KOMPAS.com – Hampir setiap hari manusia berada dalam berbagai majelis. Ada yang menghadiri pengajian, rapat kerja, diskusi, pertemuan keluarga, hingga sekadar berbincang bersama teman-teman.
Namun, tidak semua perkataan yang keluar selama sebuah pertemuan selalu bernilai ibadah. Terkadang seseorang tanpa sadar mengucapkan hal yang tidak bermanfaat, bercanda berlebihan, membicarakan orang lain, atau melakukan kekhilafan yang tidak disadari.
Islam sebagai agama yang sempurna mengajarkan sebuah amalan sederhana yang dapat menjadi penutup sekaligus penyempurna sebuah majelis. Amalan tersebut dikenal sebagai doa kafaratul majelis.
Meski hanya terdiri dari beberapa kalimat singkat, doa ini memiliki makna yang sangat dalam. Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk membacanya sebelum meninggalkan suatu pertemuan sebagai bentuk permohonan ampun kepada Allah SWT atas segala kesalahan yang mungkin terjadi selama majelis berlangsung.
Para ulama bahkan menyebut doa ini sebagai "penambal kekurangan" yang terjadi dalam sebuah majelis.
Lalu, bagaimana bacaan doa kafaratul majelis, apa maknanya, dan mengapa Rasulullah SAW sangat menganjurkan amalan ini?
Secara bahasa, kata kafarat berasal dari bahasa Arab kaffara yang berarti menutupi, menghapus, atau menebus kesalahan. Sementara majelis berarti tempat berkumpul atau pertemuan.
Dalam buku Sukses Dunia-Akhirat dengan Doa-Doa Harian karya Mahmud Asy Syafrowi dijelaskan bahwa doa kafaratul majelis merupakan doa yang dibaca ketika seseorang hendak meninggalkan suatu pertemuan sebagai permohonan kepada Allah SWT agar menghapus segala kesalahan yang terjadi selama majelis berlangsung.
Kesalahan tersebut tidak selalu berupa dosa besar. Bisa jadi berupa ucapan yang tidak bermanfaat, gurauan yang berlebihan, kelalaian dalam berdzikir, atau perkataan yang kurang berkenan di hati orang lain.
Karena itulah Rasulullah SAW mengajarkan doa ini sebagai bentuk introspeksi sekaligus pengingat bahwa setiap ucapan manusia akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Baca juga: 3 Hari Terbaik Memotong Kuku Menurut Ulama, Lengkap Doa dan Adabnya
Banyak orang mengira bahwa dosa hanya muncul dari perbuatan besar. Padahal Al-Qur'an mengingatkan bahwa setiap ucapan manusia dicatat oleh malaikat.
Allah SWT berfirman:
"Tiada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat." (QS Qaf: 18)
Ayat ini menunjukkan bahwa lisan memiliki peran yang sangat besar dalam kehidupan seorang Muslim.
Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa menjaga lisan termasuk salah satu bentuk kesempurnaan iman.
Oleh karena itu, ketika sebuah pertemuan selesai, seorang Muslim dianjurkan menutupnya dengan doa dan istighfar sebagai bentuk kesadaran bahwa dirinya tidak luput dari kesalahan.
Doa kafaratul majelis yang paling masyhur berasal dari hadis Rasulullah SAW.
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu allaa ilaaha illaa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik.
Artinya: "Maha Suci Engkau ya Allah dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Aku memohon ampun kepada-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu." (HR Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad)
Baca juga: Doa untuk Orang Sakit agar Cepat Sembuh, Lengkap Arab dan Artinya
Selain doa di atas, sebagian ulama juga membaca ayat penutup Surat Ash-Shaffat sebagai doa penutup majelis.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Subhaana rabbika rabbil 'izzati 'ammaa yashifuun. Wa salaamun 'alal mursaliin. Walhamdulillaahi rabbil 'aalamiin.
Artinya: "Maha Suci Tuhanmu yang memiliki kemuliaan dari apa yang mereka sifatkan. Semoga keselamatan tercurah kepada para rasul. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam." (QS Ash-Shaffat: 180-182)
Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa ayat ini mengandung pujian kepada Allah SWT, penghormatan kepada para nabi, dan pengagungan terhadap Tuhan semesta alam sehingga sangat baik dibaca sebagai penutup majelis.
Dalam beberapa kesempatan Rasulullah SAW juga mengajarkan doa yang berisi permohonan ketakwaan, keyakinan, dan perlindungan dari fitnah dunia.
اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا
اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا
Allahummaqsim lana min khasy-yatik, maa tahulu bainanaa wa baina ma'shiyyatik, wa min thaa'atika maa tuballighuna bihi jannatak wa minal yaqiini ma tuhawwinu bihi 'alaina mashaaibad dunya.
Allahumma matti'naa bi asmaa'inaa wa abshaarina wa quwwatinaa ma ahyaytana waj'alhul waaritsa minna waj'alhu tsa'ranaa 'alaa man 'aadanaa wa laa taj'al mushiibatanaa fii diininaa wa laa taj'alid dunya akbara hamminaa wa laa mablagha 'ilminaa wa laa tusallith 'alainaa man laa yarhamunaa.
Artinya: "Ya Allah, anugerahkanlah untuk kami rasa takut kepada-Mu, yang dapat menghalangi antara kami dan perbuatan maksiat kepada-Mu, dan (anugerahkanlah kepada kami) ketaatan kepada-Mu yang akan menyampaikan Kami ke surga-Mu dan (anugerahkanlah pula) keyakinan yang akan menyebabkan ringannya bagi kami segala musibah dunia ini.
Ya Allah, anugerahkanlah kenikmatan kepada kami melalui pendengaran kami, penglihatan kami dan dalam kekuatan kami selama kami masih hidup, dan jadikanlah ia warisan dari kami. Jadikanlah balasan kami atas orang-orang yang menganiaya kami, dan tolonglah kami terhadap orang yang memusuhi kami, dan janganlah Engkau jadikan musibah kami dalam urusan agama kami, dan janganlah Engkau jadikan dunia ini sebagai cita-cita terbesar kami dan puncak dari ilmu kami, dan jangan Engkau jadikan orang-orang yang tidak menyayangi kami berkuasa atas kami." (HR Tirmidzi)
Doa ini diriwayatkan Imam Tirmidzi dan banyak dicantumkan dalam buku-buku dzikir seperti Buku Pintar Doa dan Zikir Rasulullah karya Abdullah Zaedan.
Isi doa tersebut memohon rasa takut kepada Allah, keteguhan iman, kesehatan, keselamatan agama, serta perlindungan dari kesedihan dunia yang berlebihan.
Karena kandungannya sangat luas, sebagian ulama membacanya setelah kajian, pengajian, atau majelis ilmu yang berlangsung cukup panjang.
Baca juga: Setelah Sedekah Subuh, Bacalah Doa Ini agar Amal Lebih Sempurna
Keutamaan doa ini dijelaskan langsung oleh Rasulullah SAW.
Dalam hadis riwayat Abu Dawud disebutkan bahwa siapa saja yang duduk dalam suatu majelis lalu sebelum berdiri membaca doa kafaratul majelis, maka Allah SWT akan menghapus kesalahan yang terjadi selama pertemuan tersebut.
Rasulullah SAW bersabda bahwa doa tersebut menjadi penambal atau penyempurna kekurangan yang terjadi dalam majelis.
Para ulama menjelaskan bahwa setiap manusia pasti memiliki kekhilafan. Oleh karena itu, Islam mengajarkan cara sederhana untuk memperbaiki dan menutupnya dengan dzikir serta istighfar.
Ada hadis lain yang memberikan peringatan keras tentang pentingnya berdzikir dalam suatu pertemuan.
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:
"Setiap kaum yang bangkit dari suatu majelis yang tidak digunakan untuk mengingat Allah, maka majelis tersebut seperti bangkai keledai dan akan menjadi penyesalan bagi mereka pada hari kiamat." (HR Abu Dawud dan Ahmad)
Hadis ini menunjukkan bahwa keberkahan sebuah pertemuan tidak ditentukan oleh lamanya waktu atau banyaknya peserta, melainkan oleh hadirnya dzikir dan ingatan kepada Allah SWT.
Doa ini dianjurkan dibaca ketika:
Bahkan sebagian ulama menganjurkan membacanya setelah percakapan sehari-hari karena manusia tidak pernah lepas dari kesalahan lisan.
Dalam buku Al-Adzkar karya Imam An-Nawawi dijelaskan bahwa salah satu tujuan utama dzikir penutup majelis adalah membiasakan seorang Muslim untuk selalu mengevaluasi dirinya.
Doa ini mengandung beberapa nilai penting:
Seorang Muslim diajarkan untuk tidak merasa paling benar. Ia menyadari bahwa mungkin ada kesalahan yang dilakukan selama berbicara.
Istighfar merupakan salah satu amalan yang paling dicintai Allah SWT.
Orang yang terbiasa beristighfar akan lebih mudah memperbaiki diri dan menjaga hubungan dengan sesama.
Membaca doa kafaratul majelis merupakan salah satu sunnah yang sering dilakukan Rasulullah SAW.
Islam mengajarkan agar setiap aktivitas diawali dan diakhiri dengan mengingat Allah SWT.
Doa kafaratul majelis mungkin terlihat sederhana. Bacanya hanya beberapa detik, tetapi kandungannya sangat besar.
Di dalamnya terdapat pujian kepada Allah SWT, pengakuan tauhid, permohonan ampun, serta taubat yang tulus.
Doa ini menjadi pengingat bahwa setiap kata yang keluar dari lisan manusia akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Karena itu, membiasakan membaca doa kafaratul majelis setelah rapat, pengajian, diskusi, maupun pertemuan sehari-hari merupakan amalan kecil yang dapat mendatangkan pahala besar.
Sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW, sebelum meninggalkan suatu majelis, sempatkanlah beberapa detik untuk mengucapkan:
"Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu allaa ilaaha illaa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik."
Sebuah doa singkat yang menjadi penutup majelis sekaligus harapan agar Allah SWT menghapus segala kekhilafan yang mungkin terjadi selama pertemuan berlangsung.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang