Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

9 Ucapan Sungkeman Idul Fitri yang Sangat Mengharukan

Kompas.com, 20 Maret 2026, 22:55 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com - Tradisi sungkeman saat Idul Fitri bukan sekadar formalitas tahunan atau rangkaian kata maaf yang diucapkan berulang. Lebih dari itu, sungkeman adalah momen sakral yang mempertemukan kerendahan hati seorang anak dengan ketulusan kasih orang tua—sebuah jembatan batin yang sarat makna spiritual dan budaya.

Di hari kemenangan, ketika gema takbir masih terasa hangat, seorang anak menundukkan diri, mencium tangan orang tuanya, dan memohon maaf dengan hati yang terbuka. Dalam Islam, sikap ini mencerminkan birrul walidain—bakti kepada orang tua yang nilainya sangat tinggi di sisi Allah SWT.

Ucapan Sungkeman yang Menyentuh Hati

Tak semua perasaan mudah diungkapkan. Namun, kata-kata berikut bisa menjadi jembatan untuk menyampaikan ketulusan. Berikut 9 sungkeman Idul Fitri yang sangat mengharukan:

Baca juga: 30 Ucapan Sungkem Lebaran Bahasa Jawa kepada Bapak dan Ibu, Penuh Doa yang Menyentuh Hati

Bahasa Indonesia

  • "Ayah dan Ibu tercinta, terima kasih atas kasih sayang yang tak terhingga. Maafkan anakmu yang belum bisa membalas semua kebaikanmu."
  • "Tak terhitung kata yang melukai hati. Untuk semua kesalahan itu, mohon maaf dari hati terdalam."
  • "Di hari yang fitri ini, izinkan saya memohon maaf atas segala sikap dan ucapan yang tak berkenan."
  • "Ampuni saya yang sering lupa bersyukur atas semua pengorbanan Bapak dan Ibu."

Bahasa Jawa Krama Inggil

Penggunaan bahasa halus ini mencerminkan penghormatan yang mendalam:

  • "Kepareng kula matur dhumateng Bapak/Ibu, kula ngaturaken sugeng Riyadi Idul Fitri. Nuwun sewu, kula nyuwun pangapunten lahir batin lan ngalap berkah."
  • "Kanthi ikhlasing manah, kula nyuwun pangapunten sedaya kalepatan. Mugi kulo saged dados langkung sae."
  • "Mugi Bapak/Ibu kersa maringi agunging samudra pangaksami."

Saat Rindu Tak Bisa Dipeluk

Bagi mereka yang orang tuanya telah tiada, sungkeman berubah menjadi doa yang lirih. Lebaran sering menghadirkan rindu yang tak terucap, namun tetap tersampaikan lewat doa:

  • "Ayah, Ibu, di hari yang fitri ini aku merindukanmu. Selamat Idul Fitri surgaku."
  • "Semoga Allah mengampuni segala salahku padamu, dan kelak kita dipertemukan kembali."

Tata Cara Sungkeman yang Penuh Makna

Agar sungkeman tidak sekadar simbol, lakukan dengan penuh kesadaran:

1. Dekati dengan lembut, tundukkan badan sebagai bentuk hormat
2. Bersimpuh dan cium tangan, hadirkan ketulusan dalam setiap gerakan
3. Ucapkan dengan hati, tanpa tergesa, dan dengarkan doa orang tua

Lebih dari Tradisi, Ini Terapi Jiwa

Di balik haru dan air mata, sungkeman menyimpan manfaat yang tak terlihat. Secara psikologis, meminta dan memberi maaf terbukti mampu menurunkan stres, meredakan kecemasan, dan memperbaiki kesehatan mental.

Baca juga: 30 Contoh Ucapan Sungkem Lebaran dalam Bahasa Jawa Lengkap dengan Artinya

Sungkeman juga memperkuat ikatan keluarga yang mungkin renggang oleh waktu dan kesibukan. Di momen ini, ego runtuh, gengsi melebur, dan yang tersisa hanyalah cinta.

Idul Fitri bukan hanya tentang kembali ke nol, tetapi tentang kembali kepada hati—tempat di mana maaf menjadi bahasa paling jujur antara anak dan orang tua.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com