Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Inilah Cara Rasulullah Menghidupkan Ramadhan dengan Akhlak Mulia

Kompas.com, 27 Januari 2026, 08:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Bulan Ramadhan tidak hanya dikenal sebagai bulan puasa, tetapi juga sebagai momentum pembinaan akhlak.

Dalam tradisi Islam, Ramadhan adalah madrasah spiritual yang membentuk karakter seorang Muslim agar semakin dekat dengan nilai-nilai kenabian.

Rasulullah SAW menjadikan bulan ini sebagai puncak intensitas ibadah dan penyempurnaan akhlak, terutama dalam hal kedermawanan, empati sosial, serta kedekatan dengan Alquran.

Baca juga: Kapan Puasa 2026 Tiba? Jadwal Lengkap Ramadhan hingga Idul Adha

Keistimewaan Ramadhan tidak lepas dari firman Allah SWT dalam Alquran:

Syahru Ramaḍānal-lażī unzila fīhil-Qur’ān hudal lin-nāsi wa bayyinātim minal-hudā wal-furqān

Artinya: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang benar dan yang batil)” (QS. Al-Baqarah: 185).

Ayat ini menegaskan bahwa Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan waktu terbaik untuk membangun kepribadian Qur’ani dengan meneladani Rasulullah sebagai figur utama pembawa risalah.

Ramadhan dan Intensitas Ibadah Rasulullah

Sejarah mencatat bahwa Rasulullah SAW memperbanyak ibadah ketika Ramadhan tiba. Dalam riwayat Aisyah RA disebutkan bahwa Nabi semakin menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan shalat, dzikir, dan munajat.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Lathaiful Ma’arif menjelaskan bahwa Rasulullah menjadikan Ramadhan sebagai bulan penguatan ruhani, dengan memaksimalkan interaksi dengan Alquran dan memperbanyak amal kebajikan.

Di antara ibadah yang paling menonjol adalah kedermawanan. Hadis shahih yang diriwayatkan Ibnu Abbas menyebutkan bahwa Rasulullah adalah manusia paling dermawan, dan tingkat kedermawanan beliau meningkat drastis di bulan Ramadhan.

Baca juga: Kapan Puasa 2026? Yuk Kenali Ramadhan, Bulan Penuh Ampunan

Kedermawanan Nabi: Lebih Cepat dari Angin yang Berhembus

Dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Rasulullah SAW menjadi lebih dermawan daripada angin yang berhembus ketika bertemu Jibril di bulan Ramadhan.

Ulama besar Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menafsirkan perumpamaan ini sebagai simbol kecepatan, keluasan, dan pemerataan manfaat.

Menurut beliau, kebaikan Nabi menjangkau seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang status sosial.

Orang miskin mendapatkan bantuan, orang kaya mendapatkan keteladanan, dan masyarakat luas merasakan dampak sosial dari sikap empatik Rasulullah.

Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menambahkan bahwa hadis ini menjadi dalil dianjurkannya memperbanyak sedekah di bulan Ramadhan, serta mengaitkan kedermawanan dengan pengaruh positif pergaulan bersama orang saleh dan interaksi dengan Alquran.

Baca juga: Saudi Antisipasi Padatnya Umrah Ramadhan dengan Smart Crowd

Akhlak Sosial: Ramadhan sebagai Bulan Kepedulian

Rasulullah tidak hanya memberi dalam bentuk materi, tetapi juga dalam bentuk perhatian, doa, dan dukungan moral.

Sayyid Abdullah al-Ghumari dalam Ghayatul Ihsan fi Fadhli Ramadhan menjelaskan bahwa meningkatnya kedermawanan Nabi dipengaruhi oleh kesadaran bahwa Ramadhan adalah musim rahmat, musim berbagi, dan waktu terbaik untuk menolong sesama.

Ia menegaskan bahwa membantu orang yang berpuasa, memberi makan untuk berbuka, dan meringankan beban sosial umat memiliki nilai pahala yang berlipat. Prinsip ini sejalan dengan sabda Nabi:

“Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tersebut.” (HR. Tirmidzi).

Di sinilah Ramadhan menjadi ruang praksis akhlak sosial, bukan sekadar ritual individual.

Baca juga: Puasa Tanggal Berapa 2026? Ini Perkiraan 1 Ramadhan dan Lebaran Versi Pemerintah & Muhammadiyah

Keterkaitan Akhlak dan Alquran

Kedermawanan Rasulullah di bulan Ramadhan tidak dapat dipisahkan dari kedekatan beliau dengan Alquran.

Setiap malam, Jibril menemui Nabi untuk murajaah Alquran. Hal ini menunjukkan bahwa semakin kuat hubungan seseorang dengan wahyu, semakin tinggi pula kualitas akhlaknya.

Aisyah RA pernah ditanya tentang akhlak Rasulullah, lalu ia menjawab singkat namun mendalam:

“Akhlak beliau adalah Alquran.” (HR. Muslim).

Pernyataan ini menegaskan bahwa seluruh perilaku Nabi merupakan refleksi langsung dari nilai-nilai Qur’ani, seperti kejujuran, kesabaran, kasih sayang, dan kepedulian sosial.

Relevansi Teladan Rasulullah di Era Modern

Dalam konteks masyarakat modern yang cenderung individualistis, teladan Rasulullah di bulan Ramadhan menjadi sangat relevan.

Semangat berbagi, kepekaan terhadap penderitaan sosial, dan keseimbangan antara ibadah ritual serta tanggung jawab kemanusiaan perlu dihidupkan kembali.

Ramadhan seharusnya tidak berhenti pada rutinitas berbuka bersama dan aktivitas simbolik, tetapi menjadi momentum transformasi akhlak.

Ulama kontemporer seperti Yusuf al-Qaradawi dalam Fiqh ash-Shiyam menekankan bahwa puasa yang ideal adalah puasa yang melahirkan kepedulian sosial dan pengendalian diri, bukan sekadar menahan makan dan minum.

Baca juga: Bukan Sekadar Puasa, Ini 3 Peristiwa Besar di Bulan Ramadhan

Menjadikan Ramadhan sebagai Titik Balik Akhlak

Meneladani Rasulullah di bulan Ramadhan berarti menjadikan bulan ini sebagai titik balik perubahan karakter.

Dari pelit menjadi dermawan, dari lalai menjadi peduli, dari egois menjadi empatik. Jika Ramadhan berlalu tanpa perubahan akhlak, maka esensi pendidikan spiritual bulan ini belum sepenuhnya tercapai.

Sebagaimana tujuan utama puasa yang ditegaskan Alquran:

La‘allakum tattaqūn

Artinya: “Agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 183).

Takwa inilah yang tercermin dalam perilaku sehari-hari, termasuk dalam cara berbagi, berinteraksi, dan memperlakukan sesama manusia.

Meneladani Rasulullah di bulan Ramadhan bukan hanya soal memperbanyak ibadah sunnah, tetapi tentang membangun karakter mulia yang berkelanjutan.

Dari Ramadhan ke Ramadhan berikutnya, semangat kedermawanan, kepedulian, dan ketulusan seharusnya terus hidup dalam diri umat Islam.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



Terkini Lainnya
Berapa Hari Lagi Puasa 2026? Jangan Salah Bayar Fidyah
Berapa Hari Lagi Puasa 2026? Jangan Salah Bayar Fidyah
Aktual
Berapa Hari Lagi Puasa 2026, Simak Jalan Menuju Takwa di Bulan Suci
Berapa Hari Lagi Puasa 2026, Simak Jalan Menuju Takwa di Bulan Suci
Aktual
Puasa Ramadhan, Kenali Hal yang Membuat Makruh agar Pahala Tak Hilang
Puasa Ramadhan, Kenali Hal yang Membuat Makruh agar Pahala Tak Hilang
Aktual
Puasa Ramadhan: Tidur Setelah Sahur, Bolehkah atau Makruh?
Puasa Ramadhan: Tidur Setelah Sahur, Bolehkah atau Makruh?
Aktual
MBG Tetap Jalan Saat Ramadhan, Ini Menu Tahan Lama yang Disiapkan
MBG Tetap Jalan Saat Ramadhan, Ini Menu Tahan Lama yang Disiapkan
Aktual
Puasa 2026 Berapa Hari Lagi? Ini Perkiraan Awal Ramadhan 1447 H
Puasa 2026 Berapa Hari Lagi? Ini Perkiraan Awal Ramadhan 1447 H
Aktual
170.000 Jemaah Haji Indonesia Risiko Tinggi, Sebagian Penyakit Komorbid
170.000 Jemaah Haji Indonesia Risiko Tinggi, Sebagian Penyakit Komorbid
Aktual
Tarhib Ramadhan: Menyambut Bulan Suci dengan Hati yang Bersih dan Jiwa yang Siap
Tarhib Ramadhan: Menyambut Bulan Suci dengan Hati yang Bersih dan Jiwa yang Siap
Doa dan Niat
Niat Puasa Mengganti Puasa Ramadhan karena Haid: Bacaan Arab, Arti, dan Ketentuannya Menurut Fikih
Niat Puasa Mengganti Puasa Ramadhan karena Haid: Bacaan Arab, Arti, dan Ketentuannya Menurut Fikih
Doa dan Niat
Ramadhan 2026 Berapa Hari Lagi? Ini Hitung Mundur Puasa Versi Pemerintah dan Muhammadiyah
Ramadhan 2026 Berapa Hari Lagi? Ini Hitung Mundur Puasa Versi Pemerintah dan Muhammadiyah
Aktual
Inilah Cara Rasulullah Menghidupkan Ramadhan dengan Akhlak Mulia
Inilah Cara Rasulullah Menghidupkan Ramadhan dengan Akhlak Mulia
Aktual
Kemenhaj Dorong Beras Lokal untuk Konsumsi Haji 2026, Kurangi Ketergantungan Impor
Kemenhaj Dorong Beras Lokal untuk Konsumsi Haji 2026, Kurangi Ketergantungan Impor
Aktual
Wamenhaj Minta Fatwa MUI: Haji Ilegal dan Haji dari Uang Korupsi Dinyatakan Haram
Wamenhaj Minta Fatwa MUI: Haji Ilegal dan Haji dari Uang Korupsi Dinyatakan Haram
Aktual
Nisfu Syaban Kapan? Ini Tanda Malam Penuh Rahmat Allah
Nisfu Syaban Kapan? Ini Tanda Malam Penuh Rahmat Allah
Aktual
Tanda Puasa Ramadhan Diterima Allah, Cek dari Amal Ini
Tanda Puasa Ramadhan Diterima Allah, Cek dari Amal Ini
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com