Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ada Masjid Berusia 1.200 Tahun di Gurun Negev Israel, Termasuk yang Tertua di Dunia

Kompas.com, 25 Februari 2026, 14:54 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Penemuan masjid kuno abad ke-7 di Gurun Negev, Israel, menjadi salah satu temuan arkeologi penting terkait sejarah awal Islam.

Bangunan yang diduga berasal dari masa awal penyebaran Islam itu berada di wilayah yang dahulu dikenal sebagai Tanah Suci.

Bekas reruntuhan masjid tersebut ditemukan di kota Bedouin Rahat, Israel selatan, saat pembangunan lingkungan permukiman baru.

Hal ini seperti dilansir dari laman BBC, The Guardian, dan Otoritas Kepurbakalaan Israel (Israel Antiquities Authority/IAA).

Penggalian tersebut dipimpin oleh Oren Shmueli, Dr. Elena Kogan-Zehavi, dan Dr. Noe David Michael atas nama IAA.

Baca juga: Kisah Masjid Tertua di Samarinda: Dari Kampung Maksiat Jadi Pusat Ibadah

Ditemukan saat Proyek Pembangunan

Menurut laporan BBC, salah satu masjid paling awal yang diketahui di dunia, yang dibangun sekitar 1.200 tahun lalu, ditemukan oleh arkeolog di Gurun Negev. Sisa bangunan yang berasal dari abad ke-7 atau ke-8 Masehi itu ditemukan di Rahat.

IAA menyatakan masjid tersebut terungkap saat pekerjaan konstruksi berlangsung di kawasan tersebut pada 2019 dan laporan penemuan lanjutan pada 2022.

Otoritas itu menyebut bangunan ini sebagai masjid pertama yang diketahui dari periode tersebut di wilayah itu, dengan usia yang menyaingi masjid-masjid awal di Mekkah dan Jerusalem.

Direktur penggalian, Jon Seligman dan Shahar Zur, menyebut temuan ini sebagai “penemuan langka di mana pun di dunia”.

Bangunan masjid berbentuk persegi panjang dan bersifat terbuka. Struktur itu memiliki mihrab atau ceruk doa yang menghadap ke selatan, yakni ke arah Mekkah, kota suci umat Islam.

“Ciri-ciri ini menjadi bukti tujuan bangunan tersebut digunakan, ratusan tahun lalu,” kata Seligman.

Dibangun pada Awal Kedatangan Islam

Gideon Avni, pakar sejarah Islam awal, menjelaskan bahwa masjid ini termasuk yang pertama dibangun setelah kedatangan Islam di wilayah yang kini menjadi Israel.

Penaklukan Arab atas provinsi Bizantium terjadi pada 636 M, menandai awal perubahan kekuasaan dan budaya di kawasan tersebut.

“Penemuan desa dan masjid di sekitarnya merupakan kontribusi penting bagi kajian sejarah negara ini pada masa yang penuh gejolak tersebut,” ujarnya.

Sementara itu, The Guardian melaporkan bahwa arkeolog berpendapat sisa bangunan yang diperkirakan berusia lebih dari 1.200 tahun itu memberikan gambaran tentang sejarah transisi dari Kekristenan menuju Islam di kawasan tersebut.

Ciri Unik Menunjukkan Struktur Bangunan Masjid

Menurut IAA, masjid di Gurun Negev tersebut memiliki ruangan berbentuk persegi dan dinding yang menghadap ke arah Mekkah, dengan ceruk setengah lingkaran (mihrab) di sisi selatan.
.
“Ciri arsitektur unik ini menunjukkan bahwa bangunan tersebut digunakan sebagai masjid,” kata otoritas tersebut, seraya menambahkan kemungkinan masjid itu menampung beberapa puluh jemaah sekaligus.

Tidak jauh dari lokasi masjid, arkeolog juga menemukan sebuah “luxurious estate building”. Di area tersebut ditemukan peralatan makan dan artefak kaca yang menunjukkan tingkat kemakmuran penghuninya.

Tiga tahun sebelumnya, pada 2019, IAA juga menemukan masjid lain di dekat lokasi itu dari periode abad ke-7 hingga ke-8 Masehi.

Kedua tempat ibadah Islam tersebut disebut sebagai “among the earliest known worldwide” atau termasuk yang paling awal diketahui di dunia.

Masjid-masjid, bangunan mewah, dan rumah-rumah lain yang ditemukan di sekitarnya menjelaskan “proses sejarah yang terjadi di Negev utara dengan masuknya agama baru – agama Islam – serta pemerintahan dan budaya baru di wilayah tersebut,” kata IAA.

“Semua itu terbentuk secara bertahap, mewarisi pemerintahan Bizantium sebelumnya dan agama Kristen yang telah berpengaruh di wilayah tersebut selama ratusan tahun.”

IAA menyatakan reruntuhan masjid-masjid yang ditemukan di Rahat akan dipertahankan di lokasi aslinya, baik sebagai monumen bersejarah maupun sebagai tempat ibadah aktif.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com