Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hukum Mengumpat di Medsos saat Puasa, Batal atau Tidak? Ini Penjelasan Ulama

Kompas.com, 26 Februari 2026, 07:05 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber Antara

KOMPAS.com - Di tengah ibadah puasa Ramadhan, media sosial masihi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Namun, tidak sedikit pengguna yang kurang bisa mengendalikan diri dengan melontarkan umpatan dan cacian kepada orang lain melalui berbagai platform digital.

Pertanyaannya, apakah seorang Muslim yang mengumpat atau mencaci orang lain di media sosial saat berpuasa, puasanya menjadi batal?

Dilansir dari Antara, berikut penjelasan Mahbub Maafi dari Lembaga Bahtsul Masail PBNU, mengenai hukum mengumpat di media sosial saat menjalankan ibadah puasa Ramadhan.

Baca juga: Muntah Saat Puasa, Batal atau Tidak? Ini Penjelasan Lengkapnya

Apakah Mengumpat Membatalkan Puasa?

Dilihat dari sisi hukum fikih, umpatan atau cacian yang dilakukan saat berpuasa, baik di media sosial maupun di luar media sosial, tidak membatalkan puasa.

Namun, perbuatan tersebut tetap haram dan dilarang, apalagi ketika dilakukan dalam keadaan berpuasa.

Rasulullah SAW juga bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ ، وَالْعَمَلَ بِهِ ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan tidak meninggalkan perbuatan yang diakibatkan ucapan dustanya, maka Allah tidak butuh terhadap puasanya terhadap perbuatannya meninggalkan makan dan minum (puasa).” (HR. Bukhari)

Hadis ini menunjukkan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari perkataan dusta dan ucapan yang menyakitkan.

Anjuran Menjaga Lisan di Media Sosial 

Menurut Mahbub Maafi, media sosial pada dasarnya bersifat netral sebagai sarana komunikasi. Media sosial dapat digunakan untuk mempererat silaturahmi dan menyebarkan kebaikan sehingga mendatangkan pahala.

Sebaliknya, media sosial juga bisa menjadi sarana untuk menyebarkan kebencian melalui umpatan dan cacian kepada pihak lain. Fenomena tersebut dapat dengan mudah disaksikan di ruang digital saat ini.

Seorang Muslim, lanjutnya, sudah seharusnya menjaga lisan dan tangannya dari perbuatan yang menyakiti orang lain. Sikap lemah lembut dan tutur kata yang baik menjadi salah satu cerminan akhlak seorang Muslim.

Larangan Berkata Kotor saat Berpuasa

Islam secara tegas melarang perbuatan mengumpat dan mencaci, terlebih ketika seseorang sedang menjalankan ibadah puasa. Rasulullah SAW telah mengingatkan umatnya melalui sabda berikut:

وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ ، فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ ، أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّى امْرُؤٌ صَائِمٌ .
“Apabila salah satu dari kalian sedang menjalankan ibadah puasa, maka janganlah berkata kotor, dan jangan pula berteriak-teriak. Jika ada seseorang yang mencelanya atau menyakitinya maka ucapkan: ‘sesungguhnya aku sedang berpuasa’.” (HR. Bukhari)

Hadis ini menegaskan bahwa orang yang berpuasa wajib menahan diri dari perkataan kotor, termasuk cacian dan umpatan, sebagaimana ia menahan diri dari makan dan minum.

Konsekuensinya, orang yang tetap mengucapkan kata-kata kotor dan dusta saat berpuasa akan mengalami penurunan nilai ibadah puasanya. Bahkan, perbuatan tersebut dapat mendatangkan kemurkaan Allah SWT dan berpotensi menyebabkan puasa tidak diterima.

Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh al-Mahlab yang dikutip oleh Ibnu Baththal dalam kitab Syarhu Shahih al-Bukhari:

قال المهلب : فيه دليل أن حكم الصيام الإمساك عن الرفث وقول الزور ، كما يمسك عن الطعام والشراب ، وإن لم يمسك عن ذلك فقد تنقص صيامه وتعرض لسخط ربه وترك قبوله منه
“Al-Mahlab berkata: ‘Di dalam hadits mengandung petunjuk (dalil) bahwa hukum puasa itu adalah menahan diri dari berkata kotor dan dusta sebagaimana menahan diri dari makan dan minum. Dan jika orang yang berpuasa tidak bisa menahan diri dari perkataan kotor dan dusta maka sungguh nilai ibadah puasanya menjadi berkurang, mengakibatkan kebencian Tuhan-nya serta tidak diterima puasanya oleh-Nya.” (Lihat, Ibnu Baththal, Syarhu Shahih al-Bukhari, Riyadl-Maktabah ar-Rusyd, cet ke-2, 1423 H/2003, juz, IV, h. 23)

Dampak Mengumpat dan Mencaci di Medsos

Umpatan dan cacian di media sosial juga berpotensi menimbulkan kegaduhan sosial, perselisihan, hingga kerusakan dalam kehidupan bermasyarakat.

Perbuatan tersebut termasuk dalam kategori fitnah sebagaimana dijelaskan oleh Muhammad al-Khadimi dalam kitab Bariqatum Mahmudiyyah.

الثّامِنُ وَالْأَرْبَعُونَ الْفِتْنَةُ وَهِيَ إيقَاعُ النَّاسِ فِي الِاضْطِرَابِ أَوْ الِاخْتِلَالِ وَالِاخْتِلَافِ وَالْمِحْنَةِ وَالْبَلَاءِ بِلَا فَائِدَةٍ دِينِيَّةٍ وَهُوَ حَرَامٌ لِأَنَّهُ فَسَادٌ فِي الْأَرْضِ
“Bagian ke empat puluh delapan adalah fitnah. Fitnah adalah upaya menjerumuskan orang ke dalam kegaduhan, kekacauan, perselisihan, bencana dan cobaan yang tidak memiliki dampak positif dari sisi agama). Dan upaya tersebut adalah haram karena menimpulkan kerusakan pada harmoni kehidupan dunia...” (Muhammad al-Khadimi al-Hanafi, Bariqatun Mahmdudiyyah, Mesir-Matba’ah al-Halabi, juz III, h. 123)

Karena itu, umat Islam yang sedang menjalankan puasa Ramadhan perlu berhati-hati dalam menggunakan media sosial.

Jangan sampai media sosial dijadikan sarana untuk melakukan perbuatan haram seperti mengumpat dan mencaci, yang bukan hanya merusak harmoni sosial, tetapi juga berisiko mengurangi nilai dan penerimaan ibadah puasa.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar