Penulis
KOMPAS.com - Shalahuddin Al Ayyubi adalah sosok yang harum namanya dalam sejarah Islam. ia adalah seorang pemimpin yang dihormati kawan dan disegani lawan. Merintis karir sebagai pendamping Sang Paman, berakhir menjadi seorang Penguasa yang luar biasa.
Kiprah terbesar Shalahuddin Al Ayyubi adalah menaklukkan Yerusalem dalam perang Suci yang disebut dengan Perang Salib. Sepanjang hidupnya ia mengabdikan diri untuk menegakkan dan meninggikan Islam.
Kisah hidupnya patut dikenang untuk dijadikan pelajaran bagi generasi mendatang. Berikut ini kisah hidup Shalahuddin Al Ayyubi dari lahir hingga wafat lengkap dengan pencapaian selama menjadi pemimpin Dinasti Ayyubiyah.
Baca juga: Usianya Belum 22 Tahun, Al-Fatih Taklukkan Kota yang Dianggap Mustahil
Shalahuddin lahir pada antara tahun 1137 dan 1138 M atau 532 H di Tikrit, wilayah Mesopotamia (kini Irak). Sejarawan klasik Ibnu Khallikan dalam Wafayat al-A‘yan mencatat bahwa ia berasal dari keluarga Kurdi yang memiliki tradisi militer dan administrasi.
Malam kelahirannya bertepatan dengan pengusiran keluarganya dari Tikrit akibat konflik politik. Ayahnya, Najmuddin Ayyub, adalah pejabat militer yang kemudian mengabdi pada penguasa Mosul dan Aleppo.
Sejak awal, hidup Shalahuddin dibingkai oleh perpindahan, ketidakpastian, dan kekuasaan. Pengalaman pahit inilah yang menempa Shalahuddin kecil menjadi manusia yang tangguh dalam segala keadaan dan berjuang mengakkan keadilan.
Menariknya, Shalahuddin muda bukan sosok yang bercita-cita menjadi panglima perang. Dalam Sirat Shalahuddin, biografi resmi yang ditulis sahabat dekatnya Baha’uddin Ibn Syaddad, ia digambarkan sebagai pemuda yang mencintai ilmu-ilmu agama, seperti fikih, hadits, sastra Arab, dan teologi Sunni.
Namun sejarah bergerak cepat. Ia mengikuti pamannya, Asaduddin Syirkuh, dalam ekspedisi militer ke Mesir atas perintah Nuruddin Zanki, penguasa Suriah yang bertekad menyatukan dunia Islam melawan Tentara Salib.
Baca juga: Fathu Makkah: Penaklukan Kota Mekkah Tanpa Pertumpahan Darah
Tahun 1169 M menjadi titik balik. Setelah wafatnya Sang Paman, Asaduddin Syirkuh, Shalahuddin diangkat sebagai wazir Mesir oleh Khalifah Fatimiyah yang bermazhab Syiah. Posisi ini sangat rawan, mengingat Shalahuddin adalah seorang Sunni. Sementara ia berada di jantung kekuasaan Syiah.
Namun menurut sejarawan Philip K. Hitti dalam History of the Arabs, keberadaan Shalahuddin di Mesir membawa era baru. Ia menata ulang struktur militer Mesir dan menguatkan pendidikan Sunni.
Puncaknya, ia mengakhiri Dinasti Fatimiyah secara bertahap tanpa gejolak besar. Langkah ini melahirkan Dinasti Ayyubiyah, fondasi politik terkuat dunia Islam abad ke-12.
Setelah wafatnya Nuruddin Zanki (1174 M), dunia Islam justru terancam konflik internal. Shalahuddin menghadapi para penguasa Muslim yang saling bersaing untuk memperluas wilayah.
Dalam The Life and Legend of the Sultan Saladin, Sejarawan Jonathan Phillips menegaskan bahwa keberhasilan Shalahuddin bukan semata faktor militer, tetapi kemampuan menyatukan wilayah.
Ia berhasil menyatukan Mesir, Suriah, Hijaz (Mekkah dan Madinah), Yaman, dan sebagian Irak. Keberhasilan ini membuatnya mempunyai pasukan yang besar untuk menghadapi Tentara Salib.
Baca juga: Kisah Umar bin Khattab: Pemimpin Berani dan Adil dalam Sejarah Islam
Pada 1187 M, pasukan Shalahuddin menghadapi Tentara Salib di Hattin, dekat Danau Tiberias. Dengan strategi memutus logistik dan memanfaatkan medan panas, pasukan Salib dihancurkan.
Sejarawan Barat Steven Runciman dalam A History of the Crusades menyebut Hattin sebagai titik balik terbesar Perang Salib, karena membuka jalan menuju Yerusalem.
Pertempuran demi pertempuran berlangsung melawan Tentara Salib. Hingga akhirnya pada tanggal 2 Oktober 1187, Shalahuddin berhasil menaklukkan Yerusalem.
Berbeda dengan tragedi 1099, dimana umat Islam dibantai hingga Yerusalem menjadi lautan darah, Shalahuddin justru melarang pembunuhan massal, mengizinkan penebusan tawanan, dan melindungi tempat suci Kristen dan Yahudi.
Bahkan penulis Kristen abad pertengahan seperti William of Tyre mencatat kebesaran sikap Shalahuddin. Inilah momen yang mengangkat namanya sebagai figur universal, bukan hanya pahlawan Muslim. Shalahuddin menjadi sosok yang dihormati kawan dan disegani lawan.
Salah satu penghormatan datang dari Richard I dari Inggris (Richard Lionheart). Keduanya tidak pernah bertemu langsung di medan duel, tetapi saling menunjukkan rasa hormat.
Dalam buku Saladin: The Politics of the Holy War, Malcolm Cameron Lyons menulis bahwa hubungan kedua tokoh ini mencerminkan standar kehormatan perang yang jarang ditemui dalam sejarah abad pertengahan.
Di balik kejayaan dan pencapaian yang luar biasa, Shalahuddin tetaplah seorang hamba yang zuhud. Ia hidup sederhana dan dermawan. Harta benda yang dimiliki banyak dibagikan kepada rakyat dan kebutuhan pasukan.
Ibn Syaddad mencatat bahwa saat wafat, harta pribadinya hampir tidak cukup untuk biaya pemakaman, karena telah disedekahkan untuk rakyat, ulama, dan pasukan.
Baca juga: Kisah Lengkap Ashabul Kahfi: 7 Pemuda Teladan Penggenggam Iman
Perjuangan Shalahuddin untuk mengharumkan Islam dan menyatukan umat mencapai titik akhir setelah Shalahuddin Al-Ayyubi wafat pada 4 Maret 1193 M di Damaskus, pada usia sekitar 55 tahun.
Menurut Sejarawan, Shalahuddin meninggal akibat penyakit tifus yang menyerangnya. Ia dimakamkan di dekat Masjid Umayyah, tanpa kemegahan yang mencerminkan luasnya wilayah kekuasaannya.
Warisan terbesar Shalahuddin bukan hanya wilayah yang ia kuasai, tetapi: