KOMPAS.com - Kematian merupakan kepastian yang tidak dapat dihindari oleh setiap makhluk bernyawa.
Dalam Islam, proses pencabutan nyawa tidak terjadi secara acak, melainkan berlangsung berdasarkan ketetapan dan perintah Allah SWT melalui malaikat yang diberi amanah khusus, yaitu Malaikat Izrail.
Banyak umat Islam bertanya-tanya, bagaimana Malaikat Izrail mengetahui waktu kematian seseorang?
Apakah ia menentukan sendiri ajal manusia, atau menerima perintah langsung dari Allah? Pertanyaan ini telah dibahas dalam Alquran, hadis, serta literatur klasik para ulama.
Baca juga: Doa Rasulullah SAW untuk Mengusir Jin yang Diajarkan Malaikat Jibril
Alquran menegaskan bahwa Malaikat Izrail hanyalah pelaksana perintah, bukan penentu ajal.
Dalam Surah As-Sajdah ayat 11 Allah SWT berfirman:
“Katakanlah, Malaikat maut yang diserahi untuk mencabut nyawamu akan mematikan kamu, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan.”
Ayat ini menunjukkan bahwa kewenangan tertinggi tetap berada pada Allah. Izrail bertugas melaksanakan ketetapan yang telah ditulis dalam Lauhul Mahfuzh.
Menurut Tafsir Ibnu Katsir karya Ismail bin Umar Al-Quraisy, Malaikat Izrail tidak bertindak berdasarkan kehendaknya sendiri.
Ia bergerak sesuai perintah Allah dan dibantu oleh malaikat-malaikat lain dalam proses pencabutan ruh, sesuai dengan kondisi keimanan seseorang.
Baca juga: Saat Sakit, Allah Kirim Malaikat? Ini Penjelasan Menurut Islam
Konsep ajal dalam Islam telah ditetapkan jauh sebelum manusia lahir ke dunia. Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim:
“Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama empat puluh hari... lalu malaikat diperintahkan untuk menulis empat perkara: rezekinya, ajalnya, amalnya, serta celaka atau bahagianya.”
Hadis ini menjelaskan bahwa ajal merupakan bagian dari takdir yang telah ditentukan Allah sejak awal penciptaan manusia. Malaikat Izrail menjalankan perintah sesuai catatan takdir tersebut.
Baca juga: Mengenal 10 Malaikat dan Tugasnya yang Diimani dalam Islam
Dalam kitab Daqoiqul Akhbar karya Syekh Abdurrahman bin Ahmad Al-Qadhi, dijelaskan bahwa Malaikat Izrail menerima tanda-tanda khusus dari Allah ketika waktu kematian seseorang telah mendekat.
Disebutkan bahwa Izrail tidak mengetahui seluruh detail ghaib, karena ilmu ghaib mutlak milik Allah.
Namun Allah memberikan kepadanya isyarat dan perintah langsung sebagai bentuk pelaksanaan kehendak Ilahi.
Dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa ketika ajal seseorang telah dekat, Allah memberikan beberapa tanda berupa:
Baca juga: Sedekah Subuh di Hari Jumat, Pahala Berlipat dan Mendapat Doa Malaikat
Riwayat tentang pohon di bawah Arasy diriwayatkan dari Ka’ab Al-Akhbar, seorang tabi’in yang dikenal luas dalam literatur tafsir dan kisah akhirat.
Dalam Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir, disebutkan bahwa Allah menciptakan pohon di bawah Arasy dengan jumlah daun sebanyak makhluk yang ada.
Ketika ajal seseorang tersisa sekitar 40 hari, maka satu daun yang bertuliskan namanya akan gugur ke hadapan Malaikat Izrail.
Peristiwa ini menjadi isyarat bahwa perintah pencabutan ruh telah mendekat, meskipun orang tersebut masih tampak sehat dan beraktivitas seperti biasa di dunia.
Sebagian ulama juga menyebutkan adanya peran Malaikat Mikail dalam proses penyampaian perintah kematian.
Dalam kitab Hasyiyah As-Shawi ‘ala Tafsir Al-Jalalain, dijelaskan bahwa Mikail terkadang membawa catatan dari Allah yang berisi nama hamba, lokasi wafat, serta sebab kematian.
Hal ini menunjukkan bahwa sistem malaikat bekerja secara terkoordinasi. Izrail bukan bekerja sendiri, melainkan berada dalam struktur ketundukan kepada Allah yang terorganisir.
Menurut Imam Al-Qurthubi dalam At-Tadzkirah fi Ahwal al-Mauta wal Akhirah, Malaikat Izrail memiliki pasukan malaikat pembantu yang membantu proses pencabutan ruh.
Untuk orang beriman, malaikat rahmat turun dengan wajah berseri dan membawa kafan dari surga. Sementara bagi orang kafir dan zalim, malaikat azab datang dengan wajah keras.
Hal ini sejalan dengan Surah Al-Anfal ayat 50 yang menggambarkan kondisi pencabutan nyawa orang kafir dengan keras dan menyakitkan.
Baca juga: Mengenal Nama-nama Malaikat dan Tugasnya
Islam tidak mengajarkan umatnya untuk mencari tahu kapan ajal akan datang, melainkan mempersiapkan diri menghadapi kematian.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menegaskan bahwa kesadaran akan kematian merupakan sarana efektif untuk membersihkan hati dari kesombongan dan cinta dunia.
Mengetahui bahwa ajal sudah ditetapkan bukan untuk membuat manusia pasif, tetapi justru mendorong kesungguhan beramal. Rasulullah SAW bersabda:
“Orang yang cerdas adalah yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya.” (HR Tirmidzi)
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan materialistik, kesadaran akan kematian sering terpinggirkan.
Padahal pemahaman tentang mekanisme ajal mengingatkan manusia bahwa hidup bukan hanya tentang pencapaian duniawi.
Kesadaran ini membentuk etika hidup yang lebih bertanggung jawab, menumbuhkan empati sosial, serta memperkuat spiritualitas di tengah tekanan zaman.
Malaikat Izrail mengetahui waktu kematian manusia bukan berdasarkan kehendaknya sendiri, melainkan melalui perintah langsung dari Allah SWT dengan berbagai tanda dan mekanisme yang telah dijelaskan dalam Alquran, hadis, serta literatur klasik Islam.
Pemahaman ini menegaskan bahwa kematian bukan peristiwa acak, melainkan bagian dari rencana Ilahi yang penuh hikmah.
Karena itu, tugas utama manusia bukan menunggu ajal, tetapi mempersiapkan diri agar saat perjumpaan dengan Malaikat Izrail menjadi awal perjalanan menuju rahmat Allah, bukan awal penyesalan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang