Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

UIN Palu Usulkan Menag Nasaruddin Umar Raih Nobel Perdamaian

Kompas.com, 3 November 2025, 07:54 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com - Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, Sulawesi Tengah, menyuarakan dukungan agar Menteri Agama (Menag) RI Nasaruddin Umar dinominasikan sebagai penerima Nobel Perdamaian internasional.

Usulan ini disampaikan langsung oleh Rektor UIN Datokarama, Prof Lukman Thahir, saat memberikan pesan almamater pada Wisuda ke-45 sarjana, magister, dan doktor di kampus tersebut, Minggu (2/11/2025).

“Atas nama civitas akademika UIN Datokarama Palu, kami mengusulkan kepada dunia internasional bahwa Menag layak untuk mendapatkan Nobel Perdamaian sebagai tokoh lintas agama berpengaruh,” ujar Prof Lukman.

Baca juga: Menag Nasaruddin Umar Kenang Persahabatannya dengan Paus Fransiskus di Vatikan

Menurutnya, Menag Nasaruddin Umar telah menampilkan wajah Islam yang damai dan menjadi simbol dialog lintas iman yang hidup, bukan sekadar wacana.

“Beliau bukan sekadar Menteri Agama, tetapi jembatan nurani yang menghubungkan Timur dan Barat, Islam dan Kristen, tradisi dan modernitas, serta iman dan kemanusiaan,” katanya.

Prof Lukman menyinggung momen bersejarah ketika Paus Fransiskus mencium tangan Nasaruddin Umar di Masjid Istiqlal, dan sebaliknya, Menag mengecup kepala Paus.

“Itu bukan sekadar gestur, tetapi doa yang berwujud tindakan — pesan bahwa kasih dan perdamaian tidak membutuhkan penerjemah agama,” ujarnya.

Rektor UIN Datokarama juga menyoroti kunjungan Menag ke Vatikan beberapa hari lalu, ketika Nasaruddin berdiri di jantung Kota Suci itu dan menyampaikan orasi perdamaian dunia.

Ia bahkan berziarah ke makam Paus Fransiskus dan memeluk Paus Leo XIV, sebagai simbol bahwa persahabatan lintas iman tidak berhenti oleh kematian, melainkan berlanjut dalam cinta yang abadi.

“Pak Menteri tidak berjalan di jalan yang mudah. Ia menempuh jalan sunyi, jalan yang sepi dari tepuk tangan, tetapi penuh doa dari langit,” tutur Lukman.

Ia menegaskan, kiprah Nasaruddin Umar telah membuktikan bahwa agama sejati bukan untuk memisahkan, tetapi untuk memeluk.

“Di tengah dunia yang mudah terbakar oleh kebencian, beliau memilih menjadi air yang memadamkan, menjadi kata yang menenangkan, dan menjadi wajah Islam yang tersenyum,” tambahnya.

Baca juga: Menag Nasaruddin Umar Temui Paus Leo XIV di Vatikan, Bahas Deklarasi Istiqlal-Vatikan

Lukman menutup pesannya dengan menyatakan bahwa dari Palu, Indonesia turut menjaga nyala perdamaian global.

“Perdamaian bukan sekadar diplomasi antarnegara, tetapi doa yang hidup di dada para ulama dan orang-orang beriman. Agama dan kemanusiaan bukan dua jalan yang berbeda, melainkan satu napas dalam rumah besar cinta Tuhan,” pungkasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com