Editor
KOMPAS.com — Kunjungan Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming ke Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Selasa (20/1/2026), meninggalkan jejak mendalam.
Bukan hanya karena agenda penguatan literasi teknologi bagi santri, tetapi juga karena rangkaian sikap santun dan penuh adab yang dirasakan langsung para kiai dan keluarga besar pesantren.
Sejak tiba di halaman depan pesantren, Wapres Gibran disambut pimpinan dan para sepuh Cipasung, di antaranya KH Ubed Ubaidillah dan KH Acep Adang. Tanpa berlama-lama, ia langsung menuju rumah kediaman almarhum sesepuh Pesantren Cipasung, Abah KH Koko Komarudin Ruhiyat, sebagai bentuk tabarukan, takziyah, sekaligus napak tilas.
Baca juga: Gibran ke Pesantren Cipasung Besok, Bawa Misi Santri Melek AI dan Robotik
Menurut KH Deni Sagara, Khodimul Majelis Dzikir Ponpes Cipasung, langkah pertama itu mencerminkan penghormatan mendalam Wapres kepada ulama.
“Mas Wapres langsung ke kediaman Abah sesepuh. Di dalam rumah, beliau diterima oleh seluruh keluarga besar Cipasung dengan penuh kehangatan dan suasana kekeluargaan,” ujar pria yang akrab disapa Gus Deni ini, kepada Kompas.com, Rabu (21/1/2026).
Di kediaman tersebut, Gibran juga memasuki ruang khusus yang memiliki nilai sejarah tersendiri. Ruangan itu merupakan tempat Presiden Prabowo Subianto pernah menuliskan pesan amanat dari almarhum Abah KH Koko Komarudin Ruhiyat, salah satu pengasuh Ponpes Cipasung orangtua Gus Deni, yang kala itu menekankan agar negara memberi perhatian lebih kepada pesantren.
“Mas Wapres melihat langsung ruang khusus itu. Beliau menyampaikan kesannya tentang foto Presiden Prabowo yang sedang mencatat pesan Abah sesepuh. Dan sekarang, pesan itu sudah mulai terwujud dengan dibentuknya Direktorat Jenderal Pesantren,” tutur Gus Deni.
Bagi keluarga besar Cipasung, momen tersebut menjadi pengikat sejarah: jejak silaturahmi Presiden ke-7 Joko Widodo, napak tilas Presiden Prabowo Subianto, dan kini dilanjutkan oleh Wapres Gibran yang merupakan putra Joko Widodo.
Usai dari kediaman sesepuh, Wapres Gibran melanjutkan agenda menuju Gedung Pusat Media dan Teknologi Pesantren Cipasung. Di sana, ia meninjau langsung pelatihan AI dan robotik yang tengah diikuti ratusan santri.
Dengan telaten, Gibran berdialog, menyapa, dan menyaksikan presentasi karya santri. Ia mengaku takjub karena dalam waktu singkat para santri sudah mampu menampilkan hasil inovasi berbasis kecerdasan buatan dan robotik.
“Beliau berpesan bahwa pesantren adalah pusat ilmu dan akhlak, tetapi santri juga harus siap beradaptasi dengan perkembangan zaman dan teknologi,” kata Gus Deni.
Saat keluar dari Gedung Pusat Media dan Teknologi Ponpes Cipasung, hujan turun cukup deras. Ajudan telah menyiapkan payung hitam. Namun, momen inilah yang kemudian banyak diceritakan.
“Mas Wapres langsung memegang payungnya sendiri. Saya sempat menawarkan agar saya saja yang membawa payung, tapi beliau menolak dengan halus,” tutur Gus Deni.
“Tak usah, Pak Kiai. Saya yang bersyukur dan berterima kasih sudah diterima dengan baik di sini,” kata Gus Deni menirukan jawaban Gibran kala itu.
Dengan payung hitam di tangannya, Wapres Gibran berjalan menuju Aula Dome Pesantren Cipasung, tetap memayungi kiai muda yang mendampinginya. Gestur sederhana itu dinilai para kiai sebagai cermin takdzim dan akhlakul karimah.
“Di pesantren kami diajarkan al-adab fauqol ilmi, adab di atas ilmu. Apa yang ditunjukkan Mas Wapres itu nyata,” kata Gus Deni.
Di Aula Dome, Wapres Gibran menyampaikan kesannya kembali, termasuk saat melihat foto Presiden Prabowo menuliskan amanat Abah sesepuh. Ia menyebut pesan itu relevan dengan upaya negara saat ini untuk memperkuat peran pesantren, termasuk dalam pendidikan dan teknologi.
Setelah acara, Wapres melanjutkan agenda ziarah ke makam pendiri Pesantren Cipasung, Abah KH Ruhiyat, dilanjutkan shalat Ashar, lalu berpamitan ke rumah pimpinan pesantren KH Ubaidilah.
Baca juga: Transformasi Ponpes Cipasung Jelang 1 Abad: “Kampung Pangan” dan Santripreuneur
Rangkaian silaturahmi ditutup dengan pamitan hangat. Dari Cipasung, Wapres Gibran langsung menuju Bandara Wiriadinata, Tasikmalaya, untuk terbang kembali ke Jakarta.
Bagi keluarga besar Pesantren Cipasung, kunjungan ini bukan sekadar agenda kenegaraan. Dari tabarukan ke rumah sesepuh, dialog dengan santri, hingga payung hitam di bawah hujan, semuanya menjadi isyaroh (isyarat) —bahwa kepemimpinan, teknologi, dan jabatan sejatinya harus berjalan seiring dengan adab, kesantunan, dan penghormatan kepada ulama.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang