KOMPAS.com - Melepas keberangkatan jemaah menuju Tanah Suci bukan sekadar momen perpisahan biasa.
Ada harapan, doa, sekaligus ketulusan yang mengiringi setiap langkah mereka. Ibadah haji sendiri merupakan perjalanan yang tidak hanya menguji fisik, tetapi juga menjadi puncak perjalanan spiritual seorang Muslim.
Dalam tradisi Islam, doa memiliki posisi sentral sebagai penguat batin. Muhammad SAW telah mengajarkan sejumlah doa yang dapat diamalkan baik oleh jemaah yang berangkat maupun keluarga yang ditinggalkan.
Doa-doa ini bukan sekadar ucapan, melainkan bentuk tawakal agar perjalanan ibadah berjalan lancar dan berujung pada predikat haji mabrur.
Baca juga: Makkah Bakal Punya Bandara Internasional, Akses Jemaah Haji Bisa Lebih Cepat
Ibadah haji adalah rukun Islam kelima yang memiliki dimensi lahir dan batin. Secara lahiriah, jemaah menjalani serangkaian ritual seperti ihram, wukuf di Arafah, hingga tawaf di Ka’bah.
Namun secara batiniah, haji adalah proses penyucian diri, penguatan iman, serta refleksi total atas kehidupan.
Dalam buku Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa haji merupakan ibadah yang mengandung nilai pengorbanan, kesabaran, dan keikhlasan.
Oleh karena itu, doa menjadi bekal penting agar setiap tahapan dijalani dengan kemudahan dan keberkahan.
Baca juga: Menhaj Irfan Yusuf soal Kuota Haji: Tak Boleh Ada Kursi Mubazir...
Tradisi saling mendoakan antara yang pergi dan yang ditinggalkan telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Doa ini mengandung makna penyerahan total kepada Allah SWT.
أَسْتَوْدِعُكَ اللَّهَ الَّذِي لَا تَضِيعُ وَدَائِعُهُ
Astawdi'ukallahal-ladzii laa tadhi'u wa daa-i'uh
Artinya: “Aku menitipkan kalian kepada Allah yang tidak akan menyia-nyiakan titipan-Nya.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ahmad. Menurut kitab Al-Adzkar karya Imam Nawawi, doa ini menunjukkan keyakinan bahwa Allah adalah penjaga terbaik atas segala urusan manusia.
أَسْتَوْدِعُ اللهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ
Astawdi'ullaha diinaka, wa amaanataka, wa khawaat-iima 'amalik.
Artinya: “Aku menitipkan agamamu, amanahmu, dan akhir amalmu kepada Allah.”
Doa ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ahmad. Maknanya sangat mendalam, mencakup perlindungan terhadap iman, keselamatan perjalanan, hingga husnul khatimah.
Baca juga: Kemenhaj Cegah Haji Ilegal, Bayar Rp 100 Juta Bisa Lolos ke Arab Saudi
Selain doa perpisahan, terdapat doa khusus yang dianjurkan untuk memohon kemudahan dan keberkahan selama berhaji.
زَوَّدَكَ اللهُ التَّقْوَى وَغَفَرَ ذَنْبَكَ، وَيَسَّرَ لَكَ الْخَيْرَ حَيْثُمَا كُنْتَ
Zawwadakallaahut taqwa wa ghafara dzanbaka wa yassara lakal khaira hay-tsuma kunta.
Artinya: “Semoga Allah membekalimu dengan takwa, mengampuni dosa-dosamu, dan memudahkan kebaikan di mana pun engkau berada.”
Hadis ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi. Dalam buku Untaian Mutiara Doa karya Ali Manshur disebutkan bahwa doa ini mencakup tiga aspek utama kehidupan: spiritual, moral, dan sosial.
اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا حَاجًا مَبْرُوْرًا وَذَنْبًا مَغْفُوْرًا
Allahummaj'alha hajjan mabruran wa dzanban maghfuran.
Artinya: “Ya Allah, jadikanlah hajinya sebagai haji yang mabrur dan dosa-dosanya diampuni.”
Doa ini sering dibaca oleh keluarga maupun kerabat sebagai bentuk harapan tertinggi bagi jemaah.
Istilah haji mabrur sering disebut, tetapi maknanya tidak selalu dipahami secara mendalam. Dalam buku Setetes Embun Hikmah karya Muhammad Arham dijelaskan bahwa haji mabrur adalah ibadah haji yang diterima oleh Allah SWT dan menghasilkan perubahan nyata dalam kehidupan pelakunya.
Hadis yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah menegaskan:
“Haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” (HR Bukhari dan Muslim)
Pernyataan ini menunjukkan bahwa kualitas haji tidak hanya diukur dari ritual, tetapi juga dampaknya setelah kembali ke tanah air.
Baca juga: Jadwal Haji 2026 Resmi, Jemaah Berangkat 21 April hingga Pulang 1 Juli
Seseorang yang meraih haji mabrur akan menunjukkan konsistensi dalam ibadah, seperti shalat tepat waktu, memperbanyak dzikir, dan menjauhi maksiat.
Haji mengajarkan kesabaran dan pengendalian diri. Dalam Al-Qur’an disebutkan larangan bertengkar dan berkata kotor selama haji. Nilai ini semestinya terus terbawa setelah pulang.
Ciri lain dari haji mabrur adalah meningkatnya kepedulian sosial, seperti gemar bersedekah, membantu sesama, dan mempererat silaturahmi.
Menurut buku Rahasia Haji Mabrur karya Ahmad Sarwat, indikator utama haji mabrur adalah perubahan perilaku yang konsisten, bukan sekadar pengalaman spiritual sesaat.
Doa bukan hanya pelengkap, tetapi inti dari kekuatan spiritual seorang Muslim. Dalam konteks haji, doa menjadi penghubung antara usaha manusia dan kehendak Allah SWT.
Perjalanan panjang, keramaian jutaan jemaah, hingga kondisi fisik yang menantang membuat doa menjadi sandaran utama. Dengan doa, setiap langkah menjadi lebih ringan dan penuh makna.
Mengantarkan seseorang berhaji sejatinya adalah momen memperkuat iman bersama. Doa-doa yang diajarkan Rasulullah SAW menjadi warisan spiritual yang relevan sepanjang zaman.
Harapan terbesar dari perjalanan ini bukan hanya selamat pergi dan pulang, tetapi pulang dengan membawa perubahan.
Sebab pada akhirnya, haji mabrur bukan sekadar gelar, melainkan transformasi hidup menuju pribadi yang lebih bertakwa.
Di tengah haru perpisahan, doa menjadi bahasa cinta yang paling tulus, mengantarkan langkah menuju Tanah Suci, sekaligus menjemput ridha Ilahi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang