KOMPAS.com – Dalam hidup, ada masa ketika manusia merasa lelah menghadapi tekanan, bingung menentukan jalan keluar, atau merasa sendirian memikul masalah yang datang bertubi-tubi.
Sebagian orang mencari pertolongan lewat manusia, harta, jabatan, atau relasi. Namun dalam ajaran Islam, tempat kembali terbaik bagi seorang hamba tetaplah Allah SWT.
Alquran berulang kali menegaskan bahwa doa bukan sekadar permintaan biasa, melainkan bentuk penghambaan, harapan, sekaligus bukti keyakinan seorang Muslim kepada Tuhannya.
Oleh karena itu, Rasulullah SAW mengajarkan berbagai doa untuk dibaca saat menghadapi kesulitan, rasa takut, maupun kondisi yang membutuhkan pertolongan Allah SWT.
Salah satu doa tersebut diriwayatkan dalam kitab Shahih Muslim dan dikenal sebagai doa penuh pengagungan kepada Allah sekaligus penguat keyakinan hati seorang Mukmin.
Baca juga: Benarkah Doa Nabi Yusuf Bisa Bikin Anak Tampan? Ini Fakta & Hukumnya
Dalam Shahih Muslim nomor hadis 2724, Rasulullah SAW mengajarkan doa berikut:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ أَعَزَّ جُنْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَغَلَبَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ فَلَا شَيْءَ بَعْدَهُ
Laa ilaaha illallaahu wahdahu a‘azza jundahu wa nashara ‘abdahu wa ghalabal ahzaaba wahdahu falaa syai’a ba’dahu.
Artinya: “Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa. Dia telah memenangkan pasukan-Nya, menolong hamba-Nya, dan mengalahkan musuh-musuh-Nya sendirian. Tidak ada sesuatu pun setelah-Nya.”
Doa ini mengandung pengakuan tentang kebesaran Allah SWT sekaligus keyakinan bahwa hanya Allah yang mampu memberi pertolongan sejati.
Dalam kitab Syarh Shahih Muslim karya Imam an-Nawawi dijelaskan bahwa lafaz doa tersebut menunjukkan tauhid, ketawakalan, dan keyakinan penuh terhadap kekuasaan Allah dalam mengalahkan segala bentuk kesulitan.
Baca juga: 3 Doa yang Dianjurkan di Hari Jumat, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Dalam Islam, doa memiliki kedudukan sangat istimewa.
Allah SWT bahkan memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa secara langsung kepada-Nya.
Dalam Surah Ghafir ayat 60, Allah berfirman:
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.”
Sementara dalam Surah Al-Baqarah ayat 186, Allah SWT menegaskan:
“Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.”
Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa seorang Muslim tidak pernah benar-benar sendiri selama ia masih mau mengetuk pintu langit lewat doa.
Dikutip dari buku Jangan Takut Hadapi Hidup karya Dr. Aidh al-Qarni, doa adalah bentuk optimisme terbesar seorang Mukmin karena ia percaya bahwa selalu ada jalan keluar dari Allah SWT meski manusia melihat semuanya terasa mustahil.
Banyak orang beranggapan doa hanya dilakukan ketika semua usaha telah gagal. Padahal dalam Islam, doa justru menjadi bagian dari usaha itu sendiri.
Seorang Muslim diperintahkan untuk bekerja, bersabar, dan berikhtiar, tetapi pada saat yang sama tetap menggantungkan hati kepada Allah SWT.
Dalam hadis riwayat Ath-Thabrani, Rasulullah SAW bersabda:
“Perbanyaklah berdoa. Sesungguhnya engkau tidak mengetahui kapan doamu akan dikabulkan.”
Hadis ini mengajarkan pentingnya menjaga harapan dan tidak mudah berputus asa.
Dalam buku La Tahzan karya Dr. Aidh al-Qarni dijelaskan bahwa salah satu penyebab manusia mudah gelisah adalah karena terlalu bergantung kepada makhluk dan lupa menggantungkan harapan kepada Allah SWT.
Padahal, menurut Al-Qarni, doa mampu menghadirkan ketenangan batin karena seseorang merasa seluruh urusannya berada dalam penjagaan Allah.
Baca juga: Lagi Bertengkar? Ini Doa Nabi agar Hati Tenang & Dapat Solusi Terbaik
Para ulama menjelaskan bahwa doa bukan sekadar membaca lafaz, tetapi juga membutuhkan kesungguhan hati dan adab tertentu.
Dalam kitab Al-Adzkar karya Imam an-Nawawi disebutkan beberapa adab penting saat berdoa, di antaranya:
Doa sebaiknya diawali dengan hamdalah dan pujian kepada Allah SWT.
Membaca shalawat menjadi salah satu sebab doa lebih mudah diangkat dan diterima.
Rasulullah SAW melarang berdoa dengan hati yang lalai atau tidak yakin.
Seorang Muslim tidak boleh cepat merasa doanya tidak dikabulkan hanya karena belum melihat hasilnya.
Istigfar diyakini menjadi salah satu pembuka datangnya rahmat dan pertolongan Allah SWT.
Dalam banyak hadis dijelaskan bahwa ada beberapa waktu yang sangat dianjurkan untuk memperbanyak doa.
Di antaranya:
Dikutip dari buku Fiqih Doa dan Zikir karya Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr, waktu-waktu tersebut disebut sebagai momen ketika rahmat Allah SWT terbuka luas bagi hamba-Nya.
Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa dalam kondisi apa pun, baik saat sempit maupun lapang.
Baca juga: Benarkah Summum Bukmun Umyun Doa Penunduk Hati? Ini Faktanya
Di tengah kehidupan modern yang penuh tekanan, banyak orang mengalami kecemasan, rasa takut, hingga kehilangan arah hidup.
Dalam Islam, doa bukan hanya sarana meminta sesuatu, tetapi juga menjadi terapi spiritual bagi hati yang gelisah.
Allah SWT berfirman dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
Karena itu, para ulama sering mengingatkan bahwa seseorang yang dekat dengan doa biasanya memiliki ketenangan batin lebih besar dibanding mereka yang hanya bergantung pada kekuatan dirinya sendiri.
Tidak semua doa langsung dikabulkan sesuai keinginan manusia. Namun Islam mengajarkan bahwa tidak ada doa yang sia-sia.
Dalam hadis riwayat Ahmad disebutkan bahwa doa seorang Mukmin bisa dikabulkan dalam berbagai bentuk: disegerakan di dunia, disimpan sebagai pahala di akhirat, atau dijauhkan dari keburukan yang setara.
Oleh karena itu, seorang Muslim diajarkan untuk tidak berhenti berharap kepada Allah SWT.
Sebab sering kali, pertolongan Allah datang pada waktu yang tidak disangka-sangka, melalui jalan yang tidak pernah diperkirakan manusia.
Di saat dunia terasa sempit dan masalah terasa berat, doa menjadi pengingat bahwa seorang hamba selalu memiliki tempat kembali yang tidak pernah menolak permintaannya: Allah SWT.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang