Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

10 Contoh Kultum Ramadhan Singkat Menyentuh Hati, Cocok untuk Tarawih dan Tadarus

Kompas.com, 25 Februari 2026, 12:49 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com - Bulan suci menjadi momen terbaik untuk berbagi nasihat. Banyak takmir masjid hingga panitia Ramadan mencari 10 contoh kultum Ramadhan singkat menyentuh hati yang mudah dipahami, ringan disampaikan, namun penuh makna.

Salah satu referensi yang bisa dijadikan rujukan adalah buku Kumpulan Kultum Ramadhan: Mutiara Nasihat Seribu Bulan terbitan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga .

Buku ini memuat puluhan materi kultum dari para akademisi dan dai dengan tema beragam, mulai dari fiqh puasa hingga refleksi sosial.

Berikut 10 contoh kultum Ramadhan singkat menyentuh hati yang bisa Anda bawakan dalam 5–7 menit.

1. Puasa dan Makna Menahan Diri

Terinspirasi dari pembahasan “Fiqh Puasa” karya Waryono Abdul Ghafur, puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan pandangan, lisan, dan hati dari dosa.

Pesan utama:

Jika kita mampu menahan diri dari yang halal (makan dan minum), maka seharusnya lebih mampu menahan diri dari yang haram.

Isi Kultum Lengkap:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, washshalatu wassalamu ‘ala Sayyidina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Pada kesempatan singkat ini, mari kita merenungkan kembali makna puasa sebagaimana dijelaskan dalam pembahasan Fiqh Puasa: Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 183–184 karya Waryono Abdul Ghafur dalam buku Kumpulan Kultum Ramadhan: Mutiara Nasihat Seribu Bulan.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 183:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah la‘allakum tattaqun — agar kita menjadi orang yang bertakwa.

Secara bahasa, kata shaum atau siyam berarti menahan diri. Bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari segala sesuatu yang tidak diridhai Allah.

Dalam penjelasan fiqh disebutkan bahwa puasa secara syar’i adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari disertai niat yang benar.

Namun para ulama menjelaskan, menahan diri itu tidak berhenti pada aspek fisik saja. Ada yang disebut imsak ‘an — menahan diri dari:

1. Pandangan yang tidak terjaga
2. Lisan yang suka berbohong dan menggunjing
3. Pendengaran dari hal-hal yang dilarang
4. Tangan dan kaki dari perbuatan zalim
5. Bahkan menahan diri dari makan berlebihan saat berbuka

Artinya, puasa adalah latihan pengendalian diri secara total.

Hadirin yang berbahagia,

Setiap hari kita diuji oleh nafsu: ingin marah, ingin membalas, ingin berkata kasar, ingin berbuat curang. Puasa hadir sebagai madrasah pengendalian diri.

Ketika kita mampu menahan lapar dan haus yang halal saja kita tinggalkan karena Allah, maka seharusnya kita lebih mampu meninggalkan yang jelas-jelas haram.

Puasa mendidik kita untuk berkata dalam hati:

“Saya bisa, karena Allah melihat saya.”

Inilah inti takwa — merasa diawasi Allah meskipun tidak ada manusia yang melihat.

Puasa juga bukan hanya ibadah individual. Dalam kandungan ayat-ayat puasa dijelaskan bahwa puasa memiliki efek sosial: menumbuhkan empati kepada fakir miskin, melatih kesabaran, serta membentuk pribadi yang disiplin dan jujur .

Ketika kita merasakan lapar, kita diingatkan bahwa di luar sana ada saudara-saudara kita yang lapar bukan karena pilihan, tetapi karena keadaan.

Maka puasa yang benar seharusnya melahirkan kepedulian, bukan sekadar ritual tahunan.

Mari kita bertanya pada diri kita:

Apakah puasa kita hanya menahan makan dan minum?
Ataukah sudah menahan amarah, ghibah, dan kesombongan?

Baca juga: Kultum Ramadhan Selasa 24 Februari: Puasa dan Panggilan Iman, Madrasah Kemanusiaan Menuju Rindu kepada Allah

Jika setelah Ramadan lisan kita lebih terjaga, hati kita lebih lembut, dan akhlak kita lebih baik, maka itulah tanda puasa kita berhasil.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Puasa adalah latihan sebulan penuh untuk menjadi manusia yang lebih kuat, lebih sabar, dan lebih bertakwa.

Semoga Ramadan ini benar-benar menjadikan kita pribadi yang mampu menahan diri dari dosa, istiqamah dalam kebaikan, dan semakin dekat kepada Allah SWT.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

2. Ibadah Berkualitas Dimulai dari Diri Sendiri

Dalam kultum “Ibda’ Binafsika” karya Andy Dermawan , ditegaskan bahwa perubahan harus dimulai dari diri sendiri.

Pesan utama:

Mulailah dari sekarang, mulai dari hal kecil, dan mulai dari diri sendiri. Ramadan adalah waktu terbaik memperbaiki diri.

Isi Kultum Lengkap:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah SWT yang masih mempertemukan kita dengan bulan suci Ramadhan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan kita semua sebagai umatnya.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Pada kesempatan ini, mari kita mengambil pelajaran dari kultum berjudul “Ingin Hasil Ramadhan Berkualitas? Ibda’ Binafsika” karya Andy Dermawan dalam buku Kumpulan Kultum Ramadhan: Mutiara Nasihat Seribu Bulan .

Dalam tulisan tersebut dijelaskan bahwa beragama itu pada dasarnya mudah, selama kita memahami ajaran Allah dan Rasul-Nya, lalu mengamalkannya dengan wajar dan ikhlas .

Pertanyaannya, mengapa banyak orang ingin berubah, tetapi sulit melakukannya?

Karena sering kali kita ingin memperbaiki orang lain sebelum memperbaiki diri sendiri.

Padahal Islam mengajarkan satu prinsip penting:
Ibda’ binafsika — mulailah dari dirimu sendiri.

Dalam kultum tersebut diceritakan tentang seseorang yang ingin masuk Islam tetapi masih memiliki kebiasaan buruk mencuri. Rasulullah SAW hanya meminta satu janji: jangan berbohong .

Janji sederhana itu ternyata mengubah hidupnya. Ketika hendak mencuri, ia teringat bahwa jika Nabi bertanya, ia harus jujur. Jika jujur, berarti ia mengaku mencuri. Jika berbohong, berarti ia melanggar janji.

Akhirnya, ia meninggalkan kebiasaan buruknya.

Pelajaran besar dari kisah ini adalah:
Perubahan besar sering dimulai dari satu komitmen kecil yang dijaga dengan sungguh-sungguh.

Ramadhan adalah momentum terbaik untuk memperbaiki diri. Dalam tulisan tersebut dijelaskan tiga langkah sederhana agar ibadah kita berkualitas :

1. Mulai dari diri sendiri.

Jangan menunggu orang lain berubah dulu.

2. Mulai dari hal kecil dan sederhana.

Senyum, sedekah kecil, menjaga lisan, tepat waktu shalat.

3. Mulai dari sekarang.

Jangan menunda kebaikan. Niat baik yang ditunda sering kali tidak pernah terlaksana.

Hadirin sekalian,

Sering kali kita berkata, “Nanti kalau sudah mapan saya akan sedekah.”
“Nanti kalau sudah tua saya akan lebih rajin ibadah.”

Padahal tidak ada jaminan kita sampai pada “nanti” itu.

Ramadhan mengajarkan kita untuk bergerak hari ini, saat ini, detik ini.

Jika kita ingin hasil Ramadhan berkualitas, jangan fokus pada seberapa banyak ibadah orang lain. Fokuslah pada:

Apakah shalat kita lebih khusyuk?
Apakah lisan kita lebih terjaga?
Apakah hati kita lebih lembut?

Karena perubahan umat dimulai dari perubahan individu.

Jika setiap pribadi memperbaiki dirinya, maka keluarga akan baik.
Jika keluarga baik, masyarakat akan baik.
Jika masyarakat baik, bangsa akan baik.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Mari kita jadikan Ramadhan ini sebagai titik awal perubahan.
Mulai dari diri sendiri.
Mulai dari hal kecil.
Mulai dari sekarang.

Semoga Allah menjadikan Ramadhan ini benar-benar berkualitas bagi kita, bukan hanya ramai di awal dan redup di akhir.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

3. Kejujuran, Kunci Puasa Diterima

Masih dari tema Ibda’ Binafsika , puasa mengajarkan kejujuran. Tidak ada yang tahu kita benar-benar berpuasa atau tidak, kecuali Allah.

Pesan utama:

Jika jujur kepada Allah saat berpuasa, insyaAllah kita akan jujur dalam kehidupan sehari-hari.

Isi Kultum Lengkap:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat iman dan kesempatan menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Masih dalam semangat Ibda’ Binafsika — mulailah dari diri sendiri — sebagaimana disampaikan dalam tulisan Andy Dermawan dalam Kumpulan Kultum Ramadhan: Mutiara Nasihat Seribu Bulan , Ramadhan mengajarkan satu nilai utama yang sangat mendasar, yaitu kejujuran.

Berbeda dengan shalat atau zakat yang bisa dilihat orang lain, puasa adalah ibadah yang sangat personal. Secara lahiriah, seseorang bisa saja terlihat berpuasa, tetapi hanya dirinya dan Allah yang benar-benar tahu apakah ia jujur menahan diri atau tidak.

Inilah keistimewaan puasa.

Tidak ada kamera yang mengawasi.
Tidak ada manusia yang mencatat.
Hanya Allah yang Maha Mengetahui.

Maka, puasa adalah latihan kejujuran paling murni.

Dalam pembahasan Ibda’ Binafsika diceritakan tentang seseorang yang ingin masuk Islam namun memiliki kebiasaan mencuri. Rasulullah SAW hanya meminta satu hal: jangan berbohong .

Janji untuk tidak berbohong itu menjadi titik balik hidupnya. Karena ketika hendak mencuri, ia teringat bahwa jika ditanya, ia harus jujur. Jika jujur, berarti ia mengaku salah. Jika berbohong, berarti ia mengingkari janji.

Akhirnya, kejujuran itu mengalahkan kebiasaan buruknya.

Begitu pula dengan puasa.
Jika kita jujur kepada Allah saat berpuasa, maka kejujuran itu akan merambat ke aspek kehidupan lainnya.

Hadirin sekalian,

Puasa yang diterima bukan hanya yang menahan lapar dan haus, tetapi yang juga menjaga lisan dari dusta dan hati dari niat buruk.

Apa artinya kita berpuasa seharian, tetapi masih berbohong dalam pekerjaan?
Apa artinya kita menahan makan, tetapi tidak menahan diri dari manipulasi dan kecurangan?

Ramadhan mendidik kita menjadi pribadi yang berkata dalam hati:

“Saya tidak makan dan minum bukan karena takut manusia, tetapi karena Allah melihat saya.”

Jika kesadaran ini tertanam kuat, maka insyaAllah:

Kita akan jujur dalam berdagang
Jujur dalam bekerja
Jujur dalam berbicara
Jujur dalam menepati janji

Kejujuran kepada Allah saat berpuasa adalah fondasi kejujuran sosial.

Ketika kita mampu menahan diri di tempat sepi karena merasa diawasi Allah, maka kita tidak akan mudah berbuat curang ketika tidak ada orang yang melihat.

Inilah makna takwa yang menjadi tujuan puasa:
La’allakum tattaqun — agar kamu menjadi orang yang bertakwa.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Mari kita jadikan Ramadhan ini sebagai madrasah kejujuran.
Mulailah dari diri sendiri.
Jujur kepada Allah dalam puasa kita.
Jujur dalam niat, dalam ibadah, dan dalam pekerjaan.

Jika kita jujur kepada Allah saat berpuasa, insyaAllah kita akan menjadi pribadi yang jujur dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga Allah menerima puasa kita dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang bertakwa.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

4. Ramadan dan Semangat Membaca

Dalam kultum “Puasa dan Minat Baca” oleh Lathiful Khuluq , Ramadan dihubungkan dengan perintah pertama Al-Qur’an: Iqra’.

Pesan utama:

Puasa bukan hanya menahan diri, tetapi juga meningkatkan kualitas diri dengan membaca dan menuntut ilmu.

Isi Kultum Lengkap:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah mempertemukan kita dengan bulan suci Ramadhan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Pada kesempatan ini, mari kita mengambil pelajaran dari kultum berjudul “Puasa dan Minat Baca” karya Lathiful Khuluq dalam buku Kumpulan Kultum Ramadhan: Mutiara Nasihat Seribu Bulan .

Ramadhan adalah bulan turunnya Al-Qur’an. Ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah:

“Iqra’!” — Bacalah!

Perintah pertama dalam Islam bukanlah shalat, bukan pula puasa, melainkan membaca. Ini menunjukkan bahwa membaca dan menuntut ilmu adalah fondasi peradaban Islam.

Dalam kultum tersebut dijelaskan bahwa umat Islam diperintahkan membaca, bukan hanya membaca teks Al-Qur’an, tetapi juga membaca tanda-tanda alam (ayat kauniyah) dan membaca realitas sosial .

Artinya, kita diperintahkan untuk berpikir, meneliti, dan memahami kehidupan.

Hadirin sekalian,

Sering kali kita memahami puasa hanya sebagai menahan lapar dan haus. Padahal puasa adalah madrasah pengembangan diri.

Puasa melatih:

Disiplin waktu
Pengendalian diri
Kesabaran
Kepekaan sosial

Namun Ramadhan juga seharusnya meningkatkan kualitas intelektual kita.

Di bulan inilah Al-Qur’an diturunkan. Maka Ramadhan seharusnya menjadi bulan paling dekat dengan bacaan dan ilmu.

Jika siang hari kita menahan diri dari makan, maka malam hari seharusnya kita mengisi diri dengan ilmu.

Dalam tulisan tersebut juga disinggung bahwa minat baca masyarakat kita masih rendah . Budaya membaca sering tergeser oleh budaya menonton dan berbincang tanpa arah.

Padahal peradaban besar lahir dari tradisi membaca dan menulis.

Bangsa-bangsa maju memulai kemajuan mereka dari riset, penelitian, dan kebiasaan membaca. Begitu pula peradaban Islam di masa keemasan, yang dipenuhi ulama, ilmuwan, dan penulis.

Maka Ramadhan harus menjadi momentum membangkitkan kembali semangat “Iqra’”.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Ramadhan identik dengan tadarus Al-Qur’an. Itu adalah langkah awal yang sangat baik. Namun jangan berhenti di sana.

Mari kita tingkatkan dari:

Sekadar membaca, menjadi memahami
Sekadar memahami, menjadi mengamalkan
Sekadar mengamalkan, menjadi menyebarkan ilmu

Puasa bukan hanya mengurangi asupan fisik, tetapi menambah asupan ilmu.

Sebagaimana semangat Ibda’ Binafsika — mulailah dari diri sendiri — mari kita bertanya:

Sudahkah kita menyisihkan waktu setiap hari untuk membaca?
Sudahkah rumah kita memiliki suasana cinta ilmu?
Sudahkah anak-anak kita melihat kita gemar membaca?

Perubahan besar dimulai dari kebiasaan kecil.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Puasa bukan hanya menahan diri dari yang membatalkan, tetapi juga momentum meningkatkan kualitas diri.

Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an.
Ramadhan adalah bulan ilmu.
Ramadhan adalah bulan peradaban.

Mari kita hidupkan kembali semangat “Iqra’” dalam diri kita.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang tidak hanya rajin beribadah, tetapi juga haus akan ilmu.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

5. Puasa Melatih Kepedulian Sosial

Puasa membuat kita merasakan lapar seperti saudara-saudara kita yang kurang mampu.

Pesan utama:

Jangan biarkan Ramadan berlalu tanpa memperbanyak sedekah dan membantu sesama.

Isi Kultum Lengkap:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kita kesempatan menikmati bulan suci Ramadhan. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Dalam pembahasan tentang puasa pada buku Kumpulan Kultum Ramadhan: Mutiara Nasihat Seribu Bulan dijelaskan bahwa puasa tidak hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi juga memiliki efek sosial yang sangat kuat .

Artinya, puasa bukan sekadar ibadah individual, melainkan ibadah yang membangun kepedulian sosial.

Ketika kita berpuasa, kita merasakan lapar dan haus sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.

Bagi sebagian kita, lapar hanya berlangsung beberapa jam, dan kita tahu saat Maghrib tiba makanan sudah tersedia.

Namun di luar sana, ada saudara-saudara kita yang lapar bukan karena ibadah, tetapi karena keterbatasan ekonomi. Mereka tidak tahu apakah esok hari masih bisa makan dengan layak.

Puasa mengajarkan kita untuk merasakan sedikit dari apa yang mereka rasakan setiap hari.

Inilah hikmah sosial puasa: menumbuhkan empati.

Dalam kandungan ayat-ayat puasa dijelaskan pula adanya fidyah bagi yang tidak mampu berpuasa, yaitu memberi makan orang miskin . Ini menunjukkan bahwa sejak awal, puasa sudah terkait erat dengan kepedulian kepada sesama.

Puasa mendidik kita agar:

Tidak hidup hanya untuk diri sendiri
Tidak hanya memikirkan kenyamanan pribadi
Tidak lupa pada yang lemah dan membutuhkan

Ramadhan adalah bulan di mana pahala dilipatgandakan. Maka sedekah di bulan ini memiliki nilai yang sangat besar.

Hadirin sekalian,

Mari kita bertanya pada diri kita:

Apakah puasa kita membuat hati lebih lembut?
Apakah setelah merasakan lapar, kita lebih ringan membantu orang lain?

Jika setelah Ramadhan kita tetap pelit, tidak peduli, dan enggan berbagi, maka kita perlu mengevaluasi kualitas puasa kita.

Puasa yang benar akan melahirkan kepedulian.

Karena salah satu tujuan puasa adalah membentuk manusia bertakwa — dan takwa selalu berdampak sosial.

Kepedulian tidak selalu harus besar.

Memberi makanan berbuka
Menyisihkan sebagian rezeki untuk fakir miskin
Membantu tetangga yang kesulitan
Menjadi relawan kegiatan sosial
Sekadar meringankan beban orang lain dengan tenaga dan perhatian

Kebaikan sekecil apa pun sangat berarti di sisi Allah.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Ramadhan adalah momentum emas.

Jangan biarkan bulan suci ini berlalu tanpa memperbanyak sedekah dan membantu sesama.

Jika kita mampu menahan lapar karena Allah, maka seharusnya kita juga mampu membuka tangan untuk berbagi karena Allah.

Semoga puasa kita bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga melatih hati menjadi lebih peduli, lebih dermawan, dan lebih peka terhadap penderitaan orang lain.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

6. Menjaga Lisan di Bulan Suci

Dalam pembahasan fiqh puasa dijelaskan bahwa menahan diri juga berarti menjaga ucapan.

Pesan utama:

Percuma menahan lapar, jika lisan masih gemar berbohong, menggunjing, dan menyakiti hati orang lain.

Isi Kultum Lengkap:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat iman dan kesempatan menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Dalam pembahasan Fiqh Puasa: Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 183–184 dalam buku Kumpulan Kultum Ramadhan: Mutiara Nasihat Seribu Bulan dijelaskan bahwa makna puasa bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari segala bentuk perbuatan dosa, termasuk menjaga lisan .

Puasa secara bahasa berarti menahan diri. Dan para ulama menjelaskan bahwa menahan diri itu meliputi menahan pandangan, pendengaran, dan terutama ucapan.

Secara fiqh, yang membatalkan puasa memang makan, minum, dan hal-hal tertentu lainnya . Namun secara spiritual, lisan yang tidak terjaga dapat menghilangkan pahala puasa.

Apa artinya kita menahan lapar seharian, tetapi masih:

Berbohong
Menggunjing (ghibah)
Mengadu domba
Berkata kasar
Menyebarkan fitnah

Rasulullah SAW mengingatkan bahwa bisa jadi orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan haus.

Mengapa? Karena lisannya tidak dijaga.

Hadirin sekalian,

Lapar itu terasa di perut.
Haus terasa di tenggorokan.
Tetapi dosa lisan sering tidak terasa di hati.

Kita kadang merasa biasa saja ketika membicarakan aib orang lain. Kita merasa ringan ketika bercanda berlebihan hingga menyakiti hati.

Padahal satu kalimat saja bisa melukai lebih dalam daripada pukulan.

Ramadhan adalah madrasah pengendalian diri. Jika kita mampu menahan diri dari makanan yang halal, maka seharusnya kita lebih mampu menahan diri dari ucapan yang haram.

Menjaga lisan bukan sekadar etika sosial, tetapi cerminan ketakwaan.

Allah menjadikan tujuan puasa adalah agar kita bertakwa. Orang yang bertakwa akan berhati-hati dalam berbicara.

Sebelum berbicara, ia bertanya pada dirinya:

Apakah ini benar?
Apakah ini perlu?
Apakah ini bermanfaat?

Jika tidak, lebih baik diam.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Mari jadikan Ramadhan sebagai bulan membersihkan lisan:

Mengganti ghibah dengan doa
Mengganti keluhan dengan syukur
Mengganti caci maki dengan nasihat yang baik
Mengganti gosip dengan dzikir

Karena percuma menahan lapar, jika lisan masih gemar berbohong, menggunjing, dan menyakiti hati orang lain.

Semoga puasa kita tidak hanya sah secara fiqh, tetapi juga bernilai di sisi Allah.

Semoga Ramadhan ini menjadikan lisan kita lebih lembut, lebih jujur, dan lebih menyejukkan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

7. Hikmah Sabar dalam Puasa

Puasa melatih kesabaran sejak sahur hingga berbuka.

Pesan utama:

Orang yang sabar bukan yang tidak marah, tetapi yang mampu mengendalikan dirinya saat marah.

Isi Kultum Lengkap:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah SWT yang telah mempertemukan kita dengan bulan suci Ramadhan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Dalam pembahasan tentang puasa dalam Kumpulan Kultum Ramadhan: Mutiara Nasihat Seribu Bulan, dijelaskan bahwa tujuan puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa, di antaranya dengan melatih pengendalian diri dan kesabaran .

Puasa bukan hanya ibadah fisik, tetapi latihan mental dan spiritual.

Sejak sahur hingga berbuka, kita dilatih untuk bersabar:

Sabar menahan lapar
Sabar menahan haus
Sabar menahan emosi
Sabar menahan keinginan

Ketika tenggorokan kering dan tubuh lemas, kita tetap menahan diri. Ketika ada yang menyakiti hati, kita diingatkan untuk berkata, “Saya sedang berpuasa.”

Artinya, puasa mendidik kita agar tidak reaktif terhadap emosi.

Hadirin sekalian,

Banyak orang mengira sabar berarti tidak marah sama sekali. Padahal marah adalah fitrah manusia.

Yang disebut sabar bukanlah orang yang tidak pernah marah, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya saat marah.

Puasa melatih kemampuan itu.

Ketika sedang lapar, biasanya emosi lebih mudah tersulut. Namun justru di situlah ujian sabar yang sesungguhnya.

Jika kita mampu mengendalikan diri dalam kondisi lemah, maka insyaAllah kita akan lebih mudah mengendalikan diri dalam kondisi normal.

Allah menyebut tujuan puasa adalah agar kita menjadi orang yang bertakwa . Dan salah satu ciri orang bertakwa adalah mampu menahan amarah dan memaafkan orang lain.

Ramadhan adalah bulan latihan.
Sebulan penuh kita ditempa untuk menjadi pribadi yang lebih tenang dan tidak mudah tersinggung.

Kalau selama Ramadhan kita masih mudah marah, mudah membalas, dan sulit memaafkan, berarti kita belum maksimal memetik hikmah puasa.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Setelah Ramadhan berakhir, ujian sabar tetap ada:

Di rumah tangga
Di tempat kerja
Di jalan raya
Dalam urusan ekonomi

Puasa mengajarkan kita bahwa kita mampu bersabar selama sebulan. Maka seharusnya kita juga mampu membawa kesabaran itu ke bulan-bulan berikutnya.

Mari kita jadikan Ramadhan sebagai madrasah kesabaran.

Latih diri untuk menahan amarah.
Latih diri untuk memilih diam daripada menyakiti.
Latih diri untuk memaafkan daripada membalas.

Karena orang yang sabar bukan yang tidak pernah marah, tetapi yang mampu mengendalikan dirinya saat marah.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang sabar dan bertakwa.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

8. Momentum Taubat dan Istighfar

Ramadan adalah bulan ampunan. Setiap malam Allah membuka pintu rahmat-Nya.

Pesan utama:

Jangan tunda taubat. Bisa jadi Ramadan tahun ini adalah kesempatan terakhir kita.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah SWT yang masih memberi kita kesempatan menikmati bulan suci Ramadhan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Dalam berbagai pembahasan dalam Kumpulan Kultum Ramadhan: Mutiara Nasihat Seribu Bulan, Ramadhan ditegaskan sebagai bulan penyucian diri, bulan perbaikan, dan bulan kembali kepada Allah .

Ramadhan bukan hanya bulan menahan lapar dan haus, tetapi bulan untuk membersihkan hati melalui taubat dan istighfar.

Setiap malam di bulan Ramadhan, pintu rahmat Allah terbuka lebar. Allah memberi kesempatan kepada hamba-hamba-Nya untuk kembali, memperbaiki diri, dan memohon ampunan.

Tidak ada manusia yang bersih dari dosa.
Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan.

Namun yang membedakan orang beriman adalah kesadarannya untuk kembali kepada Allah.

Ramadhan adalah momentum terbaik untuk itu.

Hadirin sekalian,

Sering kali kita berkata:

“Nanti kalau sudah tua saya akan bertaubat.”
“Nanti kalau sudah selesai urusan dunia, saya akan lebih dekat kepada Allah.”

Padahal kita tidak pernah tahu sampai kapan usia kita.

Ramadhan tahun ini bisa jadi adalah Ramadhan terakhir bagi kita. Tidak ada yang bisa menjamin kita bertemu Ramadhan berikutnya.

Karena itu, jangan tunda taubat.

Taubat bukan hanya untuk dosa besar, tetapi juga untuk:

Lalai dalam ibadah
Menyakiti hati orang lain
Kurang bersyukur
Kurang peduli kepada sesama

Dalam pembahasan tentang penyucian diri di bulan suci, ditegaskan pentingnya membersihkan hati agar ibadah kita bernilai di sisi Allah .

Hati yang dipenuhi dosa akan terasa berat untuk beribadah.
Namun hati yang sering beristighfar akan terasa ringan dan tenang.

Istighfar bukan sekadar ucapan di lisan, tetapi kesadaran dalam hati bahwa kita membutuhkan ampunan Allah.

Taubat yang benar memiliki tiga tanda:

1. Menyesal atas dosa yang telah dilakukan.
2. Berhenti dari perbuatan tersebut.
3. Bertekad tidak mengulanginya lagi.

Ramadhan memberi kita suasana yang mendukung untuk berubah: masjid ramai, tilawah meningkat, sedekah bertambah.

Gunakan momentum ini untuk memperbaiki kebiasaan.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Jangan biarkan Ramadhan berlalu hanya sebagai rutinitas tahunan.

Jadikan bulan ini sebagai titik balik kehidupan:

Dari lalai menjadi sadar
Dari malas menjadi rajin
Dari jauh menjadi dekat dengan Allah

Bisa jadi Ramadhan tahun ini adalah kesempatan terakhir kita untuk memperbaiki diri.

Mari perbanyak istighfar di siang dan malam hari.

Mari tundukkan hati dan akui kelemahan kita di hadapan Allah.

Semoga Allah menerima taubat kita, menghapus dosa-dosa kita, dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang kembali dengan hati yang bersih.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

9. Kemenangan Sejati adalah Takwa

Dalam daftar isi buku tersebut juga terdapat tema tentang kemenangan sejati .

Pesan utama:

Idulfitri bukan hanya tentang pakaian baru, tetapi hati yang baru—lebih bersih dan lebih dekat kepada Allah.

Isi Kultum Lengkap:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberi kita kesempatan menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Dalam Kumpulan Kultum Ramadhan: Mutiara Nasihat Seribu Bulan terdapat tema tentang Hari Kemenangan Sejati yang mengajak kita memahami makna Idulfitri secara lebih mendalam .

Sering kali kita memaknai kemenangan sebatas perayaan. Padahal kemenangan yang dimaksud dalam Ramadhan bukanlah kemenangan fisik, melainkan kemenangan spiritual.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 bahwa puasa diwajibkan agar kita menjadi orang yang bertakwa.

Artinya, kemenangan sejati bukan sekadar berhasil menahan lapar selama 30 hari, tetapi berhasil meningkatkan kualitas ketakwaan kita.

Jika setelah Ramadhan:

Shalat kita lebih khusyuk
Lisan kita lebih terjaga
Hati kita lebih lembut
Sedekah kita lebih ringan

Maka itulah kemenangan.

Hadirin sekalian,

Idulfitri sering diidentikkan dengan:

Pakaian baru
Hidangan istimewa
Mudik dan silaturahmi

Semua itu baik dan bagian dari syiar. Namun jangan sampai kita melupakan esensinya.

Idulfitri berarti kembali kepada fitrah. Kembali kepada kesucian. Kembali kepada hati yang bersih.

Bukan hanya baju yang baru, tetapi hati yang baru.
Bukan hanya rumah yang rapi, tetapi jiwa yang suci.

Kemenangan sejati terlihat dari perubahan diri.

Jika sebelum Ramadhan kita mudah marah, lalu setelahnya lebih sabar — itu kemenangan.
Jika sebelumnya sulit membaca Al-Qur’an, lalu setelahnya lebih rajin — itu kemenangan.
Jika sebelumnya berat bersedekah, lalu setelahnya ringan berbagi — itu kemenangan.

Ramadhan adalah madrasah. Idulfitri adalah wisuda. Namun nilai kelulusan kita ditentukan oleh perubahan yang kita bawa setelahnya.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Jangan sampai setelah Ramadhan kita kembali pada kebiasaan lama.

Ibarat seseorang yang telah mandi bersih, lalu kembali berkubang dalam lumpur.

Kemenangan sejati adalah ketika semangat Ramadhan tetap hidup di bulan-bulan berikutnya.

Mari kita jadikan Idulfitri bukan sekadar perayaan, tetapi momentum mempertahankan ketakwaan.

Semoga Allah menerima puasa kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang benar-benar menang — menang melawan hawa nafsu dan menang meraih takwa.

Karena kemenangan sejati bukan tentang pakaian baru, tetapi hati yang baru — lebih bersih dan lebih dekat kepada Allah.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

10. Jadikan Ramadan Titik Perubahan

Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, tetapi madrasah kehidupan.

Pesan utama:

Jika setelah Ramadan kita tetap rajin ibadah, menjaga akhlak, dan peduli sesama, itulah tanda puasa kita berhasil.

Isi Kultum Lengkap:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberi kita kesempatan menikmati bulan suci Ramadhan. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Dalam berbagai tema yang dibahas dalam Kumpulan Kultum Ramadhan: Mutiara Nasihat Seribu Bulan, Ramadhan digambarkan bukan sekadar ibadah ritual, melainkan sarana pembentukan pribadi yang lebih baik .

Artinya, Ramadhan adalah madrasah kehidupan.

Selama sebulan penuh, kita dilatih:

Menahan diri dari yang membatalkan puasa
Mengendalikan emosi
Memperbanyak tilawah
Meningkatkan sedekah
Menghidupkan malam dengan ibadah

Semua itu bukan tujuan akhir, melainkan proses pendidikan jiwa.

Madrasah tidak hanya mengajarkan teori, tetapi membentuk karakter. Begitu pula Ramadhan, ia membentuk:

Kejujuran
Kesabaran
Kepedulian
Kedisiplinan

Hadirin sekalian,

Keberhasilan puasa tidak diukur dari banyaknya takjil yang kita konsumsi atau meriahnya perayaan Idulfitri.

Keberhasilan puasa diukur dari perubahan diri.

Jika setelah Ramadhan:

Kita tetap rajin shalat berjamaah
Tetap membaca Al-Qur’an meski tak lagi setiap malam di masjid
Tetap menjaga lisan dari ghibah
Tetap ringan bersedekah
Tetap peduli pada sesama

Maka itulah tanda puasa kita berhasil.

Sebaliknya, jika setelah Ramadhan kita kembali pada kebiasaan lama, maka kita perlu bertanya pada diri sendiri: apakah kita benar-benar belajar dari madrasah Ramadhan?

Ramadhan memang memiliki suasana yang mendukung: masjid ramai, kajian marak, hati lebih mudah tersentuh.

Namun ujian sesungguhnya justru datang setelah Ramadhan berakhir.

Apakah kita mampu mempertahankan kebiasaan baik itu?

Allah tidak hanya melihat semangat kita di awal, tetapi juga konsistensi kita setelahnya.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Jangan jadikan Ramadhan sebagai agenda tahunan yang berlalu tanpa bekas.

Jadikan ia sebagai titik perubahan.

Perubahan dalam:

Cara berpikir
Cara berbicara
Cara bersikap
Cara memperlakukan sesama

Ramadhan adalah kesempatan untuk memperbaiki diri. Dan perubahan yang sejati adalah yang terus berlanjut setelah bulan suci berakhir.

Baca juga: Kultum Ramadhan Hari ke-6: Kisah Sahabat Nabi yang Menyesal Saat Sakaratul Maut

Mari kita berdoa agar Allah menerima amal ibadah kita dan menjadikan Ramadhan ini sebagai titik balik kehidupan kita.

Jika setelah Ramadhan kita tetap rajin ibadah, menjaga akhlak, dan peduli sesama, itulah tanda puasa kita berhasil.

Semoga kita termasuk orang-orang yang lulus dari madrasah Ramadhan dengan predikat takwa.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Penutup

Itulah 10 contoh kultum Ramadhan singkat menyentuh hati yang bisa Anda gunakan untuk mengisi kultum sebelum Tarawih, setelah Subuh, atau saat tadarus.

Ramadan adalah bulan perbaikan. Jangan biarkan ia berlalu tanpa perubahan dalam diri kita.

Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan menjadikan kita insan yang bertakwa. Aamiin.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Ada Masjid Berusia 1.200 Tahun di Gurun Negev Israel, Termasuk yang Tertua di Dunia
Ada Masjid Berusia 1.200 Tahun di Gurun Negev Israel, Termasuk yang Tertua di Dunia
Aktual
Tren Lebaran 2026: Model Gamis Bini Orang Clean Classy untuk Sungkeman
Tren Lebaran 2026: Model Gamis Bini Orang Clean Classy untuk Sungkeman
Aktual
BAZNAS Tegaskan Dana Zakat, Infak, dan Sedekah Tak Digunakan untuk MBG
BAZNAS Tegaskan Dana Zakat, Infak, dan Sedekah Tak Digunakan untuk MBG
Aktual
Mudik Gratis Pemprov DKI 2026 Resmi Dibuka, Kuota Terbatas
Mudik Gratis Pemprov DKI 2026 Resmi Dibuka, Kuota Terbatas
Aktual
10 Contoh Kultum Ramadhan Singkat Menyentuh Hati, Cocok untuk Tarawih dan Tadarus
10 Contoh Kultum Ramadhan Singkat Menyentuh Hati, Cocok untuk Tarawih dan Tadarus
Aktual
Dishub Bogor Buka Mudik Gratis 2026, Ini Jadwal, Syarat, dan Rutenya
Dishub Bogor Buka Mudik Gratis 2026, Ini Jadwal, Syarat, dan Rutenya
Aktual
Muntah Saat Puasa, Batal atau Tidak? Ini Penjelasan Lengkapnya
Muntah Saat Puasa, Batal atau Tidak? Ini Penjelasan Lengkapnya
Aktual
Mudik Gratis Jasa Marga 2026 Resmi Dibuka, Ini Rute, Syarat, dan Cara Daftarnya
Mudik Gratis Jasa Marga 2026 Resmi Dibuka, Ini Rute, Syarat, dan Cara Daftarnya
Aktual
Niat Zakat Fitrah Lengkap dan 8 Golongan Penerima Zakat
Niat Zakat Fitrah Lengkap dan 8 Golongan Penerima Zakat
Doa dan Niat
GP Ansor Tegaskan Label Halal Tak Dihapus di Perjanjian Dagang RI–AS, Masyarakat Diminta Tak Terprovokasi
GP Ansor Tegaskan Label Halal Tak Dihapus di Perjanjian Dagang RI–AS, Masyarakat Diminta Tak Terprovokasi
Aktual
Libur dan WFA Lebaran 2026 Total Ada 12 Hari, Simak Rinciannya
Libur dan WFA Lebaran 2026 Total Ada 12 Hari, Simak Rinciannya
Aktual
Apakah Menghirup Inhaler Membatalkan Puasa? Ini Penjelasan Hukumnya Saat Ramadhan
Apakah Menghirup Inhaler Membatalkan Puasa? Ini Penjelasan Hukumnya Saat Ramadhan
Aktual
Model Baju Lebaran 2026 Wanita Terbaru: Dari “Gamis Bini Orang” hingga Minimalis Elegan
Model Baju Lebaran 2026 Wanita Terbaru: Dari “Gamis Bini Orang” hingga Minimalis Elegan
Aktual
Perbedaan Zakat Fitrah dan Zakat Mal: Jangan Sampai Keliru, Ini Penjelasan Lengkapnya
Perbedaan Zakat Fitrah dan Zakat Mal: Jangan Sampai Keliru, Ini Penjelasan Lengkapnya
Aktual
Nisab Zakat Penghasilan 2026: Setara Rp 91 Juta per Tahun, Kini Pakai Emas 14 Karat
Nisab Zakat Penghasilan 2026: Setara Rp 91 Juta per Tahun, Kini Pakai Emas 14 Karat
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com