebagian pesantren bukan berarti minat masyarakat terhadap pendidikan pesantren berkurang.
Yang terjadi justru perpindahan minat ke pesantren yang mampu menjawab kebutuhan zaman.
"Saya lebih yakin bahwa yang terjadi adalah terjadinya migrasi, perpindahan dari pesantren model A ke pesantren model B. Ada banyak pesantren lama yang turun jumlah peminatnya, dan sebaliknya ada pesantren baru yang jumlah santrinya membeludak," paparnya.
Kiai Imam Jazuli juga mengingatkan besarnya potensi pengembangan pesantren di Indonesia.
Berdasarkan data yang disampaikannya, terdapat lebih dari 53 juta penduduk usia sekolah, sementara jumlah santri yang tercatat di Kementerian Agama masih kurang dari 4 juta orang.
"Artinya, masih sangat banyak jumlah penduduk Indonesia yang bisa diajak masuk pesantren. Tapi tentu butuh pesantren yang diterima oleh zaman ini," katanya.
Dalam workshop yang berlangsung selama 16 jam tersebut, KH Imam Jazuli membahas berbagai strategi transformasi pesantren, mulai dari pembaruan kurikulum, pengelolaan sumber daya manusia dan keuangan, peningkatan daya tarik pesantren bagi generasi muda, hingga penguatan branding, digital marketing, akses ke perguruan tinggi negeri, serta peluang memperoleh beasiswa ke luar negeri.
Baca juga: Menag: Pesantren Jadi Benteng Karakter Bangsa, Sekolah Paling Aman Dunia dan Akhirat
Panitia sekaligus moderator, Ubaydillah Anwar, mengatakan program tersebut akan dilanjutkan dengan pelatihan khusus bagi tim media pesantren agar mampu memperkuat publikasi dan komunikasi digital lembaga.
Salah seorang peserta, KH Basyirun R MA dari Banten, mengaku memperoleh banyak wawasan baru setelah mengikuti workshop tersebut.
"Arahan dan pilihan strategi yang disampaikan Kiai Imam Jazuli sangat membumi, bisa diterapkan langsung, dan sudah terbukti hasilnya," ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang