Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

MUI: Meninggalnya Ojol Affan Bisa Picu Kemarahan Rakyat di Tengah Sulit Kerja dan Beban Pajak

Kompas.com - 29/08/2025, 10:33 WIB
Farid Assifa

Editor

Sumber MUIDigital

KOMPAS.com - Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Anwar Iskandar menyampaikan duka mendalam atas wafatnya Affan Kurniawan, seorang driver ojek online (Ojol) yang dilindas oleh mobil Barakuda Brimob Polri.

Kiai Anwar mengungkapkan harapannya agar almarhum mendapatkan magfirah dari Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.

"Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, semoga almarhum Affandi mendapatkan magfirah Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan mendapatkan karunia ikhlas dan kesabaran," kata Kiai Anwar dilansir dari MUIDigital, Jumat (29/8/2025).

Baca juga: MUI Sampaikan Duka atas Wafatnya Ojol Affan, Minta Pelaku Ditindak Tegas

Kiai Anwar menyayangkan terjadinya korban jiwa dalam aksi unjuk rasa yang diadakan oleh ribuan aktivis buruh serta elemen masyarakat di depan Gedung DPR-RI, Senayan, Jakarta.

Ia meminta agar para pelaku dihukum seberat-beratnya sesuai dengan proses hukum yang berlaku.

"Pimpinan tertinggi aparat juga ikut datang melayat sekaligus menyampaikan permintaan maaf agar terasa empati terhadap korban dan keluarganya," ungkapnya.

Sebagai pengasuh Pondok Pesantren Al Amin Kediri, Kiai Anwar meminta tragedi kemanusiaan ini menjadi perhatian khusus dari Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

Pemerintah Diminta Peka

Ia mengingatkan bahwa meninggalnya Affan Kurniawan dapat memicu kemarahan masyarakat yang sudah lelah menghadapi beban hidup yang semakin berat.

"Mulai dari kesulitan mencari pekerjaan, beban pajak yang makin terasa, serta beban-beban lain yang mudah menyulut emosi rakyat. Suasana kehidupan rakyat yang makin berat ini memerlukan kepekaan sosial yang tinggi dari para elite politik agar masyarakat merasakan kehadiran negara," tegasnya.

Kiai Anwar yang juga menjabat sebagai Wakil Rais Aam PBNU menyerukan agar seluruh elemen bangsa meningkatkan rasa cinta kepada NKRI dengan saling menghormati satu sama lain.

Ia juga mengingatkan aparat penegak hukum, seperti Polri dan TNI, untuk meningkatkan rasa empati kepada rakyat agar mereka merasakan pengayoman, bukan ancaman.

"Bukan merasa terancam dan selalu khawatir terhadap keamanan diri dan keluarga akibat ulah oknum-oknum aparat yang tak bertanggung jawab," tegasnya.

Kiai Anwar menekankan pentingnya pendekatan persuasif dalam menangani aksi unjuk rasa agar tragedi kemanusiaan yang keji ini dapat dihindari di masa depan.

Ia juga menyerukan masyarakat untuk tetap bijak dan mematuhi norma serta ketertiban umum saat menyampaikan aspirasi.

Terakhir, Kiai Anwar meminta pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto untuk melakukan introspeksi diri agar dapat menjadi pelayan yang baik bagi masyarakat.

"Tolonglah, marilah kita sama-sama menjaga agar kehidupan demokrasi kita tetap terjaga dengan baik dan dengan rasa memiliki yang tinggi terhadap negara tercinta ini. Saya juga berharap agar pemerintah berani introspeksi diri agar bisa menjadi pelayan yang baik bagi masyarakat, bukan malah sebaliknya," tegasnya.

Baca juga: Ancaman bagi Pemimpin Zalim dalam Islam

Ia menekankan perlunya pemerintah untuk mendengarkan semua aspirasi masyarakat dan menjadikan suara rakyat sebagai dasar dalam pengambilan kebijakan.

"Dengan demikian, tercipta harmoni yang baik antara pemerintah dan segenap rakyat," pungkasnya.

Terangi negeri dengan literasi, satu buku bisa membuka ribuan mimpi. Lewat ekspedisi Kata ke Nyata, Kompas.com ingin membawa ribuan buku ke pelosok Indonesia. Bantu anak-anak membaca lebih banyak, bermimpi lebih tinggi. Ayo donasi via Kitabisa!


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke