Penulis
KOMPAS.com - Banyak orang menjaga kesehatan tubuh, tetapi lupa merawat hati. Dalam pandangan Islam, hati (qalb) adalah pusat iman, niat, dan akhlak. Rusaknya hati akan merusak amal, sementara bersihnya hati akan memperbaiki seluruh kehidupan seseorang.
Rasulullah SAW bersabda:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
Artinya: “Ketahuilah, di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Karena itu, para ulama menaruh perhatian besar pada penyakit hati dan cara penyembuhannya. Berikut penjelasan lengkapnya.
Baca juga: Doa Nabi Daud untuk Cinta Allah dan Hati yang Tenang
Riya’ adalah melakukan amal ibadah agar dilihat dan dipuji manusia, bukan karena Allah SWT. Penyakit ini termasuk syirik kecil yang sangat halus dan berbahaya.
Allah berfirman:
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ. الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ. الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ
Artinya: “Maka celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) mereka yang lalai dari shalatnya, mereka yang berbuat riya’.” (QS. Al-Ma’un: 4–6)
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumuddin menjelaskan bahwa riya’ merusak dan menghanguskan pahala amal. Bahkan orang yang menjalankan shalat dengan riya', ia dihukumi sebagai orang yang celaka.
Hasad adalah keinginan agar nikmat yang dimiliki orang lain hilang. Penyakit ini pertama kali muncul dalam sejarah manusia melalui kisah Qabil terhadap Habil.
Rasulullah SAW bersabda:
إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ
Artinya: “Jauhilah hasad, karena hasad memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud)
Ibn Qayyim al-Jauziyyah menyebut hasad sebagai penyakit hati yang melelahkan jiwa sebelum menyakiti orang lain. Penyakit ini membuat sengasara dunia dan akhirat.
Takabur adalah menolak kebenaran, merasa diri lebih tinggi dan merendahkan orang lain. Kesombongan adalah sebab utama terusirnya Iblis surga dan tidak mendapat rahmat Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
Artinya: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebesar biji sawi.” (HR. Muslim).
Menurut Imam An-Nawawi, takabur termasuk dosa hati yang paling berat karena bertentangan dengan hakikat kehambaan.
Baca juga: Tarhib Ramadhan: Menyambut Bulan Suci dengan Hati yang Bersih dan Jiwa yang Siap
Ujub adalah merasa kagum terhadap diri sendiri dan amalnya, seakan semua keberhasilan berasal dari kemampuan pribadi.
Allah memperingatkan:
فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ
Artinya: “Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)
Ujub lebih berbahaya daripada dosa besar karena pelakunya merasa aman dari azab dan tidak merasa butuh taubat.
Cinta dunia yang berlebihan membuat hati lalai dari akhirat. Rasulullah SAW bersabda:
حُبُّ الدُّنْيَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيئَةٍ
Artinya: “Cinta dunia adalah pangkal segala kesalahan.” (HR. Al-Baihaqi)
Para ulama menegaskan bahwa dunia tidak tercela, tetapi ketergantungan hati kepadanya yang menjadi penyakit yang melenakan dan berbahaya.
Menyimpan dendam akan mengotori hati dan membuatnya menjadi keras. Allah memuji orang yang mampu memaafkan:
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan manusia. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali ‘Imran: 134)
Hati yang penuh dendam sulit merasakan manisnya iman dan ketenangan batin.
Tamak adalah keinginan berlebihan terhadap harta dan kenikmatan dunia, tanpa merasa cukup. Orang yang tamak tidak pernah tenang, karena hatinya selalu merasa kurang.
Rasulullah SAW bersabda:
لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لَابْتَغَى ثَالِثًا، وَلَا يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ
Artinya: “Seandainya anak Adam memiliki dua lembah harta, niscaya ia akan mencari lembah ketiga. Dan tidak akan memenuhi perut anak Adam kecuali tanah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ibn Qayyim dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa tamak adalah bentuk ketergantungan hati kepada makhluk, bukan kepada Allah.
Baca juga: 5 Dzikir Saat Hidup Sulit: Penawar Hati di Tengah Tekanan Meninggi
Kikir adalah enggan mengeluarkan harta untuk kebaikan, meski mampu. Ia terus mengumpulkan harta dan tak tahu untuk apa nantinya. Penyakit ini menunjukkan lemahnya keyakinan terhadap rezeki Allah.
Allah berfirman:
وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Artinya: “Barang siapa dijaga dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)
Rasulullah SAW juga bersabda:
اتَّقُوا الشُّحَّ، فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ
Artinya: “Takutlah kalian terhadap sifat kikir, karena sifat kikir telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.” (HR. Muslim)
Panjang angan-angan adalah terlalu sibuk merencanakan dunia dan merasa seakan hidup akan berlangsung lama, hingga lupa akhirat.
Allah berfirman:
ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ
Artinya: “Biarkan mereka makan dan bersenang-senang, serta dilalaikan oleh angan-angan, kelak mereka akan mengetahui.” (QS. Al-Hijr: 3)
Ali bin Abi Thalib RA berkata: “Yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah panjang angan-angan dan mengikuti hawa nafsu.”
Baca juga: Sakit Hati, Cemas, Stres? Coba Self Healing dengan Tahajud
Prasangka buruk adalah menilai orang lain dengan dugaan negatif tanpa bukti. Penyakit ini merusak persaudaraan dan membersihkan pahala.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12)
Imam Al-Ghazali menyebut su’uzhan sebagai pintu ghibah, permusuhan, dan kebencian.
Marah adalah sifat manusiawi, namun ketika tidak terkendali, ia menjadi penyakit hati yang menghancurkan akal dan iman.
Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW: “Berilah aku wasiat.”
Beliau menjawab:
لَا تَغْضَبْ
“Jangan marah.” (HR. Bukhari)
Orang yang mampu menahan amarah termasuk ciri-ciri orang yang bertakwa berdasarkan surat Ali Imran ayat 133-134.
Mengeluh secara berlebihan terhadap keadaan hidup menunjukkan ketidakridhaan hati terhadap takdir Allah SWT. Keluhan seperti ini bukan sekadar ungkapan kesedihan, melainkan protes batin terhadap ketetapan-Nya.
Allah menegur sikap ini melalui firman-Nya:
إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا
Artinya: “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat gelisah; apabila ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan dia kikir.” (QS. Al-Ma‘arij: 19–21)
Al-Hasan al-Bashri berkata: “Mengeluh kepada manusia tidak menghilangkan musibah, tetapi mengurangi pahala.”
Baca juga: Dzikir Ringan Penenang Hati dan Pembuka Pintu Rezeki
Putus asa adalah penyakit hati yang paling berbahaya, karena ia berkaitan langsung dengan buruk sangka kepada Allah. Putus asa membuat seseorang berhenti berharap, berhenti berdoa, dan berhenti berjuang.
Allah dengan tegas melarang sifat ini:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ
Artinya: “Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53)
Dan dalam ayat lain:
إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِن رَّوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
Artinya: “Tidaklah berputus asa dari rahmat Allah kecuali kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)
Menurut Imam Al-Qurthubi, putus asa adalah bentuk kejahilan terhadap keluasan rahmat Allah dan kebijaksanaan-Nya.
Namimah adalah menyampaikan perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan, menimbulkan permusuhan, atau memperkeruh keadaan. Penyakit hati ini sering dianggap sepele karena berbentuk “cerita”, padahal dosanya sangat berat dan dampaknya luas.
Namimah berbeda dari sekadar berbicara; ia mengandung unsur niat merusak dan memindahkan informasi untuk memecah belah.
Allah memberi peringatan keras:
وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَّهِينٍ هَمَّازٍ مَّشَّاءٍ بِنَمِيمٍ
Artinya: “Dan janganlah engkau ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang suka mencela dan berjalan ke sana kemari menyebarkan namimah (adu domba).” (QS. Al-Qalam: 10–11)
Rasulullah SAW juga menegaskan ancaman bagi pelaku namimah:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ
Artinya: “Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Baca juga: Memperbaiki Hidup dengan Shalat: Kunci Pertolongan, Ketakwaan, dan Ketenangan Hati
Ghibah dan fitnah adalah membicarakan orang lain. Ghibah adalah menyebutkan sesuatu tentang orang lain yang ia tidak suka jika hal itu didengar, meskipun yang dibicarakan itu benar. Sedangkan fitnah adalah perkataan dusta untuk menyudutkan atau menjelekkan orang lain.
Banyak orang meremehkannya karena dianggap “sekadar cerita”, padahal dosanya sangat berat dalam Islam.
Rasulullah SAW menjelaskan definisi ghibah secara langsung:
أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ؟ قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ
Artinya: "Para sahabat bertanya: “Apa itu ghibah?” Beliau menjawab: “Engkau menyebut tentang saudaramu sesuatu yang ia benci.” (HR. Muslim)
Dalam Islam, ghibah diibaratkan memakan bangkai saudaranya (Q.S. Al Hujurat: 12) dan fitnah lebih kejam dari pembunuhan (Q.S. Al Baqarah: 191 dan 217).
Penyakit hati dalam Islam bukan sekadar masalah batin, tetapi memiliki dampak nyata terhadap amal, hubungan sosial, dan keselamatan akhirat. Berikut berbagai dampak penyakit hati yang akan dirasakan:
Baca juga: Istighfar: Bacaan, Keutamaan, dan Kisah Menggetarkan Hati
Cara menyembuhkan dan membersihkan penyakit hati adalah dengan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Ada beberapa tahapan untuk bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit hati, berikut tahapannya:
Penyakit hati harus mendapat perhatian serius karena bisa merusak kehidupan lahir dan batin. Seseorang yang mempunyai penyakit hati tidak akan merasakan kelezatan iman dan takwa karena ada sesuatu yang mengotori diri.
Dengan membersihkan penyakit hati dari dalam diri, seseorang akan merasakan kebahagiaan hakiki dalam kehidupan dan akan mendapatkan keselamatan hidup di dunia hingga nanti sampai akhirat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang