Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Makna Sabar dan Syukur, Pilar Keseimbangan Hidup Seorang Muslim

Kompas.com, 17 Januari 2026, 08:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Dalam perjalanan hidup, manusia tidak pernah lepas dari dua keadaan yang silih berganti, yaitu kelapangan dan kesempitan.

Ada masa ketika rezeki terasa mengalir deras, kesehatan terjaga, dan cita-cita tercapai. Namun ada pula saat-saat di mana cobaan datang bertubi-tubi, menguji kesabaran dan keteguhan hati.

Islam memandang dinamika ini bukan sebagai kebetulan semata, melainkan bagian dari proses pembentukan karakter seorang mukmin. Di sinilah sabar dan syukur mengambil peran sentral sebagai fondasi spiritual.

Sabar dan syukur bukan hanya sikap pasif menerima keadaan, melainkan dua energi aktif yang menggerakkan manusia untuk bertumbuh secara rohani.

Keduanya membentuk pola hidup yang seimbang, tidak mudah larut dalam kesedihan saat diuji dan tidak lupa diri ketika berada dalam kelimpahan.

Baca juga: Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 45: Meminta Pertolongan dengan Sabar dan Shalat

Makna Sabar dalam Perspektif Islam

Sabar sering dipahami sebatas menahan diri dari keluhan. Padahal, dalam ajaran Islam, sabar memiliki cakupan makna yang jauh lebih luas.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa sabar adalah kekuatan jiwa yang mampu mengendalikan dorongan hawa nafsu dan emosi agar tetap berada dalam koridor ketaatan kepada Allah.

Artinya, sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi bertahan dengan penuh kesadaran sambil terus berikhtiar.

Al-Qur’an berulang kali menempatkan sabar sebagai kunci pertolongan Allah. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 153, Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”

Kebersamaan Allah dengan orang yang sabar menunjukkan bahwa kesabaran bukanlah sikap lemah, melainkan posisi spiritual yang tinggi.

Dalam buku Madarij as-Salikin karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, dijelaskan bahwa sabar terbagi dalam tiga bentuk utama, yaitu sabar dalam menjalankan perintah Allah, sabar menjauhi larangan-Nya, dan sabar menerima ketentuan takdir yang tidak selalu sesuai dengan keinginan manusia.

Ketiganya saling melengkapi. Sabar dalam ketaatan menuntut konsistensi ibadah. Sabar dalam meninggalkan maksiat membutuhkan kekuatan pengendalian diri. Sementara sabar menghadapi musibah menuntut keteguhan hati dan keikhlasan.

Baca juga: Khutbah Jumat: Korelasi Syukur, Sabar, Meminta Maaf, dan Memaafkan

Syukur sebagai Energi Positif Kehidupan

Jika sabar membentengi manusia saat diuji, maka syukur menguatkan jiwa ketika nikmat datang.

Syukur dalam Islam bukan sekadar ucapan terima kasih, melainkan kesadaran mendalam bahwa setiap karunia bersumber dari Allah.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa syukur mencakup tiga dimensi, pengakuan dalam hati, pujian dengan lisan, dan pemanfaatan nikmat melalui perbuatan yang baik.

Seseorang belum dianggap bersyukur secara sempurna jika hanya mengucapkan “Alhamdulillah” tanpa mengarahkan nikmat yang dimiliki kepada hal yang diridhai Allah.

Allah bahkan menjadikan syukur sebagai sebab bertambahnya nikmat. Dalam Surah Ibrahim ayat 7 disebutkan:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.”

Janji ini menunjukkan bahwa syukur bukan hanya respons atas nikmat, tetapi juga pintu pembuka keberkahan baru.

Orang yang bersyukur akan lebih peka melihat kebaikan dalam hidupnya, sekaligus lebih bijak dalam menggunakan rezeki, jabatan, dan kesempatan yang ia miliki.

Harmoni Sabar dan Syukur dalam Kehidupan Mukmin

Islam tidak memisahkan antara sabar dan syukur. Keduanya justru berjalan berdampingan dalam membentuk kepribadian seorang mukmin.

Rasulullah SAW menggambarkan keseimbangan ini dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Muslim:

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesulitan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.”

Hadis ini menunjukkan bahwa dalam perspektif iman, tidak ada keadaan yang sepenuhnya merugikan.

Nikmat menjadi ladang syukur, sementara ujian menjadi sarana pendewasaan spiritual. Dengan pola pikir ini, seorang mukmin tidak mudah terjebak dalam keputusasaan, sekaligus tidak terlena oleh kesenangan dunia.

Dalam buku La Tahzan karya Aidh al-Qarni, dijelaskan bahwa banyak kegelisahan manusia muncul karena ketidakmampuan menerima takdir dan kurangnya rasa syukur atas apa yang dimiliki.

Ketika seseorang belajar bersabar atas yang belum ia raih dan bersyukur atas yang telah ia miliki, maka jiwanya akan lebih tenang dan stabil.

Baca juga: Tanda Dicabutnya Rasa Syukur dari Diri Seorang Muslim

Membangun Kebiasaan Sabar dan Syukur dalam Aktivitas Sehari-hari

Sabar dan syukur bukan hanya konsep teoritis, tetapi harus diwujudkan dalam kebiasaan hidup.

Dalam praktik sehari-hari, sabar dapat dilatih melalui pengendalian emosi, ketekunan dalam ibadah, serta kemampuan menunda kepuasan demi tujuan yang lebih besar.

Sementara syukur dapat dibangun dengan membiasakan diri mencatat nikmat kecil yang sering terabaikan, seperti kesehatan, keluarga, dan kesempatan berbuat baik.

Ulama kontemporer seperti Syekh Yusuf Al-Qaradawi dalam kitab Al-Iman wal Hayah menekankan bahwa iman yang hidup adalah iman yang tercermin dalam sikap optimis, produktif, dan penuh rasa tanggung jawab.

Sabar membuat seseorang tangguh menghadapi tantangan, sedangkan syukur menjadikannya rendah hati dan tidak mudah sombong.

Menjadikan Sabar dan Syukur sebagai Gaya Hidup

Sabar dan syukur sejatinya bukan hanya respons sesaat, melainkan gaya hidup seorang Muslim.

Dengan sabar, seseorang belajar mengelola luka, kegagalan, dan kekecewaan. Dengan syukur, ia belajar menghargai setiap karunia, sekecil apa pun bentuknya.

Ketika dua nilai ini terpatri dalam diri, hidup tidak lagi dipandang sebagai beban, tetapi sebagai amanah yang harus dijalani dengan penuh kesadaran.

Di situlah letak keindahan iman di mana mampu berdiri tegak di tengah badai, sekaligus tetap rendah hati di tengah kelimpahan.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com