Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Aisyah RA: Perjalanan Hidup, Keteladanan, dan Warisannya

Kompas.com, 22 Januari 2026, 18:54 WIB
Agus Susanto

Penulis

KOMPAS.com - Di antara nama-nama besar dalam sejarah Islam, Aisyah RA selalu menghadirkan getaran yang berbeda. Ia bukan hanya istri Rasulullah SAW, tetapi saksi paling dekat kehidupan Nabi, penjaga rahasia rumah tangga kenabian, dan perempuan muda yang diuji dengan ujian yang mengguncang langit dan bumi.

Para ulama sirah seperti Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyebut Aisyah sebagai salah satu tokoh yang tanpanya, sebagian besar ajaran Nabi tidak akan sampai secara utuh kepada umat.

Baca juga: Profil 11 Istri Nabi Muhammad SAW: Teladan Wanita Sepanjang Zaman

Putri Abu Bakar: Tumbuh dalam Cahaya Iman

Aisyah adalah putri Abu Bakar Ash-Shiddiq, sahabat paling mulia dan paling setia terhadap Rasulullah SAW. Ia lahir pada tahun kelima Kenabian, saat Islam masih lemah secara jumlah namun kuat secara keyakinan.

Ia tumbuh di rumah yang setiap sudutnya dipenuhi iman, kejujuran, dan pengorbanan. Sejak kecil, Aisyah telah terbiasa mendengar ayat-ayat Al-Qur’an, menyaksikan keteguhan ayahnya, dan merasakan langsung pahitnya perjuangan Islam.

Pernikahan yang Sering Disalahpahami

Rasulullah SAW menikahi Aisyah RA ketika ia berusia 6 tahun, namun belum hidup serumah. Baru pada usia 9 tahun, setelah hijrah ke Madinah, Aisyah resmi tinggal bersama Rasulullah SAW.

Walimah pun baru dilakukan di Madinah, sebagian ulama menyebut tahun 1 H, sebagian lain tahun 2 H setelah Perang Badar.

Dalam sebuah hadits, Aisyah sendiri yang menuturkan peristiwa itu, bukan dengan trauma, melainkan dengan kejujuran dan kepolosan seorang anak yang dilindungi cinta Nabi:

“Aku sedang bermain ayunan bersama teman-temanku… Ummu Ruman menarik tanganku… aku dimandikan dan dirias… lalu Rasulullah SAW datang dan mereka menyerahkanku kepada beliau.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama seperti Imam An-Nawawi menegaskan bahwa pernikahan di usia tersebut adalah tradisi sosial yang lazim pada masa itu, dan tidak mengandung unsur eksploitasi atau kekerasan.

Baca juga: Tugas Istri dalam Islam: Peran Utama yang Tidak Sekadar Urusan Rumah Tangga

Cinta Nabi yang Tumbuh Bersama Ilmu

Aisyah RA adalah satu-satunya istri Rasulullah yang dinikahi dalam keadaan perawan. Pernikahan ini tidak menghasilkan anak, namun melahirkan sesuatu yang jauh lebih besar: warisan ilmu untuk seluruh umat Islam.

Sebagai perempuan muda, daya ingat Aisyah sangat kuat. Ia menyerap setiap ucapan, sikap, dan kebiasaan Rasulullah SAW, baik di ruang publik maupun di balik pintu rumah. Semua itu kemudian menjadi jalan bagi periwayatan hadits.

Imam Adz Dzahabi dalam kitab Siyar A‘lam An-Nubala menyebutkan bahwa lebih dari 2.000 hadits diriwayatkan melalui lisan Ummul Mukminin paling muda ini.

Fitnah Keji Terhadap Aisyah

Selama menikah dengan Rasulullah SAW, Aisyah pernah mendapat ujian yang cukup berat, yaitu dituduh berselingkuh dengan Shafwan bin Mu’athal. Kisah ini bermula saat Aisyah turut dalam sebuah perjalanan perang bersama Rasulullah.

Aisyah tertinggal dari rombongan karena mencari kalungnya yang jatuh. Saat kembali, tandunya telah diangkat, rombongan mengira ia masih berada di dalamnya.

Ia menunggu rombongan kembali menjemputnya. Namun sekian waktu berlalu, tak ada yang mendatanginya. Ia bertahan di tempat tersebut hingga tertidur, esok harinya baru terbangun setelah mendengar derap kaki unta menghampirinya.

Rupanya seorang sahabat bernama Shafwan bin Mu‘athal RA menemukannya. Ia masih berada di belakang pasukan yang sudah berangkat. Melihat Ummul Mukminin, dipersilahkan naik unta sementara ia menuntunnya.

Peristiwa sederhana itu dijadikan senjata oleh kaum munafik di bawah pimpinan Abdullah bin Ubay bin Salul untuk menyebarkan fitnah. Wanita mulia itu dituduh berselingkuh dengan Sahabat tersebut.

Berkat fitnah tersebut, Aisyah jatuh sakit. Tangisnya sunyi. Rasulullah SAW pun menunggu, tidak membela tanpa wahyu, tidak menuduh tanpa bukti.

Bahkan Rasulullah memanggil Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid untuk bermusyawarah. Keduanya menegaskan bahwa Aisyah adalah perempuan suci dan baik.

Baca juga: Ali bin Abi Thalib: Khalifah Di Tengah Umat yang Terpecah

Pembelaan Allah SWT Terhadap Aisyah

Selama sebulan Aisyah menderita dan menunggu tanpa kepastian. Tidak ada jawaban mengenai masalah perselingkuhan tersebut hingga Allah akhirnya menurunkan Surat An Nur ayat 11-20 yang menjelaskan tentang duduk masalah tersebut.

Ayat-ayat tersebut menjelaskan bahwa Aisyah tidak melakukan perselingkuhan sebagaimana yang dituduhkan kepadanya.

Ayat-ayat ini bukan hanya membebaskan Aisyah, tetapi menghancurkan fitnah selamanya. Pembelaan itu dibaca hingga hari kiamat, sebuah kehormatan yang tidak dimiliki siapa pun selain Aisyah RA.

Aisyah tida dibela oleh manusia, tetapi langsung dari Allah SWT.

Akhir Hidup Aisyah

Rasulullah SAW wafat saat Aisyah berusia 18 tahun. Beliau wafat di pangkuannya dan dimakamkan di kamarnya.

Sejak itu, Aisyah mengabdikan hidupnya untuk ilmu dan umat. Rumahnya berubah menjadi madrasah. Para sahabat dan tabi’in datang bertanya, belajar, dan meriwayatkan.

Saat fitnah menyebar, Aisyah pernah berselisih dengan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Ia berama Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awam memimpin pasukan dan pecahlah pertempuran berkat provokasi di kedua belah pasukan.

Perang tersebut dikenal dengan perang Jamal. Disebut demikian karena saat itu Ummul Mukminin menaiki unta berambut merah dan berada di tengah peperangan.

Pasca, perang Jamal, Aisyah mengabdikan diri untuk memberikan pengajaran kepada umat yang bertanya. Hingga akhirnya di tahun 58 Hijriah, Allah SWT memanggilnya. Aisyah wafat dalam usia 66 tahun.

Baca juga: Kisah Abu Bakar Ash Shiddiq Dicaci Maki Orang Badui: Jangan Membalas Cacian

Warisan yang Tak Pernah Mati

Aisyah RA bukan hanya bagian dari masa lalu. Ia adalah napas ilmu yang masih hidup dalam setiap hadits yang diriwayatkan melalui jalurnya.

Dari Ummul Mukminin Aisyah, ada beberapa pelajaran yang bisa diambil:

  • Perempuan bisa menjadi penjaga ilmu, 
  • Fitnah tidak selalu dibalas segera, tapi kebenaran selalu datang
  • Kesucian tidak selalu dibela manusia, tapi Allah tidak pernah lalai
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com