Penulis
KOMPAS.com - Malam Nisfu Sya’ban termasuk malam yang istimewa bagi umat Islam. Malam yang hadir pada pertengahan bulan Sya'ban, tepatnya malam ke-15 bulan Sya'ban ini merupakan malam yang penuh rahmat dan ampunan.
Banyak kaum Muslimin berharap agar dosa-dosa mereka dihapus dan hati mereka disucikan. Namun dalam keindahan malam pengampunan itu, Rasulullah SAW mengingatkan bahwa tidak semua hamba mendapat ampunan Allah.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari banyak jalur, Nabi Muhammad SAW bersabda:
يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَى خَلْقِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ
Artinya: “Allah melihat seluruh makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban, lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali orang yang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (HR. Ibnu Mājah dan Ath-Thabrani).
Baca juga: Nisfu Syaban 2026: Lupa Niat Malam, Puasa Ayyamul Bidh Tetap Sah?
Derajat hadits ini dinilai hasan shahih oleh banyak ulama hadits karena saling menguatkan antar-riwayat.
Dari hadits tersebut, Rasulullah SAW secara tegas menyebutkan dua golongan yang terhalang dari ampunan Allah.
Golongan pertama adalah orang musyrik, yaitu mereka yang menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun. Syirik bukan hanya menyembah berhala secara fisik, tetapi juga mencakup ketergantungan hati kepada selain Allah dengan keyakinan yang merusak tauhid.
Imam Ibn Katsir menjelaskan dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim bahwa syirik adalah dosa terbesar yang dapat menggugurkan seluruh amal. Bahkan Allah menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa dosa syirik tidak akan diampuni jika pelakunya tidak bertaubat sebelum wafat.
Karena itulah, pada malam Nisfu Sya’ban—malam ketika pintu ampunan dibuka selebar-lebarnya—syirik menjadi penghalang utama. Syirik adalah bentuk pengkhianatan terbesar manusia kepada Rabbnya.
Ini menunjukkan bahwa kemurnian tauhid lebih didahulukan daripada banyaknya ibadah lahiriah semata.
Baca juga: Nisfu Syaban 2026: Doa Berbuka Puasa dan Waktu Mustajab
Golongan kedua yang tidak mendapat ampunan adalah Musyahin, yaitu orang yang hatinya kotor dan membusuk. Orang tersebut dipenuhi kebencian, dendam, dan permusuhan terhadap sesama Muslim.
Dalam kitab Faidul Qadir karya Imam Al-Manawi, dijelaskan bahwa musyahin adalah orang yang memutus hubungan, menyimpan iri dan permusuhan, serta enggan berdamai meskipun mampu.
Permusuhan bukan hanya soal konflik besar, tetapi juga termasuk perbuatan mendiamkan saudara tanpa alasan syar‘i, menolak memaafkan, dan menyimpan kebencian bertahun-tahun.
Malam Nisfu Sya’ban seakan menjadi cermin batin: Allah tidak hanya melihat ibadah, tetapi juga kondisi hati hamba-Nya. Betapa banyak orang rajin berdoa, tetapi hatinya masih keras untuk memaafkan.
Imam Ibn Rajab Al-Hanbali dalam Latha’if Al-Ma‘arif menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan satu prinsip penting, yaitu ampunan Allah sangat dekat, tetapi hati manusia sering menjauhkannya sendiri.
Syirik merusak hubungan dengan Allah, sementara permusuhan merusak hubungan dengan manusia. Islam mengajarkan bahwa keselamatan hati dan tauhid adalah kunci turunnya rahmat Allah, terutama pada malam-malam mulia seperti Nisfu Sya’ban.
Baca juga: Amalan Malam Nisfu Syaban: Keutamaan, Dalil, dan Panduan Ibadah
Para ulama salaf menganjurkan agar menjelang malam Nisfu Sya’ban, seorang Muslim harus mensucikan dirinya dari segala sesuatu yang mengotorinya. Beberapa langkah yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut:
Tanpa ritual khusus, membersihkan hati justru menjadi amalan paling berat namun paling dicintai Allah.
Baca juga: Amalan Malam Nisfu Syaban: Mengetuk Pintu Ampunan di Bulan yang Sering Terlupakan
Malam Nisfu Sya’ban adalah malam penuh ampunan dan rahmat, namun Rasulullah SAW mengingatkan adanya dua golongan yang terhalang dari rahmat tersebut, yaitu:
1. Orang musyrik, karena rusaknya tauhid
2. Orang yang bermusuhan, karena kotornya hati
Pesan utama malam Nisfu Sya'ban bukanlah tentang ritual tertentu, melainkan tentang tauhid yang lurus dan hati yang bersih. Siapa pun yang ingin mengetuk pintu ampunan Allah di malam Nisfu Sya’ban, hendaknya datang dengan hati yang lapang dan jiwa yang tunduk.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang