Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Alasan Penduduk Madinah Menerima Islam dengan Tangan Terbuka

Kompas.com, 9 September 2025, 10:10 WIB
Agus Susanto

Penulis

KOMPAS.com - Ketika dakwah Islam mengalami hambatan yang sangat berat di Mekkah, Allah memberikan pertolongan melalui perantaraan penduduk Madinah.

Saat musim haji, beberapa penduduk Madinah datang ke Mekkah dan ditemui oleh Rasulullah Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa dirinya adalah seorang Nabi yang ditugaskan menyampaikan agama Islam.

Mendengar seruan Rasulullah Muhammad SAW, penduduk Madinah dengan tangan terbuka menerima Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan menerima ajaran Islam dengan sepenuhnya.

Mengapa semudah itu penduduk Madinah menerima Nabi Muhammad SAW dan Islam? Begini penjelasan lengkapnya.

Baca juga: Kisah Dakwah Nabi Muhammad SAW ke Thaif

Kondisi Madinah Sebelum Kedatangan Islam

Madinah atau yang dulu bernama Yastrib merupakan sebuah kota yang terletak di sebelah utara Mekkah. Jaraknya sekitar kurang lebih 500 km.

Nama Yatsrib sendiri diambil dari nama orang yang pertama kali mendiami wilayah tersebut, yaitu Yatsrib bin Qaniyah. Ia merupakan pengikut Nabi Nuh yang selamat dari banjir besar.

Wilayah Yatsrib cukup subur dan banyak ditumbuhi pohon-pohon kurma. Sebelum kedatangan Nabi, Yatsrib dihuni oleh dua kabilah Arab terbesar, yaitu Aus dan Khazraj.

Kedua kabilah ini sering berperang untuk memperebutkan dominasi di Yatsrib. Perselisihan ini akhirnya berakhir semenjak kedatangan Islam.

Selain itu, ada kelompok Yahudi yang bermukim disana. Tiga kabilah besar Yahudi di Yatsrib adalah Bani Qainuqa’, Bani Nadzir, dan Bani Quraidzah. Mereka menguasai dan mengendalikan perekonomian di Yatsrib.

Berdasarkan sejarah, kaum Yahudi menghuni Yatsrib berdasarkan berita Taurat yang menyebutkan bahwa Nabi akhir jaman akan datang di sebuah wilayah yang banyak ditumbuhi pohon kurma. Yatsrib cocok dengan berita tersebut.

Baca juga: Mengenal Istri-istri Nabi Muhammad SAW

Kaum Yahudi mulai tinggal di Yatsrib sejak jaman Nabi Musa. Saat Nabi Musa mengadakan perjalanan ke Mekkah untuk berhaji, sebagian umatnya menetap di Yatsrib saat melewatinya.

Selain itu, penyerangan Nebukhadnezar dari Babilonia dan Kerajaan Romawi membuat orang-orang Yahudi mengungsi ke sana.

Awal Pertemuan Nabi Muhammad SAW dengan Penduduk Madinah

Pada tahun kesebelas Nubuwah, datang serombongan jamaah haji dari Madinah, mereka berasal dari Suku Khazraj yang terdiri dari:
1. As’ad bin Zurarah

2. Auf bin Harits

3. Rafi’ bin Malik

4. Quthbah bin Amir

5. Uqbah bin Amir

6. Jabir bin Abdullah.

Rasulullah segera menemui mereka dan menyampaikan dakwah. Untungnya, mereka sudah pernah mendengar dari orang-orang Yahudi yang menjadi sekutu mereka di Yatsrib mengenai munculnya seorang Nabi.

Baca juga: Berbagai Intimidasi Dakwah Nabi Muhammad SAW di Mekkah

Alasan Penduduk Madinah Menerima Islam

Penduduk Madinah pernah mendengar orang-orang Yahudi mengatakan,"Sesungguhnya zaman kedatangan nabi yang diutus telah dekat. Kita akan mengikutinya dan dengannya kami akan menghabisi kalian seperti pembantaian terhadap orang-orang Ad dan Iram."

Ancaman orang-orang Yahudi itu benar-benar tertanam dalam benak penduduk Madinah. Maka Ketika beberapa penduduk Madinah bertemu dengan Nabi Muhammad SAW, seruan itu disambut dengan baik.

"Wahai kaumku. Demi Tuhan, inilah Nabi yang diceritakan oleh orang-orang Yahudi kepada kalian. Oleh karena itu, kalian jangan kalah cepat menerimanya dari orang-orang Yahudi itu," ujar pemimpin jamaah haji dari Madinah itu.

“Kami tidak akan membiarkan kaum kami dan kaum yang lain terus bermusuhan dan berbuat jahat. Semoga Allah menyatukan mereka dengan engkau. Kami akan menemui mereka dan mengajak mereka kepada agama engkau. Kami akan menemui menawarkan agama yang telah kami peluk ini. Jika Allah menyatukan mereka, maka tidak ada orang yang lebih mulia selain daripada engkau,” lanjutnya.

Islam diterima dengan tangan terbuka oleh perwakilan penduduk Madinah. Nabi kemudian mengirimkan utusan untuk menyebarkan Islam di Madinah. Mush'ab bi Umair adalah sahabat yang dikirim ke Madinah.

Dakwah Mush'ab bin Umair dapat diterima dengan baik oleh penduduk Madinah. Bahkan ia berhasil mendamaikan suku Aus dan Khazraj yang selama ini saling bermusuhan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
AKUMINDO: Biaya dan Minimnya Dorongan Pasar Masih Jadi Hambatan UMKM Urus Sertifikasi Halal
AKUMINDO: Biaya dan Minimnya Dorongan Pasar Masih Jadi Hambatan UMKM Urus Sertifikasi Halal
Aktual
PBNU Jadwalkan Muktamar NU 2026 pada 1-5 Agustus, Lokasi Belum Diputuskan
PBNU Jadwalkan Muktamar NU 2026 pada 1-5 Agustus, Lokasi Belum Diputuskan
Aktual
Bakom RI Sebut Penyelenggaraan Haji 2026 Sukses, Pemerintah Targetkan Persingkat Masa Tunggu
Bakom RI Sebut Penyelenggaraan Haji 2026 Sukses, Pemerintah Targetkan Persingkat Masa Tunggu
Aktual
Munas Alim Ulama NU 2026 Dorong Pemerintah Lindungi Data Pribadi WNI dari Akses Negara Asing
Munas Alim Ulama NU 2026 Dorong Pemerintah Lindungi Data Pribadi WNI dari Akses Negara Asing
Aktual
AI Dinilai Tidak Bisa Gantikan Guru dan Tradisi Keilmuan Islam
AI Dinilai Tidak Bisa Gantikan Guru dan Tradisi Keilmuan Islam
Aktual
Ketua MUI Bidang Fatwa Sebut Orientasi Seksual Sesama Jenis Bukan Fitrah, Minta Ada Rehabilitasi
Ketua MUI Bidang Fatwa Sebut Orientasi Seksual Sesama Jenis Bukan Fitrah, Minta Ada Rehabilitasi
Aktual
Alasan Fatwa MUI Banyak Mengacu ke Mazhab Syafii, Ini Penjelasan Prof KH Asrorun Niam Sholeh
Alasan Fatwa MUI Banyak Mengacu ke Mazhab Syafii, Ini Penjelasan Prof KH Asrorun Niam Sholeh
Aktual
Jadwal Puasa Tasua dan Asyura 2026, Lengkap dengan Niat dan Keutamaannya
Jadwal Puasa Tasua dan Asyura 2026, Lengkap dengan Niat dan Keutamaannya
Aktual
Jelang Munas dan Konbes NU, Ulama dan Pengurus PCNU se-Jatim Bedah Kitab KH Zulfa Mustofa
Jelang Munas dan Konbes NU, Ulama dan Pengurus PCNU se-Jatim Bedah Kitab KH Zulfa Mustofa
Aktual
DPR Setujui Anggaran Kemenag Rp 41,8 Triliun untuk Madrasah dan Insentif Guru
DPR Setujui Anggaran Kemenag Rp 41,8 Triliun untuk Madrasah dan Insentif Guru
Aktual
Arab Saudi Mulai Panen Kurma Perdana, Varietas Sukkari hingga Khalas Siap Penuhi Pasar
Arab Saudi Mulai Panen Kurma Perdana, Varietas Sukkari hingga Khalas Siap Penuhi Pasar
Aktual
Hadiah untuk Pejabat dalam Perspektif Islam
Hadiah untuk Pejabat dalam Perspektif Islam
Aktual
Aisyiyah Usulkan Gizi Ibu dan Anak Jadi Prioritas Sejak Masa Darurat saat Bencana
Aisyiyah Usulkan Gizi Ibu dan Anak Jadi Prioritas Sejak Masa Darurat saat Bencana
Aktual
Kisah Ipang, WNI yang Sukses Jual 500 Porsi Bakso per Hari di Jabal Magnet Madinah
Kisah Ipang, WNI yang Sukses Jual 500 Porsi Bakso per Hari di Jabal Magnet Madinah
Aktual
Baznas Kaji Zakat Bantu Korban Pinjol Ilegal dan 'Human Trafficking'
Baznas Kaji Zakat Bantu Korban Pinjol Ilegal dan "Human Trafficking"
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com