KOMPAS.com - Puasa Ramadhan selalu menjadi momentum yang paling dinanti umat Islam. Selain persiapan spiritual, pertanyaan tentang “puasa tinggal berapa hari lagi?” kerap muncul menjelang akhir bulan Syaban.
Di Indonesia, perhitungan awal puasa tidak hanya mengacu pada satu metode, karena terdapat perbedaan pendekatan antara Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), dan pemerintah.
Perbedaan ini membuat hitung mundur menuju 1 Ramadhan menjadi semakin menarik untuk dicermati.
Puasa Ramadhan merupakan ibadah wajib yang ditetapkan langsung oleh Allah SWT. Landasan utamanya terdapat dalam Surah Al-Baqarah ayat 183:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Yā ayyuhal-lażīna āmanū kutiba ‘alaikumuṣ-ṣiyāmu kamā kutiba ‘alal-lażīna min qablikum la‘allakum tattaqūn.
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
Menurut Tafsir Kementerian Agama RI, ayat ini menunjukkan bahwa puasa memiliki tujuan utama membentuk ketakwaan melalui latihan pengendalian diri, kesabaran, dan ketaatan.
Sementara itu, dalam buku Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa puasa Ramadhan menjadi rukun Islam yang memiliki dimensi spiritual, sosial, dan moral sekaligus.
Baca juga: Puasa Kurang Berapa Hari Lagi? Hitung Mundur Puasa Ramadhan 2026
Berdasarkan kalender Hijriah yang banyak dijadikan acuan, awal Ramadhan 1447 H diperkirakan jatuh pada pertengahan Februari 2026. Perbedaan metode penetapan membuat tanggal awal puasa tidak sepenuhnya seragam.
Jika merujuk pada posisi hari ini, Rabu, 4 Februari 2026, maka hitung mundur menuju awal puasa dapat dirinci sebagai berikut.
Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Penetapan ini menggunakan metode hisab hakiki dengan acuan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Metode ini menitikberatkan pada perhitungan astronomis tanpa menunggu hasil rukyat hilal.
Dengan demikian, dari tanggal 4 Februari 2026 menuju 18 Februari 2026, waktu yang tersisa adalah sekitar 14 hari.
Artinya, warga Muhammadiyah secara teori akan memulai puasa lebih awal satu hari dibanding sebagian besar umat Islam lainnya di Indonesia.
Dalam buku Ensiklopedi Hisab dan Rukyat karya Susiknan Azhari, dijelaskan bahwa pendekatan hisab dianggap memberikan kepastian waktu ibadah dan konsistensi kalender Islam global.
Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Agama belum menetapkan secara resmi awal Ramadhan 2026 karena masih menunggu hasil sidang isbat.
Namun, berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia terbitan Ditjen Bimas Islam Kemenag RI, 1 Ramadhan 1447 H diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.
Jika prediksi ini yang digunakan, maka puasa diperkirakan tinggal sekitar 15 hari lagi sejak 4 Februari 2026.
Keputusan final tetap akan diumumkan melalui sidang isbat yang biasanya digelar pada tanggal 29 Syaban.
Dalam buku Ilmu Falak Praktis karya Ahmad Izzuddin dijelaskan bahwa sidang isbat mengombinasikan data hisab astronomi dan hasil rukyat lapangan sebagai bentuk kehati-hatian dalam penetapan awal bulan Hijriah.
Baca juga: Niat Puasa Qadha Ramadhan Lengkap dengan Tata Cara dan Waktu
Nahdlatul Ulama (NU) belum mengumumkan tanggal resmi awal Ramadhan 2026 karena menunggu hasil pemantauan hilal di berbagai titik rukyat di Indonesia.
Meski demikian, berdasarkan Almanak NU dan perhitungan imkan rukyat, awal Ramadhan diperkirakan juga jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.
Jika mengacu pada perkiraan ini, maka umat Islam yang mengikuti metode NU juga diprediksi akan memulai puasa dalam waktu sekitar 15 hari lagi.
Dalam kitab Irsyadul ‘Ibad karya Syekh Zainuddin Al-Malibari, rukyat diposisikan sebagai metode utama yang memiliki dasar kuat dalam praktik Nabi Muhammad SAW, sebagaimana hadis: “Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya.”
Perbedaan awal puasa bukanlah hal baru di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh perbedaan metode penetapan awal bulan Hijriah.
Muhammadiyah menggunakan pendekatan hisab murni yang berbasis perhitungan astronomi. NU mengedepankan rukyat dengan mempertimbangkan kriteria imkan rukyat.
Sementara pemerintah berada di posisi tengah dengan mengombinasikan data hisab dan hasil rukyat dalam forum sidang isbat.
Dalam buku Studi Ilmu Falak karya Thomas Djamaluddin dijelaskan bahwa perbedaan ini merupakan konsekuensi dari perbedaan paradigma keilmuan dan pendekatan fiqih yang sama-sama memiliki dasar dalil.
Baca juga: Awal Puasa 2026, Ini Hikmah Puasa Ramadhan Menurut Alquran
Hitung mundur menuju Ramadhan sejatinya bukan hanya soal tanggal, tetapi juga tentang kesiapan spiritual.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menegaskan bahwa Ramadhan adalah momentum penyucian jiwa, bukan sekadar rutinitas menahan lapar dan dahaga.
Karena itu, sisa hari menjelang Ramadhan sebaiknya dimanfaatkan untuk memperbaiki niat, melatih puasa sunnah, memperbanyak doa, serta memperkuat komitmen ibadah.
Jika mengacu pada prediksi saat ini, puasa Ramadhan 1447 H tinggal sekitar dua pekan lagi. Versi Muhammadiyah memperkirakan 14 hari lagi, sementara versi pemerintah dan NU sekitar 15 hari lagi.
Perbedaan ini menunjukkan dinamika penetapan kalender Islam di Indonesia yang tetap berada dalam koridor ilmiah dan syariat.
Apa pun hasil akhirnya, Ramadhan tetap datang membawa pesan yang sama: panggilan untuk memperbaiki diri, memperkuat iman, dan menata ulang hubungan manusia dengan Allah SWT serta sesama.
Kini, hitung mundur bukan sekadar angka, melainkan undangan untuk bersiap menyambut bulan penuh keberkahan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang