KOMPAS.com – Sahur sering dipahami sekadar waktu makan sebelum fajar. Padahal, dalam tradisi Islam, sahur menyimpan dimensi spiritual yang jauh lebih dalam.
Di antara amalan yang dianjurkan adalah membaca doa setelah sahur, sebagai bentuk permohonan kekuatan sekaligus peneguhan niat sebelum menjalani puasa seharian penuh.
Momentum menjelang Subuh bukan hanya batas waktu makan, tetapi juga ruang sunyi untuk bermunajat.
Pada saat itulah doa dipanjatkan dalam suasana yang lebih hening, lebih khusyuk, dan diyakini lebih mustajab.
Baca juga: Ramadhan 1447 H: Ini Doa Mustajab Saat Sahur, Berbuka, dan Lailatul Qadar
Anjuran sahur ditegaskan dalam hadis Rasulullah SAW:
“Tasahharu fa inna fis sahuuri barakah.”
“Bersahurlah kalian, karena dalam sahur terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Keberkahan yang dimaksud bukan hanya pada aspek fisik, melainkan juga spiritual. Dalam kitab Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi dijelaskan bahwa sahur menjadi pembeda antara puasa umat Islam dan puasa umat terdahulu, sekaligus mengandung nilai ibadah karena diniatkan untuk menaati perintah Allah.
Karena itu, menutup sahur dengan doa menjadi bentuk penyempurna ibadah tersebut.
Baca juga: Selesai Sahur Jam Berapa? Ini Batas Waktu Sahur dan Penjelasan Soal Imsak yang Sering Disalahpahami
Secara khusus memang tidak terdapat satu redaksi baku tentang “doa setelah sahur”. Namun, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak doa pada waktu menjelang fajar, karena termasuk waktu mustajab.
Allah SWT berfirman dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 18:
“Wa bil-ashari hum yastaghfirun.”
“Dan pada waktu sahur mereka memohon ampun.” (QS. Adz-Dzariyat: 18)
Ayat ini menunjukkan bahwa waktu sahur identik dengan istighfar dan doa. Dalam tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa orang-orang saleh memanfaatkan akhir malam untuk memohon ampun dan bermunajat sebelum fajar menyingsing.
Salah satu doa yang bisa dibaca setelah sahur antara lain:
“Allahumma inni as’aluka ‘ilman nafi’an, wa rizqan thayyiban, wa ‘amalan mutaqabbalan.”
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang Engkau terima.”
Doa ini diriwayatkan dalam beberapa hadis dan kerap dianjurkan dibaca pada waktu pagi, termasuk setelah sahur menjelang Subuh.
Baca juga: Apakah Boleh Puasa Tanpa Sahur? Ini Jawaban Ulama dan Dalilnya
Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari dorongan hawa nafsu.
Dengan doa, seorang Muslim memohon perlindungan agar tidak tergelincir dalam perbuatan sia-sia selama berpuasa.
Dalam buku Ihya’ Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali disebutkan bahwa kekuatan rohani dalam ibadah lahir dari hati yang terus terhubung dengan Allah melalui doa dan dzikir.
Doa membantu menjaga keikhlasan. Ketika niat diperbarui melalui munajat, seseorang lebih mudah istiqomah hingga waktu berbuka tiba.
Ramadhan adalah bulan pelipatgandaan amal. Setiap doa dan dzikir yang dipanjatkan bernilai ibadah. Karena itu, menutup sahur dengan doa menjadi kesempatan meraih pahala tambahan.
Puasa bukan sekadar ritual fisik, melainkan proses peningkatan takwa. Allah SWT berfirman:
“Ya ayyuhalladzina amanu kutiba ‘alaikumus shiyam kama kutiba ‘alalladzina min qablikum la’allakum tattaqun.”
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Doa setelah sahur menjadi bagian dari proses menuju ketakwaan tersebut.
Baca juga: Jangan Salah! Ini Doa Setelah Sahur Ramadhan, Niat Puasa, dan Bacaan Lengkapnya
Para ulama sepakat bahwa sepertiga malam terakhir adalah waktu yang sangat utama untuk berdoa.
Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan bahwa Allah “turun” ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir dan mengabulkan doa hamba-Nya yang memohon.
Karena itu, waktu terbaik membaca doa setelah sahur adalah:
Khusyuk dan keikhlasan menjadi kunci agar doa lebih bermakna.
Dalam berbagai literatur klasik, disebutkan bahwa para ulama dan salafus saleh menjadikan waktu sahur sebagai saat bermunajat panjang. Mereka memperbanyak istighfar, membaca Al-Qur’an, dan berdoa sebelum Subuh.
Dalam buku Lathaif al-Ma’arif karya Ibnu Rajab Al-Hanbali dijelaskan bahwa waktu sahur termasuk momen paling agung dalam Ramadhan karena di dalamnya berkumpul ibadah makan sahur, niat puasa, dzikir, dan doa.
Tradisi ini menunjukkan bahwa doa setelah sahur bukan sekadar tambahan, melainkan bagian dari penguatan spiritual sebelum memasuki hari puasa.
Baca juga: Niat Puasa Ramadhan: Doa Sahur Rasulullah yang Jarang Diketahui
Membiasakan doa setelah sahur memerlukan disiplin. Mulailah dengan doa pendek, kemudian tambah dengan istighfar dan permohonan pribadi. Tidak ada batasan redaksi selama isinya baik dan sesuai tuntunan syariat.
Yang terpenting adalah kesadaran bahwa waktu sahur adalah kesempatan emas. Saat kebanyakan manusia masih terlelap, seorang Muslim justru bangun untuk makan, berniat, dan berdoa. Di sanalah letak keistimewaannya.
Doa setelah sahur adalah amalan sederhana yang berdampak besar. Ia menjadi benteng dari godaan, penguat niat, sekaligus pembuka keberkahan sebelum menjalani puasa.
Didukung dalil Al-Qur’an, hadis, serta penjelasan para ulama klasik, amalan ini layak untuk terus dihidupkan.
Ramadhan bukan hanya tentang menahan diri, tetapi tentang membangun kedekatan dengan Allah sejak detik pertama sebelum fajar.
Maka, setelah suapan terakhir sahur, jangan terburu-buru beranjak. Luangkan beberapa menit untuk berdoa.
Bisa jadi, dari waktu yang sunyi itu, lahir kekuatan yang menjaga puasa kita hingga terbenamnya matahari.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang