Editor
BANDUNG, KOMPAS.com – Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU), Wakil Ketua Komisi V DPR RI Syaiful Huda menilai organisasi tersebut membutuhkan sosok pemimpin yang mampu memadukan karakter kepemimpinan KH Idham Chalid dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Menurutnya, perpaduan kedua tokoh itu penting agar NU memiliki pemimpin yang mampu membangun komunikasi dengan berbagai pihak sekaligus tetap dekat dengan warga nahdliyin.
"Saya kira bisa dikombinasikan karakter kepemimpinan Kyai Idham Chalid dan karakter kepemimpinan Gus Dur untuk pemimpin di masa yang akan datang. Jadi Pak Idham Chalid semangatnya sangat lentur, sangat fleksibel. Di saat yang sama kita butuh sosok Gus Dur yang mewakili arus bawah," kata Syaiful.
Baca juga: Hadapi Tantangan Kebangsaan, Gus Rozin Paparkan 5 Strategi NU
Gagasan tersebut disampaikan dalam diskusi umum NLA Lecture Series #1 bertema "Menelusuri Jejak Keteladanan Pemimpin NU dari Masa ke Masa" yang digelar di Creative Hall, Jalan KH Ahmad Dahlan, Kota Bandung.
Diskusi menghadirkan Burhanuddin Muhtadi, Guru Besar Australian National University Greg Fealy, dan sejarawan Iip D. Yahya sebagai narasumber.
Syaiful menjelaskan, KH Idham Chalid dikenal sebagai sosok yang mampu menjalin komunikasi dengan kekuasaan tanpa meninggalkan kepentingan organisasi.
Sementara itu, Gus Dur memiliki karakter kritis terhadap kekuasaan sekaligus dekat dengan aspirasi warga nahdliyin.
Menurut dia, perpaduan kedua karakter tersebut menjadi bekal penting bagi kepemimpinan NU di masa depan.
Ia berharap Muktamar NU mendatang melahirkan kepemimpinan yang mampu menjaga keseimbangan antara otoritas keulamaan dan profesionalisme dalam mengelola organisasi.
"Kita sangat berharap otoritas keulamaan bisa menjadi role model di masa yang akan datang. Jadi di level Rais Aam ada otoritas keulamaan yang karismatik, sedangkan di jajaran tanfidziyah melengkapi dengan sosok yang memiliki kemampuan manajerial organisasi yang mumpuni," ujarnya.
Baca juga: 30 Hari Jelang Muktamar NU, Survei Insantara: KH Imam Jazuli Teratas
Dalam diskusi yang sama, Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi menilai kepemimpinan PBNU saat ini perlu menjadi bahan evaluasi agar organisasi kembali memperkuat kedekatan dengan warga nahdliyin.
"Kepemimpinan PBNU terakhir patut untuk dievaluasi karena terlalu menyantol ke atas sehingga kurang merawat umat. Kepentingan nahdliyinnya itu kurang disantuni," kata Burhanuddin.
Menurut dia, NU membutuhkan figur yang mampu menjembatani hubungan dengan negara tanpa kehilangan kedekatan dengan basis jamaah.
"Menurut saya, kita perlu mencari kombinasi antara Kyai Idham dan Gus Dur. Kyai Idham itu figur yang sangat kuat ke atas, sedangkan Gus Dur sangat kuat ke bawah. Kita patut mencari kombinasi dari dua figur itu," ungkap dia.
Kegiatan yang diselenggarakan DPW PKB Jawa Barat itu dihadiri Ketua PWNU Jawa Barat KH Juhadi Muhammad, Rois Syuriah dan Ketua Tanfidziyah PCNU se-Jawa Barat, serta jajaran pengurus dan kader PKB.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang