Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengungkap Fakta Hajar Aswad, Batu Suci Pusat Ibadah Umat Islam

Kompas.com, 21 Januari 2026, 10:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Hajar Aswad selalu menjadi pusat perhatian jutaan umat Islam yang menunaikan ibadah haji dan umrah.

Terletak di sudut tenggara Ka’bah, batu hitam ini bukan sekadar penanda ritual thawaf, melainkan simbol spiritual yang sarat sejarah, makna teologis, dan perdebatan ilmiah modern.

Dalam tradisi Islam, Hajar Aswad diposisikan sebagai peninggalan suci yang berasal dari surga.

Sementara itu, sains mencoba mengungkap karakter fisiknya melalui pendekatan geologi dan astronomi.

Perjumpaan antara iman dan ilmu ini menjadikan Hajar Aswad sebagai objek kajian yang unik: sakral secara religius, tetapi juga menarik secara ilmiah.

Baca juga: Bagian-Bagian Kabah: Nama, Letak, dan Artinya dalam Islam

Kedudukan Hajar Aswad dalam Tradisi Islam

Dalam literatur hadis, Hajar Aswad disebut memiliki asal-usul yang istimewa. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ الْحَجَرَ الْأَسْوَدَ مِنَ الْجَنَّةِ

Innal hajaral aswada minal jannah.
Artinya: “Sesungguhnya Hajar Aswad berasal dari surga.” (HR At-Tirmidzi).

Dalam buku Tapak Sejarah Seputar Makkah-Madinah karya Muslim H. Nasution dijelaskan bahwa batu ini diyakini diturunkan oleh Allah sebagai bagian dari pembangunan Ka’bah pada masa Nabi Ibrahim AS.

Riwayat klasik yang dihimpun Imam Ath-Thabari menyebutkan bahwa Malaikat Jibril membawa Hajar Aswad dan menyerahkannya kepada Nabi Ibrahim sebagai penyempurna bangunan Baitullah.

Lebih jauh, Prof. Dr. Ali Husni Al-Kharbuthli dalam bukunya Sejarah Ka'bah menerangkan bahwa keberadaan Hajar Aswad bukan hanya elemen arsitektural, melainkan simbol penghubung antara dimensi langit dan bumi dalam ibadah manusia.

Baca juga: Apakah Hajar Aswad dari Bumi atau Luar Angkasa? Temuan Ilmiah Bertemu Keyakinan Iman

Awalnya Putih, Menghitam Karena Dosa Manusia

Salah satu riwayat paling terkenal menyebutkan bahwa Hajar Aswad tidak selalu berwarna hitam. Rasulullah SAW bersabda:

نَزَلَ الْحَجَرُ الْأَسْوَدُ مِنَ الْجَنَّةِ وَهُوَ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ فَسَوَّدَتْهُ خَطَايَا بَنِي آدَمَ

Nazalal hajaru al-aswadu minal jannati wa huwa asyaddu bayâdan minal laban fasawwadat-hu khathâyâ banî Âdam

Artinya: “Hajar Aswad turun dari surga dalam keadaan lebih putih dari susu, lalu dosa-dosa anak Adam membuatnya menjadi hitam.” (HR Tirmidzi).

Para ulama menafsirkan hadis ini tidak hanya secara fisik, tetapi juga simbolik. Warna hitam dipahami sebagai representasi beban moral manusia, sekaligus pengingat bahwa kesucian spiritual dapat ternoda oleh perbuatan dosa.

Sunnah Mencium Hajar Aswad dan Makna Keteladanan

Mencium atau menyentuh Hajar Aswad merupakan sunnah yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW. Umar bin Khattab RA pernah berkata saat mencium batu tersebut:

إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ

Innî a‘lamu annaka hajarun lâ tadhurru wa lâ tanfa‘

Artinya: “Aku tahu engkau hanyalah batu, tidak memberi mudarat dan tidak pula memberi manfaat. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah mencium engkau, niscaya aku tidak akan melakukannya.” (HR Bukhari).

Pernyataan Umar menunjukkan bahwa esensi ibadah bukan terletak pada benda, melainkan pada ketundukan terhadap sunnah Nabi.

Ini menjadi fondasi teologis penting agar umat tidak terjebak pada pengultusan objek material.

Baca juga: Tak Berhenti di Hajar Aswad, Kemenhaj Saudi Ingatkan Adab Tawaf

Posisi Strategis dalam Ritual Thawaf

Secara ritual, Hajar Aswad berfungsi sebagai titik awal dan akhir thawaf. Setiap putaran ibadah mengitari Ka’bah selalu dimulai dari sudut ini.

Dalam perspektif fikih, keberadaan Hajar Aswad bukan sekadar penanda arah, tetapi juga simbol dimulainya perjalanan spiritual seorang hamba mengelilingi pusat tauhid.

Al-Qur’an mengabadikan momen pembangunan Ka’bah oleh Nabi Ibrahim dan Ismail dalam firman Allah:

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar Baitullah bersama Ismail.” (QS Al-Baqarah: 127).

Ayat ini mempertegas bahwa Ka’bah, termasuk Hajar Aswad di dalamnya, merupakan bagian dari warisan tauhid yang sangat tua dalam sejarah peradaban manusia.

Hajar Aswad sebagai Saksi di Hari Kiamat

Sejumlah hadis menyebutkan bahwa Hajar Aswad kelak akan menjadi saksi bagi orang-orang yang menyentuhnya dengan penuh keikhlasan.

Dalam As-Sunan karya At-Tirmidzi disebutkan bahwa batu ini akan diberi kemampuan berbicara oleh Allah pada hari kiamat.

Walaupun sebagian riwayat memiliki perbedaan tingkat kesahihan, para ulama sepakat bahwa pesan moralnya menegaskan pentingnya niat dalam beribadah.

Jejak Sejarah: Dicuri, Dirusak, dan Disatukan Kembali

Dalam sejarah Islam, Hajar Aswad pernah mengalami peristiwa kelam. Tahun 930 M, kelompok Qaramithah menyerbu Makkah dan membawa batu suci ini ke wilayah Bahrain modern.

Dalam catatan sejarawan Ottoman Qutb al-Din, batu tersebut baru dikembalikan ke Ka’bah pada 952 M setelah tekanan politik dan sosial yang panjang.

Akibat berbagai peristiwa, Hajar Aswad kini tidak lagi utuh. Saat ini batu tersebut terdiri dari delapan fragmen yang direkatkan dan dibingkai perak, sebagaimana dijelaskan Dietz dan McHone dalam kajian geologi mereka pada 1974.

Baca juga: Hadits tentang Hajar Aswad dan Aturan Mencium Batu dari Surga di Ka’bah

Perspektif Sains: Apakah Hajar Aswad Berasal dari Luar Angkasa?

Kajian ilmiah modern mencoba menjelaskan asal-usul Hajar Aswad melalui pendekatan geologi dan astronomi.

Penelitian Elsebeth Thomsen dari University of Copenhagen dalam karya New Light on the Origin of the Holy Black Stone of the Ka'ba menemukan kemiripan struktur Hajar Aswad dengan material yang dikenal sebagai kaca impaksi, yaitu material yang terbentuk akibat tumbukan meteorit dengan permukaan bumi.

Penelitian ini mengaitkan Hajar Aswad dengan Kawah Wabar di gurun Rub’ al Khali yang ditemukan oleh penjelajah Inggris Harry St. John Philby pada 1932.

El Goresy dkk. (1968) mengungkap bahwa material di kawasan tersebut memiliki karakter unik, bagian luar berwarna hitam mengilap, sementara bagian dalamnya putih berpori dan ringan, bahkan dapat mengapung di air.

Karakter ini dinilai mirip dengan deskripsi fisik Hajar Aswad yang disebut memiliki bagian dalam putih seperti susu, sebagaimana disampaikan dalam hadis Nabi.

Baca juga: Doa Ketika Melihat Kabah Lengkap dengan Terjemahannya

Sinkronisasi Iman dan Ilmu Pengetahuan

Temuan sains tidak serta-merta bertentangan dengan keyakinan Islam. Sebaliknya, sebagian ulama kontemporer melihatnya sebagai bentuk konvergensi makna.

Jika sains menyatakan batu tersebut memiliki keterkaitan dengan fenomena kosmik, maka konsep “turun dari langit” dalam hadis dapat dipahami sebagai penegasan asal-usul non-terestrial.

Dalam perspektif teologi Islam, nilai utama Hajar Aswad tidak terletak pada unsur fisiknya, tetapi pada makna simbolik dan fungsi spiritualnya sebagai bagian dari ritual tauhid. Sains memberi penjelasan material, sementara agama memberi makna transendental.

Hajar Aswad bukan sekadar batu yang terpasang di sudut Ka’bah. Ia adalah saksi sejarah panjang peradaban Islam, simbol ketundukan kepada sunnah Nabi, serta objek kajian ilmiah yang terus memancing rasa ingin tahu manusia modern. Di titik inilah iman dan ilmu bertemu: saling melengkapi tanpa harus saling meniadakan.

Bagi umat Islam, menyentuh Hajar Aswad bukan hanya menyentuh batu, tetapi menyentuh jejak spiritual yang menghubungkan bumi dengan langit.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



Terkini Lainnya
Mudik Gratis Banten 2026 Dibuka, Daftar Mulai 18 Februari! Ini Rute, Syarat, dan Cara Ikut Jawara Mudik
Mudik Gratis Banten 2026 Dibuka, Daftar Mulai 18 Februari! Ini Rute, Syarat, dan Cara Ikut Jawara Mudik
Aktual
Dua Golongan yang Tidak Mendapat Ampunan di Malam Nisfu Sya'ban
Dua Golongan yang Tidak Mendapat Ampunan di Malam Nisfu Sya'ban
Doa dan Niat
Di Kairo, Menag Tekankan Pentingnya Ekoteologi dalam Menjaga Lingkungan
Di Kairo, Menag Tekankan Pentingnya Ekoteologi dalam Menjaga Lingkungan
Aktual
Lebaran 2026 Tanggal Berapa? Ini Jawaban Lengkap Berapa Hari Lagi Puasa hingga Idul Fitri 2026
Lebaran 2026 Tanggal Berapa? Ini Jawaban Lengkap Berapa Hari Lagi Puasa hingga Idul Fitri 2026
Aktual
Nisfu Syaban 2026: Lupa Niat Malam, Puasa Ayyamul Bidh Tetap Sah?
Nisfu Syaban 2026: Lupa Niat Malam, Puasa Ayyamul Bidh Tetap Sah?
Aktual
Mengungkap Fakta Hajar Aswad, Batu Suci Pusat Ibadah Umat Islam
Mengungkap Fakta Hajar Aswad, Batu Suci Pusat Ibadah Umat Islam
Aktual
Biaya Makan Jemaah Haji 2026 Kena Efisiensi, Kini Rp 180.000 Per Hari
Biaya Makan Jemaah Haji 2026 Kena Efisiensi, Kini Rp 180.000 Per Hari
Aktual
Nisfu Syaban 2026: Doa Berbuka Puasa dan Waktu Mustajab
Nisfu Syaban 2026: Doa Berbuka Puasa dan Waktu Mustajab
Aktual
Putra Mahkota Dubai Pulihkan Tubuh Secara Esktrem: Terapi Es Minus 110 Derajat
Putra Mahkota Dubai Pulihkan Tubuh Secara Esktrem: Terapi Es Minus 110 Derajat
Aktual
Ramadhan Berapa Hari Lagi? Cek Hitung Mundur Ramadhan 2026 dan Persiapannya
Ramadhan Berapa Hari Lagi? Cek Hitung Mundur Ramadhan 2026 dan Persiapannya
Aktual
Kuota Haji NTB Bertambah 1.299 Orang, Daftar Tunggu Capai 26 Tahun
Kuota Haji NTB Bertambah 1.299 Orang, Daftar Tunggu Capai 26 Tahun
Aktual
Hitung Mundur Puasa Ramadhan 2026: Tinggal 28 Hari Lagi, Ini Prediksi Awal Versi Pemerintah dan Muhammadiyah
Hitung Mundur Puasa Ramadhan 2026: Tinggal 28 Hari Lagi, Ini Prediksi Awal Versi Pemerintah dan Muhammadiyah
Aktual
Hitung Mundur Puasa 2026: Berapa Hari Lagi Menuju Bulan Suci?
Hitung Mundur Puasa 2026: Berapa Hari Lagi Menuju Bulan Suci?
Aktual
Amalan Sebelum Tidur: Penenang Jiwa dan Penjaga Iman di Malam Hari
Amalan Sebelum Tidur: Penenang Jiwa dan Penjaga Iman di Malam Hari
Doa dan Niat
Panduan Lengkap Sholat Tahajud: Keutamaan, Waktu Terbaik, dan Bacaan Doanya
Panduan Lengkap Sholat Tahajud: Keutamaan, Waktu Terbaik, dan Bacaan Doanya
Doa dan Niat
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com