KOMPAS.com - Dalam pengalaman hidup manusia, musibah kerap dimaknai secara sempit sebagai peristiwa yang menyakitkan, merugikan, atau menimbulkan penderitaan.
Ketika bencana alam, kehilangan, atau kegagalan datang, tidak jarang muncul anggapan bahwa semua itu adalah bentuk hukuman atau azab dari Tuhan.
Padahal, Al-Qur’an memberikan gambaran yang lebih luas dan berlapis tentang makna musibah.
Dalam pandangan Al-Qur’an, musibah tidak selalu identik dengan murka Allah. Ia bisa hadir sebagai ujian, peringatan, bahkan dalam konteks tertentu sebagai azab.
Memahami perbedaan ini menjadi penting agar umat Islam tidak gegabah dalam menilai sebuah peristiwa, baik yang menimpa diri sendiri maupun orang lain.
Baca juga: Banjir Jakarta Meluas, Ini Doa-doa yang Dianjurkan Saat Musibah
Al-Qur’an menggunakan istilah musibah untuk merujuk pada segala sesuatu yang menimpa manusia. Musibah dalam Al-Qur’an mencakup kejadian yang bersifat menyenangkan maupun menyulitkan, karena semuanya berada dalam kehendak dan pengaturan Allah.
Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. An-Nisa’ ayat 79 yang menegaskan bahwa kebaikan bersumber dari Allah, sementara keburukan yang menimpa manusia berkaitan dengan perbuatannya sendiri.
Ayat ini menunjukkan bahwa musibah tidak bisa disamaratakan sebagai azab, melainkan harus dipahami sesuai konteks dan hikmahnya.
Salah satu fungsi utama musibah dalam Al-Qur’an adalah sebagai ujian. Allah menguji manusia bukan hanya melalui kesulitan, tetapi juga melalui kelapangan.
Dikutip dari buku Tafsir al-Munir karya Wahbah az-Zuhaili, ujian Allah bisa hadir dalam bentuk kekayaan, kesehatan, dan keberhasilan, sebagaimana bisa pula datang melalui kehilangan dan penderitaan.
Al-Qur’an dalam QS. Al-Baqarah ayat 155 menjelaskan bahwa rasa takut, lapar, berkurangnya harta, jiwa, dan hasil panen adalah bagian dari ujian.
Tujuannya bukan untuk menghancurkan manusia, melainkan untuk melihat sejauh mana kesabaran dan keteguhan iman seorang hamba. Orang yang mampu bersikap sabar justru dijanjikan kabar gembira.
Dalam konteks ini, musibah tidak mengandung makna hukuman, melainkan proses penyaringan spiritual agar manusia mengenali posisi dirinya di hadapan Allah.
Baca juga: Doa Agar Diberi Kesabaran dan Ganti yang Lebih Baik Saat Terkena Musibah
Selain ujian, musibah juga berfungsi sebagai peringatan. Dikutip dari buku Fi Zhilalil al-Qur’an karya Sayyid Qutb, peringatan melalui musibah merupakan bentuk kasih sayang Allah agar manusia tidak terus-menerus terjerumus dalam kesalahan.
Al-Qur’an surat Ar-Rum ayat 41 menyinggung kerusakan di darat dan laut akibat perbuatan manusia.
Ayat ini menunjukkan bahwa sebagian musibah, terutama yang berkaitan dengan lingkungan dan kehidupan sosial, merupakan konsekuensi dari perilaku manusia sendiri.
Melalui peristiwa tersebut, Allah mengingatkan manusia agar kembali pada keseimbangan dan tanggung jawab moral.
Dalam kehidupan personal, peringatan juga bisa hadir dalam bentuk penyakit, kegelisahan batin, atau kesempitan rezeki.
Tujuannya agar manusia melakukan introspeksi dan memperbaiki hubungan dengan Allah serta sesama.
Al-Qur’an memang menyebut adanya musibah yang berfungsi sebagai azab. Namun, kategori ini tidak berlaku umum.
Dikutip dari buku Tafsir Al-Qurtubi karya Imam Al-Qurthubi, azab biasanya diturunkan kepada kaum yang secara kolektif membangkang, menolak kebenaran, dan melakukan kerusakan secara terang-terangan setelah datangnya peringatan.
Kisah banjir besar pada masa Nabi Nuh AS atau kehancuran kaum Nabi Luth AS merupakan contoh musibah yang secara tegas disebut sebagai azab.
Peristiwa-peristiwa tersebut terjadi setelah penolakan dakwah berlangsung lama dan dilakukan dengan penuh kesombongan.
Karena itu, para ulama menegaskan bahwa musibah yang menimpa umat Islam hari ini tidak bisa serta-merta disebut sebagai azab, apalagi tanpa dalil yang jelas.
Sikap tergesa-gesa dalam melabeli musibah sebagai hukuman justru bertentangan dengan etika Al-Qur’an.
Baca juga: Hikmah di Balik Bencana Alam: Panduan Islam Menghadapi Musibah dengan Bijak
Dari berbagai penjelasan tersebut, terlihat bahwa musibah dalam Islam memiliki dimensi yang beragam.
Ia bisa menjadi ujian untuk meninggikan derajat, peringatan agar manusia kembali ke jalan yang benar atau dalam konteks tertentu sebagai azab bagi kaum yang membangkang.
Islam mengajarkan umatnya untuk bersikap bijak dalam menyikapi musibah. Alih-alih sibuk menghakimi, Al-Qur’an mendorong manusia untuk melakukan introspeksi, memperkuat kesabaran, dan memperbaiki amal perbuatan.
Dengan cara inilah musibah dapat menjadi sarana pertumbuhan spiritual, bukan sumber keputusasaan.
Pada akhirnya, tidak setiap musibah adalah azab. Justru, banyak di antaranya merupakan bentuk kasih sayang Allah agar manusia tidak terlepas dari jalan-Nya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang