KOMPAS.com - Malam Nisfu Sya’ban menempati posisi istimewa dalam kalender spiritual umat Islam.
Malam pertengahan bulan Sya’ban ini diyakini sebagai salah satu momentum turunnya rahmat, pengampunan, dan perhatian khusus Allah kepada hamba-Nya.
Tidak heran jika para ulama klasik hingga kontemporer mendorong umat Islam untuk menghidupkan malam ini dengan ibadah.
Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki dalam kitab Ma Dza fi Sya’ban menjelaskan bahwa malam Nisfu Sya’ban bukan sekadar tradisi keagamaan, melainkan bagian dari warisan amaliyah ulama yang berakar pada nilai spiritual Islam.
Di malam ini, manusia diajak untuk menata ulang relasi dengan Allah sekaligus membersihkan hati menjelang Ramadhan.
Baca juga: Mengapa Nisfu Syaban Baca Yasin 3 Kali? Ini Penjelasannya
Sejumlah hadis menjelaskan bahwa Allah memberikan perhatian khusus pada malam Nisfu Sya’ban.
Dalam riwayat Ibnu Majah disebutkan bahwa Allah mengampuni makhluk-Nya pada malam tersebut, kecuali orang yang masih menyimpan permusuhan dan kesyirikan.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menyebut Nisfu Sya’ban sebagai salah satu malam utama setelah Lailatul Qadar dan dua malam Id.
Menurutnya, malam ini adalah momentum evaluasi diri sebelum memasuki bulan Ramadhan yang sarat dengan latihan spiritual.
Keistimewaan ini juga selaras dengan firman Allah:
يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ
Yamḥullāhu mā yashā’u wa yutsbitu wa ‘indahū ummul-kitāb.
Artinya: “Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki. Dan di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuzh).” (QS. Ar-Ra’d: 39)
Ayat ini sering dikaitkan para ulama dengan malam-malam istimewa, termasuk Nisfu Sya’ban, sebagai simbol terbukanya pintu takdir, ampunan, dan perubahan nasib melalui doa dan taubat.
Baca juga: Keutamaan Doa Nabi Yunus di Malam Nisfu Syaban, Ini Rahasianya
Salah satu amalan yang populer di kalangan umat Islam Indonesia adalah membaca Surah Yasin sebanyak tiga kali. Praktik ini dijelaskan oleh Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki dalam Ma Dza fi Sya’ban.
Bacaan pertama diniatkan untuk memohon panjang umur dalam ketaatan. Ulama menjelaskan bahwa umur panjang bukan diukur dari jumlah tahun, melainkan keberkahan amal yang terus mengalir.
Bacaan kedua diniatkan untuk memohon keselamatan dari bala dan musibah. Dalam perspektif tasawuf, doa ini menjadi bentuk tawakal agar Allah menjaga hamba dari bencana lahir maupun batin.
Bacaan ketiga diniatkan agar hati tidak bergantung kepada manusia. Ketergantungan kepada makhluk sering menimbulkan kekecewaan, sementara bersandar kepada Allah menghadirkan ketenangan spiritual yang lebih kokoh.
Syaikh Abdul Hamid dalam kitab Kanzun Najah wa Surur menegaskan bahwa salah satu amalan utama pada malam Nisfu Sya’ban adalah shalat tasbih. Shalat ini diajarkan langsung oleh Rasulullah SAW kepada pamannya, Sayyidina Abbas.
Shalat tasbih terdiri dari empat rakaat dengan bacaan tasbih sebanyak 300 kali. Tujuannya bukan sekadar memperbanyak dzikir, tetapi melatih kesadaran ruhani agar hati selalu terhubung dengan Allah.
Dalam tradisi fiqih, shalat ini dapat dilakukan dengan satu salam atau dua salam, dan dianjurkan bagi mereka yang ingin memaksimalkan malam Nisfu Sya’ban sebagai momentum pembersihan dosa.
Baca juga: Nisfu Syaban Kapan? Ini Waktu dan Keutamaan Doa Usai Baca Yasin
Doa Nisfu Sya’ban yang diriwayatkan dalam Kanzun Najah wa Surur dan Ma Dza fi Sya’ban menjadi bagian penting dari amalan malam ini.
Doa tersebut berisi permohonan agar Allah menghapus catatan buruk, menggantinya dengan kebahagiaan, kelapangan rezeki, dan taufik dalam kebaikan.
Para ulama menekankan bahwa membaca doa ini bukan sekadar ritual lisan, melainkan harus disertai kesadaran batin dan niat untuk berubah menjadi pribadi yang lebih taat.
Imam Nawawi dalam Al-Adzkar menjelaskan bahwa malam-malam utama dianjurkan diisi dengan istighfar dan shalawat.
Nisfu Sya’ban menjadi momentum yang tepat untuk memperbanyak permohonan ampun, mengingat Ramadhan semakin dekat.
Shalawat juga menjadi jembatan spiritual yang memperkuat hubungan umat dengan Rasulullah SAW.
Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa shalawat membuka pintu rahmat dan mempercepat terkabulnya doa.
Selain menghidupkan malamnya, sebagian ulama juga menganjurkan puasa pada siang hari tanggal 15 Sya’ban.
Dalam kitab Subulus Salam karya Imam Ash-Shan’ani dijelaskan bahwa puasa sunnah di bulan Sya’ban merupakan latihan spiritual sebelum Ramadhan.
Puasa ini membantu membersihkan jiwa, menyiapkan fisik, sekaligus membiasakan diri dengan ritme ibadah Ramadhan yang intens.
Baca juga: Nisfu Syaban Kapan 2026? Cek Jadwal Lengkap dan Hitungannya
Malam Nisfu Sya’ban sejatinya bukan tujuan akhir, melainkan pintu pembuka menuju Ramadhan.
Ulama menilai bahwa siapa pun yang mampu menghidupkan malam ini dengan ibadah, akan lebih siap secara mental dan spiritual menghadapi bulan suci.
Dalam perspektif dakwah modern, Nisfu Sya’ban dapat dimaknai sebagai ruang refleksi: sudah sejauh mana hubungan kita dengan Allah, seberapa serius kita memperbaiki akhlak, dan sejauh mana kesiapan menyambut Ramadhan sebagai bulan perubahan.
Malam ini tidak hanya mengajarkan ritual, tetapi juga membangun kesadaran bahwa setiap hamba diberi kesempatan memperbaiki takdirnya melalui doa, taubat, dan amal saleh.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang