Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ide Jajanan Lebaran 2026 untuk Suguhan Tamu yang Paling Dicari

Kompas.com, 24 Februari 2026, 12:19 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Menjelang Idul Fitri, suasana rumah-rumah Muslim biasanya berubah menjadi lebih hangat.

Ruang tamu ditata rapi, aroma kue baru dipanggang tercium dari dapur, dan stoples-stoples bening berjejer di meja.

Lebaran bukan hanya tentang kemenangan setelah sebulan berpuasa di bulan Ramadan, tetapi juga tentang menyambung kembali tali silaturahmi.

Dalam tradisi Islam, memuliakan tamu memiliki kedudukan istimewa. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

Latin: Man kâna yu’minu billâhi wal-yaumil âkhir falyukrim dhaifah.

Artinya: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Baca juga: Tren Hampers Lebaran 2026: Unik, Religius, Bisa Jadi Peluang Bisnis

Hadis ini diriwayatkan oleh Muhammad dan dicatat antara lain oleh Muhammad al-Bukhari. Tradisi menyajikan jajanan Lebaran dapat dimaknai sebagai bagian dari memuliakan tamu dan mempererat ukhuwah.

Allah SWT juga berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

Latin: Innamal mu’minûna ikhwatun.

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10)

Ayat ini menegaskan bahwa kebersamaan di hari raya bukan sekadar seremoni, melainkan wujud nyata persaudaraan.

Baca juga: 7 Kue Kering Lebaran yang Tak Pernah Absen, Ternyata Punya Jejak Sejarah

Tradisi Jajanan Lebaran dalam Perspektif Budaya

Dalam buku Indonesian Heritage: Food & Drink karya Murdijati Gardjito, dijelaskan bahwa kue kering dan camilan tradisional menjadi bagian dari identitas kuliner Nusantara saat hari besar keagamaan.

Sajian seperti kastengel, lidah kucing, hingga rengginang mencerminkan pertemuan budaya lokal dan pengaruh kolonial.

Sementara dalam The Culture Map of Food in Indonesia karya Fadly Rahman, disebutkan bahwa makanan bukan hanya soal rasa, tetapi simbol status sosial, keramahan, dan kebersamaan.

Tak heran, jajanan Lebaran selalu hadir dalam ragam rasa manis, gurih, hingga asin untuk mewakili keberagaman selera keluarga Indonesia.

1. Kue Kering Klasik yang Selalu Dirindukan

Kastengel

Kue lebaran kastangel Kue lebaran kastangel

Kue berbentuk batang dengan taburan keju ini identik dengan Lebaran. Rasanya gurih-asin dengan aroma mentega yang kuat.

Kastengel cocok dijadikan suguhan utama maupun hampers premium karena tampilannya elegan.

Lidah Kucing

ilustrasi kue lidah kucing.SHUTTERSTOCK/Rizvisual ilustrasi kue lidah kucing.
Kue tipis memanjang ini dikenal sejak era kolonial. Teksturnya renyah dengan rasa manis ringan. Anak-anak biasanya menyukai kue ini karena ringan dan mudah digigit.

Baca juga: 10 Kue Kering Jadul Khas Lebaran, Dari Lidah Kucing hingga Pastel Mini

Kue Semprit

Jenis tepung yang paling cocok untuk membuat kue semprit adalah tepung protein sedang dan maizena. SHUTTERSTOCK/Rosdaniar Jenis tepung yang paling cocok untuk membuat kue semprit adalah tepung protein sedang dan maizena.
Berbentuk bunga dengan variasi rasa vanila atau cokelat. Teksturnya lembut namun tetap renyah, cocok mengisi stoples cantik di meja tamu.

Menurut teori perilaku konsumen dalam buku Marketing 4.0 karya Philip Kotler, produk yang mengandung unsur nostalgia memiliki daya tarik emosional tinggi. Kue-kue klasik Lebaran masuk dalam kategori ini karena membangkitkan memori masa kecil.

2. Camilan Tradisional yang Tak Lekang Waktu

Biji Ketapang

Siapa sangka susu kental manis bisa menjadi bahan tambahan untuk menghasilkan biji ketapang yang manis dan lezat.DOK. SHUTTERSTOCK Siapa sangka susu kental manis bisa menjadi bahan tambahan untuk menghasilkan biji ketapang yang manis dan lezat.
Camilan khas Betawi ini berbentuk kecil menyerupai biji dengan rasa manis dan tekstur renyah. Cocok disantap bersama teh hangat.

Akar Kelapa

Ilustrasi kue akar kelapa khas Betawi.DOK.SHUTTERSTOCK/RIANA AMBARSARI Ilustrasi kue akar kelapa khas Betawi.
Bentuknya memanjang menyerupai akar, dengan cita rasa gurih. Biasanya dijual dalam kemasan kiloan, cocok untuk suguhan dalam jumlah besar.

Baca juga: Kue Lebaran Khas Betawi, Warisan Rasa yang Menghangatkan Silaturahmi

Rengginang

Ilustrasi rengginang udang khas cirebon.DOK.SHUTTERSTOCK/livyah08 Ilustrasi rengginang udang khas cirebon.
Berbahan dasar nasi ketan yang dikeringkan lalu digoreng, rengginang menghadirkan rasa gurih dan tekstur garing. Selain camilan, bisa menjadi pelengkap makan berat.

Dalam buku Fiqh al-Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa tradisi atau kebiasaan baik (‘urf shahih) yang tidak bertentangan dengan syariat dapat menjadi bagian dari praktik sosial umat. Sajian camilan tradisional saat Lebaran termasuk bentuk ‘urf yang positif.

3. Kudapan Renyah Favorit Keluarga

Keciput

Ilustrasi keciput wijen warna-warni.DOK.SHUTTERSTOCK/Erna Sustiani Ilustrasi keciput wijen warna-warni.
Terbuat dari tepung ketan dan dilapisi wijen. Bentuknya kecil dan renyah dengan rasa gurih.

Kuping Gajah

Ilustrasi kuping gajah, kue kering untuk ide jualan.DOK.SHUTTERSTOCK/Maharani afifah Ilustrasi kuping gajah, kue kering untuk ide jualan.
Camilan berbentuk spiral dengan motif cokelat. Teksturnya garing dan cocok disimpan dalam wadah kedap udara agar tetap renyah.

Wafer Stik Cokelat

Jajanan lebaran yang wajib ada di meja tamuAI Jajanan lebaran yang wajib ada di meja tamu
Populer dengan sebutan “astor”, camilan ini memiliki isian cokelat manis dengan kulit wafer yang ringan. Praktis dan digemari semua usia.

Tips Memilih dan Menyimpan Jajanan Lebaran

Agar suguhan tetap berkualitas saat tamu datang:

  • Gunakan stoples kedap udara untuk menjaga kerenyahan.
  • Hindari menyimpan kue di tempat lembap.
  • Pilih bahan berkualitas dan perhatikan tanggal kedaluwarsa jika membeli di toko.
  • Kombinasikan rasa manis dan gurih agar variasi lebih menarik.

Menurut buku Ilmu Gizi Kuliner karya Sediaoetama, penyimpanan yang tepat akan menjaga kualitas tekstur dan rasa makanan kering lebih lama.

Baca juga: Tren Baju Lebaran 2026, Siluet Minimalis Kian Diminati

Makna Spiritual di Balik Suguhan Lebaran

Lebaran adalah momen berbagi kebahagiaan. Allah SWT berfirman:

لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ

Latin: Lan tanâlul birra hattâ tunfiqû mimmâ tuhibbûn.

Artinya: “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran: 92)

Menyuguhkan makanan terbaik bagi tamu adalah bagian dari memberi yang kita sukai. Nilainya bukan sekadar pada jenis kue yang tersaji, melainkan niat untuk membahagiakan sesama.

Inspirasi Suguhan Lebaran 2026: Lebih dari Sekadar Camilan

Tren jajanan Lebaran kini berkembang. Banyak keluarga mulai mengemas kue dalam konsep hampers estetik, menggabungkan kue klasik dengan camilan tradisional, bahkan menambahkan sentuhan modern seperti cookies premium atau snack sehat rendah gula.

Di balik toples-toples cantik itu, tersimpan makna yang lebih dalam: menyambung hubungan yang mungkin sempat renggang, menguatkan persaudaraan, dan menghadirkan kehangatan di ruang tamu.

Karena pada akhirnya, yang diingat tamu bukan hanya rasa kastengel atau renyahnya rengginang, melainkan suasana kebersamaan yang tercipta di hari kemenangan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com