PONOROGO, KOMPAS.com – Hujan deras baru saja reda di Desa Milangasri, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan. Sisa air masih menetes dari atap rumah joglo kayu jati yang berdiri di bagian belakang rumah Bedib Nana Sambodo, pengaggas kegiatan Tahfiz Leadership di Magetan.
Langit masih mendung ketika satu per satu anak datang membawa Al-Qur’an kecil di tangan.
Mereka duduk melingkar di lantai rumah joglo yang mulai ramai oleh suara anak-anak. Jam menunjukkan pukul 15.00 WIB. Tak lama kemudian, suara ayat Al-Qur’an mulai terdengar bersahutan.
Sekitar 60 anak mengikuti bacaan seorang pemuda yang berdiri di depan ruangan. Suaranya pelan, namun tegas memandu ayat demi ayat yang dilantunkan bersama.
Baca juga: Muchlis M Hanafi Wakili Indonesia di Forum Internasional Pentashihan Mushaf Alquran Irak
Pemuda itu adalah Habibur Rahman, perantau berusia 20 tahun yang datang jauh dari Semarang untuk menjaga hafalan Al-Qur’an sekaligus mengajarkan mengaji kepada anak-anak desa.
Di rumah joglo sederhana itu, ayat-ayat Al-Qur’an bukan hanya dihafalkan. Ia juga menumbuhkan harapan baru bagi generasi muda desa.
Perjalanan Habibur Rahman menuju Desa Milangasri bermula dari masa belajarnya di pesantren. Ia menempuh pendidikan di sebuah pondok di Boyolali hingga lulus SMA. Di sana ia belajar membaca kitab sekaligus menghafal Al-Qur’an.
Ketika memutuskan mengikuti program Tahfidz Leadership, ia sudah memiliki hafalan 10 juz.
Namun baginya, menghafal Al-Qur’an bukan sekadar mengumpulkan jumlah hafalan. Hafalan harus terus dijaga agar tidak hilang.
Karena itulah ia memilih mengikuti program yang tidak hanya fokus pada hafalan, tetapi juga mengajarkan kepemimpinan.
“Saya ingin menyelesaikan hafalan 30 juz dan belajar bagaimana menjadi pemimpin,” katanya.
Baca juga: Keutamaan Puasa Ramadhan Menurut Alquran dan Hadis
Dalam program tersebut ia belajar bersama 8 peserta dari berbagai daerah. Salah satunya adalah Rehan, yang akrab dipanggil Roy.
Roy mengaku awalnya merasa bingung menentukan arah hidup setelah lulus dari pondok pesantren. Informasi dari ibunya tentang program yang memadukan hafalan Al-Qur’an dan pelatihan kepemimpinan membuatnya tertarik mengikuti seleksi.
Saat pertama kali mengikuti program, ia hanya memiliki hafalan satu juz.
Kini hafalannya telah mencapai tujuh juz. Ia bahkan merasa lebih betah tinggal di Magetan dibanding yang ia bayangkan sebelumnya.
“Awalnya ingin ditempatkan di Bogor supaya dekat keluarga, tapi ternyata di Magetan suasananya enak dan masyarakatnya ramah,” ujarnya.
Setiap sore, Habibur Rahman dan Roy mengajar anak-anak di TPA Milangasri. Bagi Habibur Rahman, pengalaman mengajar anak-anak merupakan hal baru dalam hidupnya. Ada kalanya ia merasa lelah setelah menjalani aktivitas belajar dan menghafal sejak pagi. Namun suasana berubah ketika melihat anak-anak datang dengan wajah ceria membawa Al-Qur’an.
“Kalau melihat mereka semangat belajar, kita juga ikut semangat,” katanya.
Untuk membantu anak-anak menghafal, mereka menggunakan metode talkin.Metode ini dilakukan dengan cara membaca ayat terlebih dahulu, lalu anak-anak menirukannya dengan nada tertentu secara berulang. Nada sederhana tersebut membuat ayat-ayat Al-Qur’an lebih mudah diingat oleh anak-anak.
Baca juga: Untuk Pertama Kalinya Saat Ramadhan, Israel Tutup Masjid Al-Aqsa
Metode tersebut terbukti membantu anak-anak TPA Milangasri menghafal Al-Qur’an dengan lebih cepat. Salah satu yang merasakannya adalah Ayu. Siswi kelas 4 itu kini sudah mampu menghafal satu juz, yaitu Juz 30. Ayu mengaku metode yang diajarkan para pembimbing membuat hafalan terasa lebih mudah.
“Kak Habib dan Kak Roy mengajarkan dengan nada tertentu, jadi mudah diingat,” katanya.
Dengan cara tersebut, Ayu berhasil menyelesaikan hafalan dalam waktu sekitar satu tahun. Bagi Ayu, belajar mengaji di TPA bukan hanya tentang menghafal. Ia juga merasa senang karena para pembimbing mengajarkan ayat dengan cara yang menyenangkan.
Cerita serupa datang dari Ida, siswa kelas 6 di SD Milangasri .Ia juga berhasil menyelesaikan hafalan satu juz berkat bimbingan para pengajar TPA.
Ida bahkan sering diminta tampil di sekolah untuk melantunkan hafalan surat-surat pendek. Bagi dirinya, hafalan Al-Qur’an bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi.Ia berharap hafalan tersebut dapat membantu masa depannya.
“Saya ingin bisa masuk sekolah yang bagus setelah lulus,” katanya.
Bagi para pengajar, keberhasilan anak-anak seperti Ayu dan Ida menjadi kebahagiaan tersendiri.
Di tempat sederhana itu, mereka tidak hanya mengajarkan ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri anak-anak desa.
Program Tahfiz dan Leadership di Desa Milangasri terus berkembang dengan tujuan mencetak generasi muda penghafal Al-Qur’an yang memiliki jiwa kepemimpinan. Program ini dipandu oleh Muhammad Hasrul Faizin.
Menurut Hasrul, program tersebut dirancang untuk menyiapkan generasi pemimpin yang tidak hanya memiliki kemampuan intelektual, tetapi juga memiliki fondasi nilai-nilai Al-Qur’an.
“Tujuan utamanya adalah menyiapkan pemimpin yang hafiz Al-Qur’an sehingga mereka mampu menerapkan nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Hasrul sendiri berasal dari Lombok. Ia mulai menghafal Al-Qur’an sejak tahun 2011. Setahun kemudian, pada 2012, ia melanjutkan pendidikan di Jakarta hingga lulus pada 2016.Sejak 2019, ia bergabung dalam program Tahfiz Leadership dan telah ditempatkan di berbagai daerah di Pulau Jawa sebelum akhirnya mendapat amanah mengembangkan program tersebut di Magetan.
Saat ini program tersebut diikuti sembilan mahasantri berusia 17 hingga 25 tahun yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka menjalani pendidikan intensif selama 40 pekan atau sekitar 10 bulan dengan target hafal 30 juz Al-Qur’an.
Baca juga: Doa Naik Kendaraan dan Saat Bepergian dari Alquran dan Hadis
Setiap hari para santri menjalani jadwal yang cukup padat. Mereka memulai hafalan selepas Subuh hingga pagi hari, kemudian melanjutkan sesi hafalan pada siang hari.Dalam sehari, santri menargetkan hafalan tiga halaman.
Hafalan tersebut diperkuat dengan murajaah pada sore dan malam hari agar ingatan tetap terjaga.
Setiap hari Sabtu para santri menyetorkan hafalan pekanan untuk memastikan target tercapai.
Menurut Hasrul, metode tersebut diterapkan agar hafalan tidak hanya bertambah, tetapi juga tetap kuat dalam ingatan para santri.
“Kami menargetkan santri bisa menambah hafalan sekaligus menjaga hafalan lama dengan murajaah yang rutin, sehingga hafalan tidak mudah hilang,” jelasnya.
Selain tahfiz, para santri juga mendapatkan pelatihan kepemimpinan melalui mentoring, coaching, dan praktik langsung di masyarakat.Materi kepemimpinan meliputi pengembangan visi hidup, kemampuan memimpin diri sendiri, manajemen tim, hingga kemampuan menganalisis permasalahan sosial.
Para santri juga aktif dalam kegiatan kemasyarakatan seperti mengajar TPA gratis bagi anak-anak sekitar, mengisi pengajian rutin, hingga terlibat dalam kegiatan sosial warga. Kegiatan tersebut bahkan berhasil menarik puluhan anak untuk belajar mengaji secara cuma-cuma di Desa Milangasri.
“Kami ingin santri tidak hanya belajar untuk dirinya sendiri, tetapi juga memberi manfaat langsung kepada masyarakat,” kata Hasrul.
Baca juga: 5 Ayat Tentang Sabar dalam Alquran, Penenang Hati Saat Menghadapi Ujian Hidup
Menjalankan program tersebut bukan tanpa tantangan. Sebagai penanggung jawab, Hasrul harus membina hafalan para santri sekaligus mengembangkan kemampuan kepemimpinan mereka.Meski demikian, ia tetap berkomitmen menjalankan amanah tersebut.“Harapan kami, santri yang lulus tidak hanya hafal 30 juz, tetapi juga mampu memimpin diri sendiri dan tim kecil di masyarakat,” katanya.
Sementara itu, di rumah joglo Desa Milangasri, suara ayat-ayat Al-Qur’an terus bergema setiap sore.Bagi Habibur Rahman, perjalanan dari Semarang ke Magetan bukan sekadar perjalanan menuntut ilmu.Di desa kecil itu ia belajar menjaga hafalan, mengasah kepemimpinan, sekaligus menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an kepada generasi yang lebih muda.
Dan bagi anak-anak Milangasri, kehadiran para pemuda perantau itu menghadirkan sesuatu yang lebih dari sekadar pelajaran mengaji. Bahwa suatu hari nanti, dari desa kecil di lereng Gunung Lawu ini, akan lahir generasi pemimpin yang berakhlak Qur’ani.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang