Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Alissa Wahid: Negara Punya “Utang Moral” kepada Jemaah Haji Lansia

Kompas.com, 20 Januari 2026, 13:49 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com – Direktur Jaringan Gusdurian Indonesia Alissa Wahid menegaskan bahwa negara memiliki “utang moral” untuk memberikan pelayanan optimal kepada jemaah haji lanjut usia (lansia).

Menurutnya, konsep haji ramah lansia tidak boleh berhenti pada slogan, tetapi harus diwujudkan dalam kebijakan teknis yang nyata.

Pernyataan itu disampaikan Alissa di hadapan ribuan peserta pendidikan dan pelatihan (diklat) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 1447 H/2026 M di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Selasa (20/1/2025).

Baca juga: Alissa Wahid Minta Petugas Haji 2026 Beri Pelayanan Ramah Lansia dan Perempuan

Ia menyoroti antrean haji Indonesia yang sangat panjang sehingga banyak jemaah baru memperoleh kesempatan berangkat ketika usia sudah senja.

Kondisi tersebut, kata Alissa, merupakan realitas yang harus diterima negara.

“Ketika seorang lansia baru mendapatkan giliran berangkat pada usia lanjut, maka kondisi tersebut harus diterima sebagai sebuah realitas. Pemerintahlah yang wajib menyesuaikan pelayanan, bukan justru meminggirkan para lansia,” ujarnya.

Pelayanan Harus Menyesuaikan Kebutuhan Lansia

Anggota Amirul Hajj Perempuan 2023–2024 itu menegaskan bahwa keterbatasan fisik jemaah lansia tidak boleh dijadikan alasan untuk membatasi hak mereka menunaikan ibadah haji.

“Substansinya adalah jemaah lansia tetap berangkat, namun seluruh mekanisme pelayanan disesuaikan dengan kebutuhan khusus mereka,” kata putri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid tersebut.

Menurut Alissa, pemerintah perlu menyiapkan mitigasi risiko sejak awal, terutama pada fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).

Berdasarkan pengalamannya memantau di lapangan, jemaah lansia kerap kesulitan beradaptasi dengan kepadatan di Mina sehingga harus dievakuasi lebih cepat ke hotel.

“Mekanisme mitigasi seperti ini perlu dipikirkan secara matang. Jangan sampai solusi hanya muncul saat kondisi darurat terjadi. Indikator kemampuan jemaah perlu dikaji mendalam, namun solusinya adalah pendampingan yang lebih kuat,” tuturnya.

Pendampingan Personal Jadi Kunci

Alissa juga menyoroti aspek teknis pelayanan harian yang sering luput dari perhatian, seperti bantuan personal untuk ke kamar mandi atau mengurus kebutuhan diri.

Tanpa kebijakan pendampingan yang jelas, jemaah lain kerap merasa terbebani jika harus terus membantu rekan sekamarnya yang lansia.

Ia menegaskan bahwa ketika negara telah memutuskan memberangkatkan jemaah lansia, maka tanggung jawab pelayanan harus ditunaikan secara penuh.

Baca juga: Wamenhaj Tekankan Pentingnya Alur Komando bagi Petugas Haji

“Negara sudah memutuskan untuk melayani mereka, maka tanggung jawab tersebut harus ditunaikan dengan pelayanan optimal. Petugas haji adalah ujung tombak untuk membayar ‘utang’ pelayanan tersebut demi menekan risiko kesehatan dan angka kematian jemaah lansia,” ujar Alissa.

Dorongan Alissa ini menjadi pengingat penting menjelang penyelenggaraan haji 2026, bahwa keberhasilan ibadah haji tidak hanya diukur dari kelancaran administrasi, tetapi juga dari sejauh mana negara memuliakan para tamu Allah yang telah menunggu puluhan tahun—terutama mereka yang telah memasuki usia senja.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com