Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gamis Bini Orang Punya Rival, Kebanggaan Mertua Diburu

Kompas.com, 24 Februari 2026, 11:07 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Menjelang bulan suci Ramadhan, suasana di Pasar Tanah Abang kembali menggeliat.

Sejak pagi buta, lorong-lorong pusat grosir terbesar di Asia Tenggara itu dipadati pembeli. Ada yang berburu stok untuk dijual kembali, ada pula yang datang demi satu tujuan sederhana, mencari busana terbaik untuk Hari Raya.

Namun Lebaran 2026 terasa sedikit berbeda. Jika tahun lalu tren didominasi gamis penuh detail dan permainan brokat mencolok, tahun ini selera publik tampak bergeser.

Selain model yang sempat viral dengan sebutan “gamis bini orang”, kini muncul pesaing kuat yang tak kalah diburu “gamis kebanggaan mertua.”

Fenomena ini bukan sekadar urusan potongan kain. Ia mencerminkan perubahan selera, dinamika media sosial, hingga cara masyarakat memaknai penampilan di hari kemenangan.

Baca juga: Desainer Sebut Tren Baju Lebaran 2026 Lebih Tenang dan Timeless, Gen Z Disebut Suka yang Simple

Dari Viral ke Visual: Lahirnya Istilah yang Melekat

Istilah “gamis bini orang” bermula dari percakapan warganet di media sosial, terutama TikTok dan Instagram.

Sebuah video OOTD yang menampilkan gaya anggun dan minimalis memicu komentar-komentar seperti, “Vibes-nya istri orang banget.”

Sejak itu, label tersebut melekat pada model gamis yang sederhana, jatuh rapi, dengan warna-warna lembut seperti sage green, mocca, dusty pink, hingga broken white.

Secara desain, model ini menonjolkan siluet yang bersih tanpa detail berlebihan. Tidak banyak payet, tidak sarat bordir, tetapi tetap memberi kesan dewasa dan elegan.

Harga yang relatif terjangkau berkisar ratusan ribu rupiah di pusat grosir membuatnya cepat habis diburu.

Namun di tengah popularitas tersebut, pedagang mulai memperkenalkan istilah baru “gamis kebanggaan mertua.”

Jika yang pertama menonjolkan kesan effortless dan feminin, model kedua lebih menekankan tampilan rapi, terstruktur, dan terlihat “proper”.

Baca juga: Tren Baju Lebaran 2026: Abaya Day to Night Jadi Pilihan Favorit, Bisa Dipakai dari Ngantor hingga Kondangan

Apa Itu Gamis “Kebanggaan Mertua”?

Secara visual, gamis kebanggaan mertua memiliki potongan yang lebih tegas. Struktur bahannya cenderung sedikit lebih tebal atau tampak premium, sehingga membentuk siluet yang kokoh dan anggun.

Warna yang digunakan tetap bermain di palet lembut cream, taupe, olive, atau pastel netral, namun keseluruhan tampilannya memberi kesan formal dan matang.

Detail kecil seperti aksen lipit di lengan, kancing tersembunyi, atau bordir tipis di bagian dada menjadi pembeda. Tidak mencolok, tetapi cukup memberi sentuhan eksklusif.

Mengapa disebut “kebanggaan mertua”? Karena model ini dinilai sesuai untuk momen silaturahmi keluarga besar.

Penampilan terlihat sopan, pantas, dan berkelas cukup untuk membuat orang tua merasa bangga melihatnya.

Pergeseran Selera: Dari Ramai ke Minimalis

Tren ini memperlihatkan kecenderungan masyarakat yang mulai meninggalkan gaya terlalu ramai.

Setelah beberapa tahun busana Lebaran dipenuhi brokat tebal, payet besar, dan warna mencolok, kini banyak konsumen memilih desain yang lebih tenang.

Perubahan ini selaras dengan konsep estetika minimalisme dalam mode. Dalam buku The End of Fashion karya Teri Agins, dijelaskan bahwa industri mode selalu bergerak dalam siklus dari berlebihan menuju kesederhanaan, lalu kembali lagi. Minimalisme sering muncul sebagai respons terhadap kejenuhan visual.

Hal serupa juga dikemukakan dalam Fashion as Communication karya Malcolm Barnard. Busana bukan hanya penutup tubuh, melainkan medium komunikasi sosial.

Pilihan warna lembut dan potongan sederhana dapat menyampaikan pesan kedewasaan, stabilitas, dan ketenangan.

Di konteks Lebaran, pesan itu menjadi relevan. Hari Raya bukan hanya ajang tampil modis, tetapi juga momentum mempererat hubungan keluarga.

Baca juga: Gamis Bini Orang Jadi Tren Lebaran 2026, Siluet Dewasa dan Minimalis

Peran Media Sosial dan Strategi Branding

Tidak bisa dimungkiri, media sosial berperan besar dalam melambungkan dua istilah ini. Satu video yang viral dapat mengubah model biasa menjadi buruan nasional dalam hitungan hari.

Pedagang di Tanah Abang pun cermat memanfaatkan momentum. Mereka memberi label unik agar mudah diingat pembeli.

Strategi ini sejalan dengan teori branding modern yang menekankan pentingnya diferensiasi nama untuk menciptakan daya tarik emosional.

Nama yang unik membuat konsumen merasa membeli sesuatu yang “lagi hype”, bukan sekadar gamis biasa. Ada sensasi menjadi bagian dari tren.

Antara Estetika dan Kenyamanan

Meski istilahnya menarik, faktor utama yang tetap menentukan pilihan adalah kenyamanan. Lebaran identik dengan aktivitas panjang dari shalat Id, silaturahmi ke beberapa rumah, hingga sesi foto keluarga.

Bahan yang adem, tidak mudah kusut, dan potongan yang memberi ruang gerak menjadi pertimbangan utama.

Dalam perspektif etika berpakaian Muslimah, busana yang sopan dan nyaman juga selaras dengan prinsip kesederhanaan yang diajarkan dalam Islam.

Karena itu, baik gamis “bini orang” maupun “kebanggaan mertua” pada dasarnya menawarkan hal serupa: tampilan anggun tanpa berlebihan.

Baca juga: Tren Baju Lebaran 2026, Siluet Minimalis Kian Diminati

Tanah Abang Tetap Jadi Barometer

Meski belanja daring semakin mudah, Pasar Tanah Abang tetap menjadi rujukan utama tren busana Lebaran.

Banyak pembeli memilih datang langsung untuk memastikan kualitas bahan dan melihat jatuh kain secara nyata.

Harga yang kompetitif juga menjadi daya tarik. Dengan anggaran ratusan ribu rupiah, pembeli sudah bisa mendapatkan gamis yang terlihat eksklusif.

Lebaran 2026: Elegan Tanpa Ribet

Tren Lebaran tahun ini memberi satu pesan sederhana: tampil cantik tidak harus rumit. Kesederhanaan justru memancarkan kesan dewasa dan berkelas.

Apakah memilih gaya yang lembut dan effortless, atau model yang lebih terstruktur dan proper, pada akhirnya busana hanyalah medium.

Yang membuatnya bersinar adalah rasa percaya diri dan kebahagiaan saat merayakan hari kemenangan.

Dan jika ingin melihat langsung bagaimana dua tren ini bersaing di pasaran, mungkin tak ada salahnya menyusuri kembali lorong-lorong Tanah Abang.

Siapa tahu, di antara deretan gantungan gamis, Anda menemukan model yang bukan hanya sedang tren, tetapi juga paling merepresentasikan diri Anda di Hari Raya nanti.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar