Editor
KOMPAS.com-Ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan spiritual yang membutuhkan kesiapan mental, pengetahuan, dan ketenangan hati.
Di tengah kompleksitas pelaksanaan haji yang melibatkan jutaan jemaah, persiapan yang matang menjadi kunci agar ibadah dapat berjalan dengan lancar dan khusyuk.
Menjawab kebutuhan tersebut, hadir inovasi teknologi bernama “Salik Al-Mashaer” yang membantu jemaah mempersiapkan diri sebelum berangkat ke Tanah Suci.
Teknologi ini diperkenalkan dalam Umrah and Visit Forum 2026 sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas layanan ibadah haji dan umrah.
Baca juga: Kumpulan Doa Haji dari Rasulullah: Agar Selamat dan Raih Haji Mabrur
Platform “Salik Al-Mashaer” dikembangkan dengan memanfaatkan teknologi virtual reality yang mampu mensimulasikan kondisi nyata di lokasi-lokasi ibadah haji.
Melalui simulasi ini, jemaah dapat memahami alur perjalanan, mengenali lokasi penting, serta mempersiapkan diri menghadapi berbagai situasi yang mungkin terjadi.
Pendekatan ini membawa perubahan dalam cara belajar, dari yang sebelumnya hanya melalui teori menjadi pengalaman yang lebih nyata dan interaktif.
“Kami memindahkan peserta pelatihan dari pembelajaran pasif menjadi pengalaman langsung yang interaktif dalam lingkungan yang menyerupai kondisi nyata secara detail,” ujar Tareq Bukhait Al-Dafi, pendiri sekaligus CEO Al-Amad, dilansir dari Arab News.
Melalui teknologi ini, jemaah tidak hanya memahami tata cara ibadah secara teoritis, tetapi juga merasakan langsung bagaimana kondisi di lapangan.
Hal ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan kesiapan saat menjalankan ibadah.
Platform ini dirancang untuk membantu jemaah menavigasi perjalanan antar lokasi suci dengan lebih aman dan terarah.
Selain itu, sistem ini juga memberikan pelatihan kesiapsiagaan menghadapi situasi darurat, seperti kepadatan jemaah atau kondisi yang membutuhkan evakuasi.
Latihan yang dilakukan secara berulang dalam lingkungan yang aman membuat jemaah lebih siap secara mental.
Dengan kesiapan tersebut, diharapkan jemaah dapat menjalankan ibadah dengan lebih tenang dan fokus.
Baca juga: Layanan Haji Makin Canggih: Arab Saudi Perkuat Digitalisasi hingga AI untuk Kenyamanan Jemaah
“Salik Al-Mashaer” dirancang agar dapat digunakan oleh berbagai kalangan jemaah dari berbagai negara.
Platform ini mendukung beberapa bahasa, seperti Arab, Inggris, dan Urdu.
Selain itu, tersedia pula fitur khusus bagi penyandang gangguan pendengaran.
Hal ini menunjukkan bahwa pelayanan terhadap jemaah tidak hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga pada inklusivitas.
Platform ini juga dilengkapi dengan sistem analitik yang mampu mengukur kesiapan jemaah sebelum berangkat.
Dengan data tersebut, penyelenggara dapat memastikan bahwa jemaah telah memiliki pemahaman yang cukup.
“Hal ini berkontribusi langsung dalam meningkatkan kualitas layanan bagi para jemaah,” kata Al-Dafi.
Penggunaan teknologi dalam pelayanan ibadah ini menjadi bagian dari upaya yang lebih luas dalam meningkatkan kualitas pengalaman jemaah.
Langkah ini juga sejalan dengan visi besar untuk menghadirkan layanan haji yang lebih aman, nyaman, dan terorganisasi dengan baik.
Baca juga: Makkah Bakal Punya Bandara Internasional, Akses Jemaah Haji Bisa Lebih Cepat
Persiapan yang baik bukan hanya soal teknis perjalanan, tetapi juga bagian dari ikhtiar agar ibadah dapat dilakukan dengan lebih khusyuk.
Dengan memahami kondisi di lapangan sejak awal, jemaah dapat mengurangi kebingungan dan fokus pada makna ibadah.
Inovasi seperti “Salik Al-Mashaer” menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi sarana untuk memudahkan umat dalam beribadah.
Harapannya, setiap jemaah dapat menjalankan ibadah haji dengan lebih siap, aman, dan penuh ketenangan hati.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang