Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menimbun Harta dan Azabnya, Peringatan Islam bagi Orang Kikir

Kompas.com, 15 Januari 2026, 18:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Dalam ajaran Islam, harta tidak pernah diposisikan sebagai tujuan akhir hidup manusia. Ia adalah titipan sekaligus ujian.

Cara seseorang memperlakukan hartanya akan menentukan apakah kekayaan itu menjadi jalan keselamatan atau justru sumber penyesalan di akhirat.

Salah satu sikap yang paling dikecam dalam Alquran dan hadis adalah kikir, yaitu enggan mengeluarkan harta pada jalan yang diwajibkan dan dianjurkan oleh Allah.

Baca juga: Doa Dijauhkan dari Sifat Kikir Lengkap dengan Terjemahannya

Harta sebagai Amanah, Bukan Milik Mutlak

Islam memandang bahwa kepemilikan manusia atas harta bersifat relatif. Semua kekayaan hakikatnya milik Allah SWT, sementara manusia hanya diberi amanah untuk mengelolanya.

Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa kecintaan berlebihan terhadap harta merupakan cabang dari cinta dunia dan cinta dunia adalah akar dari berbagai kerusakan akhlak.

Ketika seseorang meyakini hartanya sebagai milik mutlak, lahirlah rasa takut kehilangan yang kemudian memicu sifat kikir dan enggan berbagi.

Baca juga: Nisab dan Haul Zakat, Penentu Kapan Harta Menjadi Kewajiban

Kikir dan Kebiasaan Menimbun Harta

Sifat kikir tidak hanya tampak dari keengganan bersedekah, tetapi juga dari sikap menunda atau bahkan meninggalkan kewajiban zakat.

Orang yang kikir cenderung menimbun hartanya dengan keyakinan semu bahwa kekayaan itu akan melindunginya di masa depan.

Padahal, Alquran secara tegas mengingatkan bahwa harta yang ditimbun justru dapat menjadi sebab kebinasaan.

Dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa kebakhilan adalah perbuatan yang merugikan diri sendiri, meski pelakunya sering merasa sedang bersikap hemat dan berhati-hati.

Gambaran Azab bagi Orang yang Bakhil

Al-Qur’an dan hadis memberikan gambaran yang kuat tentang konsekuensi moral dan spiritual dari sifat kikir.

Salah satunya disebutkan bahwa harta yang ditahan dari hak Allah akan berbalik menjadi beban bagi pemiliknya.

Dalam kitab Tanbihul Ghafilin karya Imam Abu Laits As-Samarqandi menggambarkan bahwa harta yang tidak dizakati akan berubah menjadi alat siksaan pada hari kiamat, sebagai peringatan keras bagi orang-orang yang lalai dan kikir.

Rasulullah SAW pun mengingatkan bahwa harta yang ditimbun dapat menjelma menjadi azab yang nyata.

Dalam sebuah hadis shahih, digambarkan bagaimana kekayaan yang tidak ditunaikan zakatnya akan hadir dalam wujud yang menakutkan dan menyiksa pemiliknya.

Gambaran ini menunjukkan bahwa azab tersebut bukan semata simbolik, melainkan bentuk pertanggungjawaban yang nyata.

Baca juga: Siapa Saja Penerima Zakat Maal? Ini 8 Golongan yang Berhak Menerimanya Menurut Al-Qur’an

Dampak Kikir dalam Kehidupan Dunia

Selain ancaman akhirat, sifat kikir juga membawa dampak sosial di dunia. Orang yang bakhil cenderung terisolasi, kehilangan kepercayaan, dan terputus dari empati sosial.

Dalam Al-Adab Al-Mufrad karya Imam Al-Bukhari menempatkan kedermawanan sebagai salah satu akhlak utama yang mempererat hubungan antarmanusia, sementara kikir menjadi sebab renggangnya persaudaraan.

Kikir juga menghilangkan keberkahan harta. Banyak ulama menegaskan bahwa keberkahan bukan diukur dari jumlah, melainkan dari manfaat dan ketenangan yang menyertainya.

Jalan Keluar dari Sifat Kikir

Islam tidak hanya memberikan peringatan, tetapi juga solusi. Kunci utama untuk keluar dari sifat kikir adalah melatih keikhlasan dan membangun keyakinan bahwa rezeki tidak berkurang karena dibagikan.

Dalam Riyadhus Shalihin karya Imam An-Nawawi mengutip berbagai hadis tentang keutamaan sedekah, salah satunya menegaskan bahwa harta tidak akan berkurang karena sedekah.

Membiasakan berbagi, meski dari jumlah kecil, menjadi langkah awal membersihkan hati dari kecintaan berlebihan terhadap dunia.

Menunaikan zakat tepat waktu, memperbanyak infak dan menyadari bahwa harta adalah sarana ibadah merupakan cara efektif agar kekayaan menjadi penyelamat, bukan penjerat.

Baca juga: Mengenal Sifat Kikir: Penyakit Hati yang Membinasakan

Menjadikan Harta sebagai Jalan Keselamatan

Harta pada dasarnya netral. Ia bisa menjadi kendaraan menuju surga jika digunakan sesuai tuntunan atau berubah menjadi beban jika ditimbun dan disembah secara tidak sadar.

Islam mengajarkan keseimbangan bekerja dan memiliki harta diperbolehkan, tetapi keterikatan berlebihan justru berbahaya.

Dengan memahami peringatan Alquran, hadis, dan penjelasan para ulama, umat Islam diingatkan agar tidak terjebak dalam ilusi kepemilikan.

Sebab pada akhirnya, harta yang paling bernilai bukan yang disimpan, melainkan yang dibelanjakan di jalan kebaikan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Mengapa Jumat disebut Sayyidul Ayyam? Ini Makna Julukan Rajanya Hari dalam Islam
Mengapa Jumat disebut Sayyidul Ayyam? Ini Makna Julukan Rajanya Hari dalam Islam
Aktual
Cegah Haji Ilegal 2026, Kemenhaj dan Imigrasi Perkuat Pengawasan
Cegah Haji Ilegal 2026, Kemenhaj dan Imigrasi Perkuat Pengawasan
Aktual
Serukan Persatuan, Din Syamsuddin Ajak Tak Pertentangkan Sunni-Syiah
Serukan Persatuan, Din Syamsuddin Ajak Tak Pertentangkan Sunni-Syiah
Aktual
Panduan Shalat Tasbih: Tata Cara, Niat, Waktu, dan Keutamaannya
Panduan Shalat Tasbih: Tata Cara, Niat, Waktu, dan Keutamaannya
Aktual
Pelantikan PCNU Banyuwangi 2026–2030 Digelar Mendadak, Dirangkai Haul Pendiri Pesantren
Pelantikan PCNU Banyuwangi 2026–2030 Digelar Mendadak, Dirangkai Haul Pendiri Pesantren
Aktual
20 Sifat Mustahil Allah SWT: Arti, Makna, dan Penjelasan Lengkapnya
20 Sifat Mustahil Allah SWT: Arti, Makna, dan Penjelasan Lengkapnya
Aktual
Jejak Kota Ubullah: Pelabuhan Persia yang Ditaklukkan Khalid bin Walid, Kini Tinggal Nama
Jejak Kota Ubullah: Pelabuhan Persia yang Ditaklukkan Khalid bin Walid, Kini Tinggal Nama
Aktual
Khutbah Jumat Hari Ini: Menjaga Istiqamah Ibadah Setelah Ramadhan, Jangan Kembali Lalai
Khutbah Jumat Hari Ini: Menjaga Istiqamah Ibadah Setelah Ramadhan, Jangan Kembali Lalai
Aktual
Doa Saat Stres dan Cemas: Arab, Latin dan Artinya
Doa Saat Stres dan Cemas: Arab, Latin dan Artinya
Doa dan Niat
Doa Nabi Zakariya Memohon Anak: Harapan di Tengah Kemustahilan
Doa Nabi Zakariya Memohon Anak: Harapan di Tengah Kemustahilan
Doa dan Niat
Fantastis! 89 Juta Orang Kunjungi Arab Saudi untuk Hiburan Selama 2025
Fantastis! 89 Juta Orang Kunjungi Arab Saudi untuk Hiburan Selama 2025
Aktual
Layanan Haji Makin Canggih: Arab Saudi Perkuat Digitalisasi hingga AI untuk Kenyamanan Jemaah
Layanan Haji Makin Canggih: Arab Saudi Perkuat Digitalisasi hingga AI untuk Kenyamanan Jemaah
Aktual
Rawdah Mohamed Buktikan Hijab Bisa Stylish di Dunia Denim, Tampil Edgy hingga High Fashion
Rawdah Mohamed Buktikan Hijab Bisa Stylish di Dunia Denim, Tampil Edgy hingga High Fashion
Aktual
Human Initiative Luncurkan Sebar Qurban 2026, Targetkan 309.000 Penerima
Human Initiative Luncurkan Sebar Qurban 2026, Targetkan 309.000 Penerima
Aktual
Lulusan Cepat Terserap Kerja, UIN Jakarta Ungkap Strategi Sukses Tembus Dunia Industri
Lulusan Cepat Terserap Kerja, UIN Jakarta Ungkap Strategi Sukses Tembus Dunia Industri
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com