KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem untuk periode 21–23 Januari 2026.
Sejumlah wilayah diprediksi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat, disertai angin kencang dan potensi petir.
Fenomena ini bukan hanya persoalan teknis kebencanaan, tetapi juga momentum refleksi spiritual bagi umat Muslim agar lebih waspada, berdoa, dan mempersiapkan diri secara lahir dan batin.
Dalam perspektif Islam, perubahan cuaca dipahami sebagai bagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah SWT.
Karena itu, menghadapi hujan deras dan angin kencang tidak cukup hanya dengan kesiapan fisik, tetapi juga dengan keteladanan Rasulullah SAW yang mengajarkan adab, doa, dan sikap tawakal.
BMKG menjelaskan bahwa curah hujan tinggi dalam waktu singkat dapat memicu banjir, tanah longsor, genangan di kawasan perkotaan, hingga gangguan aktivitas transportasi.
Angin kencang berpotensi merobohkan pohon, merusak atap rumah, serta mengganggu jaringan listrik.
Menurut buku Meteorologi Terapan karya Tjasyono B. Hadi, cuaca ekstrem merupakan kondisi atmosfer yang berada di luar pola normal dan berpotensi menimbulkan risiko keselamatan manusia.
Karena itu, peringatan dini dari BMKG menjadi instrumen penting agar masyarakat dapat melakukan mitigasi sejak dini.
Baca juga: Cuaca Jakarta Hari Ini: Waspada Hujan dan Petir, Ini Doa untuk Perlindungan
Dalam sejumlah riwayat, Rasulullah SAW menunjukkan sikap penuh kehati-hatian sekaligus spiritualitas tinggi ketika menghadapi fenomena alam.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW pernah menyingkap pakaiannya agar terkena air hujan.
Ketika ditanya alasannya, beliau menjawab bahwa hujan merupakan rahmat yang baru saja diciptakan oleh Allah SWT.
Imam al-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa tindakan ini mengandung makna tabarruk (mengharap keberkahan) karena hujan adalah bentuk rahmat Allah yang turun ke bumi.
Dalam riwayat Sayyidah Aisyah RA, Rasulullah SAW membaca doa ketika melihat awan mendung tebal:
Allahumma innî a‘ûdzu bika min syarrihâ
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keburukan awan ini.”
Allahumma shayyiban nâfi‘an
Artinya: “Ya Allah, turunkanlah hujan yang membawa manfaat.”
Doa ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan antara optimisme terhadap rahmat Allah dan kewaspadaan terhadap potensi bahaya.
Rasulullah SAW juga bersabda bahwa angin merupakan bagian dari rahmat Allah yang bisa membawa kebaikan maupun bencana.
Karena itu, umat Islam dianjurkan tidak mencela angin, melainkan memohon kebaikannya dan berlindung dari keburukannya.
Baca juga: Doa Pereda Hujan Deras dan Doa Agar Hujan Turun dalam Islam, Lengkap dengan Artinya
Al-Qur’an menjelaskan bahwa hujan adalah bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 22 disebutkan:
Wa anzala minas-samâ’i mâ’an fa akhraja bihî minats-tsamarâti rizqan lakum
Artinya: “Dan Dia menurunkan air dari langit, lalu dengan air itu Dia menghasilkan berbagai buah-buahan sebagai rezeki untukmu.”
Ayat ini menegaskan bahwa hujan pada dasarnya adalah rahmat, meskipun dalam kondisi tertentu dapat berubah menjadi ujian bagi manusia.
Selain memperkuat doa dan spiritualitas, masyarakat juga perlu melakukan langkah-langkah praktis agar dampak cuaca ekstrem dapat diminimalkan.
Salah satu langkah penting adalah menyimpan nomor darurat di ponsel atau mencatatnya di tempat mudah terlihat.
Nomor yang perlu disiapkan antara lain pemadam kebakaran, kepolisian, layanan kesehatan, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Kecepatan menghubungi pihak terkait sering kali menentukan keselamatan.
Payung, jas hujan, sepatu anti-air, dan senter menjadi perlengkapan dasar yang sebaiknya selalu tersedia, terutama bagi masyarakat yang memiliki mobilitas tinggi. Persiapan sederhana ini dapat mencegah risiko sakit dan kecelakaan.
Saat hujan lebat dan angin kencang, keluar rumah sebaiknya dilakukan hanya untuk keperluan mendesak.
Menghindari berteduh di bawah pohon besar atau baliho juga penting untuk mengurangi risiko tertimpa benda tumbang.
Baca juga: Doa Ketika Angin Kencang Datang agar Terhindar dari Bahaya
Membersihkan saluran air, memastikan atap rumah terpasang kuat, serta memangkas dahan pohon yang rapuh menjadi langkah preventif yang efektif.
Menurut buku Manajemen Bencana karya Eko Teguh Paripurno, mitigasi berbasis rumah tangga merupakan kunci mengurangi dampak bencana hidrometeorologi.
Dokumen penting seperti KTP, kartu keluarga, dan ijazah sebaiknya disimpan di tempat kedap air atau diletakkan di posisi lebih tinggi. Langkah ini sering diabaikan, padahal sangat krusial saat terjadi banjir.
Peringatan cuaca ekstrem dari BMKG seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai informasi teknis, tetapi juga sebagai pengingat agar manusia lebih sadar akan keterbatasannya.
Dalam Islam, ikhtiar dan doa berjalan beriringan. Rasulullah SAW mengajarkan untuk mempersiapkan diri sekaligus menggantungkan harapan hanya kepada Allah SWT.
Dengan kesiapsiagaan yang matang, baik secara spiritual maupun praktis, masyarakat diharapkan mampu menghadapi hujan lebat dan angin kencang dengan lebih tenang.
Cuaca ekstrem memang tidak bisa dihindari, tetapi dampaknya bisa diminimalkan jika manusia mau belajar, bersiap, dan kembali kepada nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW.
Pada akhirnya, hujan yang turun dari langit bukan sekadar fenomena alam. Ia adalah pesan agar manusia tidak lengah, selalu waspada, dan tetap menjaga hubungan dengan Sang Pencipta di tengah perubahan cuaca yang semakin tak menentu.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang