Editor
KOMPAS.com - Hajar Aswad, batu hitam yang menjadi pusat perhatian jutaan jemaah haji dan umrah di sudut Ka’bah, sejak lama diyakini umat Islam sebagai batu dari surga.
Namun, perkembangan riset ilmiah modern justru menghadirkan temuan menarik: batu suci tersebut kemungkinan besar memang bukan berasal dari bumi biasa.
Keyakinan umat Islam itu bersandar pada sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan At-Tirmidzi dan dikutip dalam buku Tapak Sejarah Seputar Makkah–Madinah karya Muslim H Nasution:
“Hajar Aswad adalah batu dari batu-batuan surga.” (HR At-Tirmidzi)
Hadis lain menyebutkan bahwa Hajar Aswad awalnya berwarna putih seperti susu, lalu berubah menjadi hitam akibat dosa-dosa manusia.
Dalam sejarah Islam, Hajar Aswad dikisahkan dibawa Malaikat Jibril kepada Nabi Ibrahim AS untuk diletakkan di Ka’bah.
Batu tersebut kemudian kembali dipasang oleh Nabi Muhammad SAW ketika renovasi Ka’bah sebelum masa kenabian.
Hingga kini, mencium atau menyentuh Hajar Aswad menjadi bagian dari sunnah dalam ibadah thawaf.
Menariknya, keyakinan keagamaan ini bersinggungan dengan hasil penelitian ilmiah modern.
Salah satu kajian yang kerap dirujuk datang dari Elsebeth Thomsen, ilmuwan University of Copenhagen, melalui studinya berjudul "New Light on the Origin of the Holy Black Stone of the Ka’ba".
Dalam penelitiannya, Thomsen mengemukakan bahwa Hajar Aswad memiliki kemiripan kuat dengan kaca impaksit, material yang terbentuk akibat tumbukan meteorit besar di permukaan bumi.
Penelitian tersebut mengaitkan Hajar Aswad dengan kawah Wabar di wilayah Rub’ al Khali, Arab Saudi.
Kawah ini ditemukan oleh penjelajah Inggris Harry St John Philby pada 1932 dan diyakini sebagai lokasi tumbukan meteorit purba.
Kajian Dietz dan McHone (1974) menyebutkan bahwa Hajar Aswad terdiri atas delapan fragmen kecil yang disatukan dengan bingkai perak.
Permukaannya hitam mengilap, sementara bagian dalamnya berwarna putih seperti susu. Batu ini juga disebut dapat mengapung di air, sifat yang tidak lazim pada batuan bumi atau meteorit logam.
Karakteristik tersebut serupa dengan kaca impaksit dari kawah Wabar, yang memiliki bagian luar hitam berkilau, bagian dalam putih berpori, serta kandungan nikel dan besi akibat panas ekstrem dari tumbukan meteorit.
Penelitian El Goresy dkk. (1968) menjelaskan bahwa material ini terbentuk dari lelehan pasir silika akibat hantaman benda langit berkecepatan tinggi.
Thomsen kemudian membandingkan sampel kaca Wabar yang tersimpan di Museum Geologi Kopenhagen dengan deskripsi Hajar Aswad dalam literatur sejarah.
Hasilnya menunjukkan kemiripan yang mencolok. Usia material tersebut diperkirakan mencapai sekitar 6.400 tahun.
Ia menduga batu tersebut kemungkinan dibawa ke Makkah oleh kafilah dagang kuno dari wilayah Oman yang melintasi kawasan Wabar, jauh sebelum masa Nabi Ibrahim AS.
Dalam catatan klasik Islam, Hajar Aswad tetap dipandang sebagai batu terakhir yang menyempurnakan bangunan Ka’bah.
Prof Dr Ali Husni Al-Kharbuthli dalam bukunya Sejarah Ka’bah menegaskan bahwa batu tersebut merupakan anugerah dari surga yang disampaikan Malaikat Jibril kepada Nabi Ibrahim AS.
Riwayat Imam Ath-Thabari juga mencatat, ketika Nabi Ismail AS mencari batu untuk Ka’bah, Nabi Ibrahim AS telah meletakkan Hajar Aswad seraya mengatakan bahwa batu itu berasal dari langit.
Muslim Nasution menulis:
“Hajar Aswad bukanlah batu yang berasal dari bumi, melainkan batu suci yang diturunkan dari surga. Awalnya berwarna putih, lalu berubah menjadi hitam karena dosa manusia.”
Bagi para ulama, temuan ilmiah tersebut tidak mengurangi nilai spiritual Hajar Aswad. Justru, kesamaan ciri fisik dengan material meteorit dipandang sebagai penjelasan ilmiah yang sejalan dengan keyakinan bahwa batu tersebut memiliki “jejak langit”.
Baca juga: Warga Padang Berjalan Kaki ke Makkah demi Haji, Kemenhaj Beri Penjelasan
Pada akhirnya, bagi umat Islam, asal-usul fisik Hajar Aswad bukan inti ibadah.
Seperti ditegaskan Umar bin Khattab RA, penghormatan terhadap Hajar Aswad adalah bentuk ketaatan kepada Rasulullah SAW, bukan pemujaan terhadap batu.
Di titik inilah sains dan iman bertemu—bukan untuk saling meniadakan, melainkan untuk saling mengingatkan bahwa sebagian misteri memang ditakdirkan untuk tetap diselimuti kekhusyukan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang