Editor
KOMPAS.com - Shalat Dhuha adalah ibadah sunnah yang dikerjakan pada waktu dhuha, yakni setelah matahari terbit hingga menjelang masuk waktu Dzuhur.
Shalat ini termasuk amalan yang sangat dianjurkan karena memiliki berbagai keutamaan bagi setiap muslim yang mengamalkannya.
Salah satu keutamaan Shalat Dhuha adalah menjadi sebab datangnya rezeki, menghapus dosa-dosa kecil, serta menjadi wujud syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat yang diberikan.
Baca juga: Dzikir, Doa, dan Amalan Setelah Shalat Dhuha untuk Memohon Rezeki dan Keberkahan
Berikut panduan lengkap shalat dhuha untuk diamalkan secara istiqamah dengan harapan memperoleh keberkahan dalam kehidupan dunia maupun akhirat.
Shalat Dhuha merupakan salah satu ibadah sunnah yang dilaksanakan pada pagi hari, dimulai setelah matahari terbit hingga sebelum masuk waktu Dhuhur. Secara bahasa, dhuha berarti waktu di awal siang.
Baca juga: 3 Doa Setelah Sholat Dhuha dan Artinya Lengkap Arab, Latin, serta Maknanya
Dalam syariat, waktu Dhuha dimulai ketika matahari telah terbit dan naik sekitar satu tombak di atas ufuk, atau kurang lebih setinggi tujuh hasta (sekitar 2,5 meter), kemudian berakhir saat matahari belum tergelincir memasuki waktu Dhuhur.
Waktu pelaksanaan shalat Dhuha dimulai setelah matahari terbit dan berlangsung hingga menjelang waktu shalat Dhuhur, dengan rentang waktu sekitar 45 menit hingga 1,5 jam setelah matahari terbit , dan sebelum masuknya waktu shalat Dhuhur.
Shalat Dhuha dapat dikerjakan sedikitnya dua rakaat dan maksimal 12 rakaat atau lebih menurut sebagian pendapat ulama, dengan setiap dua rakaat diakhiri salam. Dalam praktiknya, Rasulullah SAW sering melaksanakan shalat Dhuha sebanyak empat rakaat, bahkan terkadang menambah jumlah rakaat sesuai kehendak Allah SWT.
Sebagaimana disebutkan dalam hadis:
"Shalat Dhuha itu (minimal) dua rakaat, dan yang paling sempurna adalah delapan rakaat, sedangkan Rasulullah biasa mengerjakannya empat rakaat, dan menambahkannya sesuai dengan yang Allah kehendaki." (HR. Muslim).
Dengan demikian, jumlah rakaat Shalat Dhuha tidak bersifat mengikat. Umat Islam dapat menyesuaikannya dengan kemampuan dan kondisi masing-masing, selama dikerjakan dengan ikhlas dan sesuai tuntunan syariat.
Meski Shalat Dhuha dapat dikerjakan sejak matahari terbit hingga menjelang waktu Zuhur, terdapat waktu yang dinilai lebih utama untuk melaksanakannya agar memperoleh keutamaan yang lebih besar.
Sejumlah ulama menjelaskan bahwa waktu terbaik untuk mengerjakan Shalat Dhuha adalah ketika matahari telah meninggi dan mulai terasa panas, umumnya sekitar pukul 09.00–10.00 pagi.
Waktu tersebut dipandang sebagai saat yang paling afdal karena memiliki nilai keutamaan dan pahala yang lebih besar.
Anjuran tersebut sejalan dengan hadis Rasulullah SAW yang menunjukkan bahwa waktu utama Shalat Dhuha adalah ketika matahari mulai meninggi menjelang tergelincir ke arah barat, sebagaimana disebutkan dalam hadis berikut.
أَنَّ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ رَأَى قَوْمًا يُصَلُّونَ مِنَ الضُّحَى فَقَالَ أَمَا لَقَدْ عَلِمُوا أَنَّ الصَّلاَةَ فِى غَيْرِ هَذِهِ السَّاعَةِ أَفْضَلُ. إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « صَلاَةُ الأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ » أخرجه مسلم
Artinya: "Dari Zaid bin Arqam, bahwa ia melihat orang-orang mengerjakan shalat dhuha (pada waktu yang belum begitu siang), maka ia berkata: "Mereka mungkin tidak mengetahui sholat dhuha pada selain saat-saat seperti itu adalah lebih utama, karena sesungguhnya Rasulullah SAW. bersabda: "Shalatnya orang-orang yang kembali kepada Allah (al-Awwabin) adalah pada waktu anak-anak unta sudah bangun dari pembaringannya karena tersengat panasnya matahari." (HR Muslim).
Berikut bacaan niat shalat dhuha yang bisa diamalkan:
اُصَلِّى سُنَّةَ الضَّحٰى رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اَدَاءً ِللهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatadh dhuhaa rak'ataini mustaqbilal qiblati adaan lillaahi ta'aalaa
Artinya: "Aku niat shalat sunnah dhuha dua rakaat, karena Allah ta'ala"
Shalat Dhuha dua rakaat:
اُصَلِّيْ سُنَّةَ الضُّحَى رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ اْلقِبْلَةِ اَدَاءً لِلَّهِ تَعَالَى
Latin: Usholli sunnatadh dhuhaa rak’ataini mustaqbilal qiblati ada’an lillahi ta’aalaa.
Artinya: saya berniat mengerjakan sholat sunah dhuha dua rakaat semata-mata karena Allah ta’ala.
Sholat Dhuha empat rakaat:
أُصَلِّى سُنَّةَ الضُّحَى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لِلّهِ تَعَالَى
Latin: Usholli sunnatadh Dhuhaa arba'aa roka'aatin mustaqbilal qiblati adaa'an lillaahi ta'aalaa
Artinya: "Aku niat shalat sunnah Dhuha empat rakaat menghadap kiblat saat ini karena Allah ta'ala."
Berikut tata cara melaksanakan shalat Dhuha secara urut:
Tata cara ini bisa dilakukan sesuai jumlah rakaat yang diinginkan, dengan setiap dua rakaat diakhiri salam.
Tidak ada surat tertentu yang diwajibkan untuk dibaca dalam sholat Dhuha. Namun, sebagian ulama menganjurkan membaca Surat Asy-Syams pada rakaat pertama dan Surat Ad-Dhuha pada rakaat kedua sebagai amalan yang dianjurkan.
Berikut bacaan surat pendek yang dianjurkan dibaca saat shalat dhuha lengkap Arab, latin, dan artinya:
وَالشَّمْسِ وَضُحَىٰهَا (١) وَالْقَمَرِ إِذَا تَلَىٰهَا (٢) وَالنَّهَارِ إِذَا جَلَّىٰهَا (٣) وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَىٰهَا (٤) وَالسَّمَاءِ وَمَا بَنَىٰهَا (٥) وَالْأَرْضِ وَمَا طَحَىٰهَا (٦) وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّىٰهَا (٧) فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَىٰهَا (٨) قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّىٰهَا (٩) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّىٰهَا (١٠) كَذَّبَتْ ثَمُودُ بِطَغْوَىٰهَا (١١) إِذِ انْبَعَثَ أَشْقَىٰهَا (١٢) فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ نَاقَةَ اللَّهِ وَسُقْيَاهَا (١٣) فَكَذَّبُوهُ فَعَقَرُوهَا فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُمْ بِذَنْبِهِمْ فَسَوَّىٰهَا (١٤) وَلَا يَخَافُ عُقْبَاهَا (١٥)
Latin: Wasy-syamsi wa ḍuḥāhā (1). Wal-qamari iżā talāhā (2). Wan-nahāri iżā jallāhā (3). Wal-laili iżā yaghsyāhā (4). Was-samā'i wa mā banāhā (5). Wal-arḍi wa mā ṭaḥāhā (6). Wa nafsiw wa mā sawwāhā (7). Fa alhamahā fujūrahā wa taqwāhā (8). Qad aflaḥa man zakkāhā (9). Wa qad khāba man dassāhā (10). Każżabat Ṡamūdu bi ṭagwāhā (11). Iżim-ba'aṡa asyqāhā (12). Fa qāla lahum rasūlullāhi nāqatallāhi wa suqyāhā (13). Fa każżabūhu fa 'aqarūhā fa damdama 'alaihim rabbuhum bi żambihim fa sawwāhā (14). Wa lā yakhāfu 'uqbāhā (15).
Arti: Demi matahari dan sinarnya pada pagi hari (1). Demi bulan apabila mengiringinya (2). Demi siang apabila menampakkannya (3). Demi malam apabila menutupinya (4). Demi langit serta pembinaannya (5). Demi bumi serta penghamparannya (6). Demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya) (7). Maka Dia mengilhamkan kepadanya jalan kejahatan dan ketakwaannya (8). Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya (9). Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya (10). Kaum Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas (11). Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka (12). Lalu utusan Allah berkata kepada mereka, "(Biarkanlah) unta betina Allah dan gilirannya minum" (13). Namun mereka mendustakannya lalu menyembelih unta itu. Maka Tuhan membinasakan mereka karena dosa mereka, lalu Dia meratakan (azab) atas mereka (14). Dan Dia tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya (15).
وَالضُّحَىٰ (١) وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ (٢) مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ (٣) وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْأُولَىٰ (٤) وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ (٥) أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ (٦) وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ (٧) وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَىٰ (٨) فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ (٩) وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ (١٠) وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ (١١)
Latin: Waḍ-ḍuḥā (1). Wal-laili iżā sajā (2). Mā wadda‘aka rabbuka wa mā qalā (3). Wa lal-ākhiratu khairul laka minal-ūlā (4). Wa la saufa yu‘ṭīka rabbuka fa tarḍā (5). Alam yajidka yatīman fa āwā (6). Wa wajadaka ḍāllan fa hadā (7). Wa wajadaka ‘āilan fa aghnā (8). Fa ammal-yatīma fa lā taqhar (9). Wa ammas-sāila fa lā tanhar (10). Wa ammā bini‘mati rabbika fa ḥaddiṡ (11).
Arti: Demi waktu duha (ketika matahari sepenggalah naik) (1). Demi malam apabila telah sunyi (gelap) (2). Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak pula membencimu (3). Sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan (4). Sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu sehingga engkau menjadi puas (5). Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(mu) (6). Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk (7). Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan (8). Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang (9). Dan terhadap orang yang meminta-minta janganlah engkau menghardik(nya) (10). Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau menyatakannya (dengan bersyukur) (11).
Surat Al-Ikhlas
قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ (١) ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ (٢) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (٣) وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌ (٤)
Latin: Qul huwallāhu aḥad (1) Allāhuṣ-ṣamad (2) Lam yalid wa lam yūlad (3) Wa lam yakul lahū kufuwan aḥad (4).
Artinya: Katakanlah (Muhammad), "Dialah Allah Yang Maha Esa." (1) Allah tempat meminta segala sesuatu (2) Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan (3) Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya (4).
Selain surah pendek di atas, bisa juga membaca surah lainnya yang sudah dihafalkan.
Setelah shalat dhuha, beberapa doa ini bisa diamalkan untuk memohon segala kebaikan kepada Allah SWT.
اَللّٰهُ لَطِيْفٌۢ بِعِبَادِهٖ يَرْزُقُ مَنْ يَّشَاۤءُۚ وَهُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيْزُ
Latin: Allâhu lathîfun bi ‘ibâdihi yarzuqu man yasyâ’(u), wa huwal qawiyyul ‘azîz(u)
Artinya: Allah Mahalembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan Dia Mahakuat, Mahaperkasa.
اَللّٰهُمَّ إِنَّ الضَّحَآءَ ضَحَاءُكَ، وَالْبَهَاءَ بَهَاءُكَ، وَالْجَمَالَ جَمَــالُكَ، وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ، وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ، وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ. اَللّٰهُمَّ إِنْ كَانَ رِزْقِيْ فِي السَّمَآءِ فَأَنْزِلْهُ، وَإِنْ كَانَ فِي الْأَرْضِ فَأَخْرِجْهُ، وَإِنْ كَانَ مُعْسَرًا فَيَسِّرْهُ، وَإِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ، وَإِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ، بِحَقِّ ضَحَاءِكَ وَبَهَاءِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ آتِنِيْ مَآ أَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ
Latin: Allahumma innal dhaha'a dhaha'uka, wal-baha'a baha'uka, wal-jamaala jamaaluka, wal-quwwata quwwatuka, wal-qudrata qudratuka, wal-'ismaata 'ismaatuka. Allahumma in kaana rizqii fissamaaa'i fa'anzilhu, wa in kaana fil ardi fa'khrujhu, wa in kaana mu'siran fayiassirhu, wa in kaana haraaman fatahirhu, wa in kaana ba'idan faqarribhu, bihiqqi dhaha'ika wa baha'ika wa jamaalika wa quwwatika wa qudratika aatinii maa aatayta 'ibaadaka as-saalihiin.
Artinya: Wahai Tuhanku, sungguh dhuha ini adalah dhuha-Mu, keagungan ini adalah keagungan-Mu, keindahan ini adalah keindahan-Mu, kekuatan ini adalah kekuatan-Mu, dan penjagaan ini adalah penjagaan-Mu. Wahai Tuhanku, jika rejekiku berada di atas langit, maka turunkanlah; jika berada di dalam bumi, maka keluarkanlah; jika dipersulit, mudahkanlah; jika (tercampur tanpa sengaja dengan yang) haram, sucikanlah; jika jauh, dekatkanlah; dengan hak dhuha, keelokan, keindahan, kekuatan, dan kekuasaanmu, datangkanlah kepadaku apa yang Engkau datangkan kepada para hamba-Mu yang salih.
Sholat Dhuha memiliki berbagai keutamaan yang dijelaskan dalam hadis-hadis Rasulullah SAW. Selain menjadi amalan sunnah yang dianjurkan, ibadah ini juga membawa banyak manfaat bagi kehidupan seorang Muslim.
Salah satu keutamaan Sholat Dhuha adalah menjadi ikhtiar untuk memohon kelapangan rezeki kepada Allah SWT, seperti tersirat dalam sebuah hadis.
Dari Nu’aim bin Hammar Al Ghothofaniy, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا ابْنَ آدَمَ لاَ تَعْجِزْ عَنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ أَكْفِكَ آخِرَهُ
“Allah Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, janganlah engkau tinggalkan empat raka’at shalat di awal siang (di waktu Dhuha). Maka itu akan mencukupimu di akhir siang.” (HR. Ahmad (5/286), Abu Daud no. 1289, At Tirmidzi no. 475, Ad Darimi no. 1451 . Syaikh Al Albani dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Sholat Dhuha termasuk amalan sunnah yang dapat menjadi sebab diampuninya dosa-dosa kecil apabila disertai dengan taubat dan menjauhi dosa besar. Hal ini ditegaskan dalam sabda Rasulullah SAW:
مَنْ حَافَظَ عَلَى شُفْعَةٍ الضُّحَى غُفِرَلَهُ ذُنُوْبَهُ وَ اِنْ كَانَتْ مِثْلُ زَبَدِ الْبَخْرِ
Artinya: “Barang siapa yang dapat mengamalkan sholat dhuha dengan langgeng, akan diampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak buih di lautan.” (HR. Tirmidzi)
Ibadah ini juga menjadi pelengkap bagi kekurangan dalam pelaksanaan ibadah wajib. Semakin rutin dikerjakan, semakin besar harapan seorang Muslim memperoleh ampunan Allah SWT.
Melaksanakan Sholat Dhuha dapat menghadirkan ketenangan batin sebelum memulai berbagai aktivitas. Melalui doa dan dzikir, hati menjadi lebih tenang serta pikiran lebih fokus dalam menjalani pekerjaan. Kondisi tersebut membantu seseorang menghadapi berbagai tantangan dengan lebih sabar dan optimistis.
Di balik keutamaannya, Sholat Dhuha juga mengandung berbagai hikmah yang dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Sholat Dhuha menjadi salah satu cara memperbanyak ibadah sunnah sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT. Dengan meluangkan waktu untuk beribadah di pagi hari, seorang Muslim memperkuat hubungan spiritualnya dengan Sang Pencipta. Kebiasaan ini juga menumbuhkan rasa tawakal dalam setiap aktivitas.
Membiasakan Sholat Dhuha melatih kedisiplinan dalam menjalankan ibadah sunnah secara rutin. Konsistensi tersebut dapat membentuk karakter yang lebih disiplin dan bertanggung jawab terhadap kewajiban agama. Sedikit demi sedikit, kebiasaan baik ini akan menjadi bagian dari rutinitas harian.
Sholat Dhuha mengajarkan pentingnya mensyukuri nikmat yang Allah berikan sejak awal hari. Melalui ibadah ini, seseorang diingatkan bahwa segala kemudahan, kesehatan, dan rezeki berasal dari Allah SWT. Rasa syukur yang terus dipupuk akan mendorong sikap yang lebih positif dalam menjalani kehidupan.
Menjaga keistiqamahan dalam Sholat Dhuha memerlukan niat yang kuat dan kebiasaan yang dibangun secara bertahap.
Pilih waktu tertentu setiap pagi untuk melaksanakan Sholat Dhuha agar menjadi kebiasaan. Misalnya setelah matahari meninggi atau sebelum memulai pekerjaan. Jadwal yang konsisten akan memudahkan seseorang menjaga rutinitas ibadah.
Tidak perlu langsung mengerjakan banyak rakaat. Mulailah dengan dua rakaat secara rutin, kemudian tambahkan sesuai kemampuan. Cara ini lebih mudah dilakukan dan membantu membangun kebiasaan yang berkelanjutan.
Mengetahui keutamaan dan hikmah Sholat Dhuha dapat menjadi motivasi untuk terus mengamalkannya. Semakin memahami manfaat spiritualnya, semakin besar pula semangat untuk menjaga ibadah ini. Ilmu yang disertai pengamalan akan memperkuat keistiqamahan.
Sholat Dhuha merupakan ibadah sunnah yang mudah diamalkan dan memiliki banyak keutamaan bagi kehidupan seorang Muslim.
Sholat Dhuha dikerjakan minimal dua rakaat pada waktu dhuha, dimulai setelah matahari terbit hingga menjelang Zuhur.
Pelaksanaannya diawali dengan niat, dilanjutkan membaca surah Al-Fatihah dan surah pilihan, kemudian diakhiri dengan salam serta dianjurkan berdoa memohon kebaikan kepada Allah SWT.
Keutamaan Sholat Dhuha akan lebih terasa apabila dikerjakan secara istiqamah. Meski dimulai dari amalan yang ringan, kebiasaan ini dapat memperkuat keimanan, meningkatkan kedisiplinan beribadah, serta menjadi sarana meraih keberkahan dan keridaan Allah SWT.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang