KOMPAS.com - Memasuki pertengahan Januari 2026, suasana menyambut Ramadan mulai terasa di berbagai lapisan masyarakat Muslim.
Pertanyaan tentang “puasa tinggal berapa hari lagi?” menjadi semakin relevan, terutama bagi mereka yang ingin mempersiapkan ibadah secara matang.
Jika perhitungan dimulai dari 19 Januari 2026, maka jarak menuju awal Ramadan berada pada kisaran 30 hingga 31 hari.
Artinya, umat Islam memiliki waktu kurang dari lima pekan untuk memantapkan kesiapan spiritual, fisik, dan sosial sebelum memasuki bulan suci.
Pemerintah Indonesia bersama Nahdlatul Ulama menggunakan pendekatan rukyat dan hisab imkanur rukyat dalam penetapan awal Ramadan.
Berdasarkan kalender hisab awal, 1 Ramadan 1447 H diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.
Jika dihitung dari 19 Januari 2026, maka jarak menuju hari pertama puasa adalah sekitar 31 hari.
Meski demikian, kepastian resmi tetap menunggu hasil sidang isbat yang digelar pada akhir Syaban dengan mempertimbangkan laporan pengamatan hilal dari berbagai wilayah Indonesia.
Dalam buku Ilmu Falak Kontemporer karya Susiknan Azhari dijelaskan bahwa rukyat tidak hanya berfungsi sebagai konfirmasi astronomis, tetapi juga sebagai mekanisme syariat yang menegaskan dimensi kehati-hatian dalam penetapan waktu ibadah.
Baca juga: Bulan Puasa 2026 Berapa Hari Lagi? Hitung Mundur dan Persiapan Menyambut Ramadhan 1447 H
Muhammadiyah menetapkan awal Ramadan menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal. Berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal, 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.
Dengan titik awal perhitungan dari 19 Januari 2026, maka jarak menuju Ramadan versi Muhammadiyah adalah sekitar 30 hari.
Metode ini memberikan kepastian kalender sejak jauh hari sehingga memudahkan umat dalam menyusun agenda ibadah, pendidikan, dan kegiatan sosial.
Dalam buku Pedoman Hisab Muhammadiyah dijelaskan bahwa pendekatan hisab modern mengacu pada data astronomi yang presisi dan dapat diprediksi secara konsisten dari tahun ke tahun.
Ramadan bukan hanya momentum ritual, tetapi juga fase pembentukan karakter spiritual. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menegaskan bahwa puasa adalah sarana penyucian jiwa yang menuntut kesiapan lahir dan batin.
Ketika Ramadan datang tanpa persiapan, ibadah sering kali hanya berhenti pada aspek formal. Sebaliknya, persiapan yang dilakukan sejak jauh hari membantu seseorang memasuki Ramadan dengan kondisi mental yang stabil, niat yang lurus, dan tujuan ibadah yang jelas.
Persiapan ibadah menjadi fondasi utama dalam menyambut Ramadan. Salah satu langkah awal yang perlu diperhatikan adalah menyelesaikan utang puasa Ramadan sebelumnya.
Dalam Fiqih Islam karya Wahbah Az-Zuhaily dijelaskan bahwa qadha puasa wajib didahulukan sebelum datang Ramadan berikutnya agar kewajiban ibadah tidak tertunda.
Selain itu, membiasakan puasa sunnah di bulan Syaban menjadi bentuk adaptasi spiritual dan fisik.
Rasulullah SAW dikenal memperbanyak puasa sunnah pada bulan ini sebagai latihan sebelum Ramadan.
Meningkatkan interaksi dengan Al-Qur’an juga menjadi bagian penting dari persiapan. Ramadan dikenal sebagai bulan Al-Qur’an, sehingga membangun kebiasaan tilawah sejak Januari dapat membantu menjaga konsistensi ibadah saat memasuki bulan suci.
Persiapan ilmu pun tidak kalah penting. Memahami kembali hukum puasa, adab sahur dan berbuka, serta ketentuan zakat fitrah membantu umat menjalankan ibadah secara lebih tertib dan sesuai tuntunan syariat.
Sayyid Sabiq dalam Fiqh Sunnah menegaskan bahwa kualitas ibadah sangat dipengaruhi oleh pemahaman terhadap hukum-hukum dasar yang menyertainya.
Baca juga: Puasa Berapa Hari Lagi? Akhir Rajab, Ramadan 2026 Tinggal Sebulan
Puasa Ramadan menuntut daya tahan tubuh yang stabil. Adaptasi pola hidup sejak sebulan sebelum Ramadan menjadi langkah strategis agar tubuh tidak mengalami perubahan ekstrem.
Pengaturan pola makan dengan mengurangi konsumsi gula berlebihan, makanan instan, serta minuman berkafein dianjurkan agar metabolisme tubuh lebih seimbang.
Dalam buku Nilai Kesehatan dalam Syariat Islam karya Ahmad Syauqi Al-Fanjari disebutkan bahwa puasa yang didukung pola makan sehat mampu meningkatkan fungsi organ pencernaan dan menjaga kestabilan energi tubuh.
Aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki dan peregangan juga membantu menjaga kebugaran.
Selain itu, pemeriksaan kesehatan bagi kelompok rentan, seperti lansia dan penderita penyakit kronis, menjadi bagian penting dari persiapan Ramadan yang bertanggung jawab.
Ramadan selalu diiringi dengan peningkatan aktivitas sosial dan konsumsi rumah tangga. Karena itu, perencanaan keuangan sejak Januari menjadi langkah preventif agar pengeluaran tetap terkendali.
Dalam buku Pemikiran Ekonomi Islam karya Muhammad Syafi’i Antonio dijelaskan bahwa anggaran Ramadan sebaiknya mencakup kebutuhan pangan, zakat fitrah, infak, sedekah, serta persiapan Idul Fitri agar tidak menimbulkan tekanan ekonomi menjelang akhir bulan.
Selain aspek finansial, Ramadan juga menjadi momentum memperkuat solidaritas sosial. Program berbagi takjil, santunan dhuafa, dan kegiatan masjid dapat direncanakan lebih awal agar pelaksanaannya lebih terorganisir dan tepat sasaran.
Koordinasi keluarga pun penting dilakukan sejak dini, mulai dari pembagian peran saat sahur dan berbuka hingga perencanaan mudik Lebaran. Persiapan ini membantu menciptakan suasana Ramadan yang lebih tertib dan harmonis.
Baca juga: Hitung Mundur Ramadhan 2026: Awal Puasa Diprediksi 18 atau 19 Februari
Dengan hitung mundur yang semakin singkat, Ramadan 2026 bukan lagi sekadar agenda tahunan, melainkan momentum besar yang membutuhkan kesiapan menyeluruh.
Perbedaan penetapan tanggal antara NU, Muhammadiyah, dan pemerintah merupakan bagian dari dinamika fiqh yang telah berlangsung lama dan patut disikapi dengan sikap saling menghormati.
Yang terpenting, esensi Ramadan terletak pada kualitas persiapan dan kesungguhan menjalani ibadah.
Seperti ditegaskan dalam kitab Tarbiyah Ruhiyah karya Yusuf Al-Qaradawi, Ramadan adalah madrasah spiritual yang hanya dapat memberikan hasil maksimal bagi mereka yang datang dengan kesiapan hati, tubuh, dan niat yang matang.
Dengan sisa waktu sekitar satu bulan, inilah saat yang tepat untuk mulai menata diri, memperbaiki kebiasaan, serta memperkuat komitmen ibadah.
Ramadan tidak datang untuk dihadapi secara spontan, tetapi untuk disambut dengan perencanaan yang sadar dan penuh makna.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang